PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Ketidak Tahuan Kira


__ADS_3

Ayah mertuamu sudah aku amankan. Sekarang dia lagi bersama aku kamu fokus saja pada tugasmu sebagai mata-mata di sana apa kamu paham? Pesan Jessy yang dikirim pada Kira.


Jessy mengirim pesan pada Kira di mana ia sudah menghabisi nyawa Miguel. Setelah mengirim pesan pada Kira wanita tua itu menatap lekat-lekat tubuh Miguel yang sudah terbaring kaku di sana dan tidak bernyawa lagi.


"Haahahha....aku berhasil mengahibisinya. Aku menang...!" Teriak Jessy dengan air mata menangis lalu memeluk tubuh Miguel.


****


"Ibu apa kamu baik-baik saja?" Tanya Kira menatap dalam Reka.


Kira berucap ketika ia membawa makan siang untuk Reka di kamar. Sedangkan Bianco masih tidur pulas di kamar mereka.


Kira hanya mengukir senyuman tipis dari bibirnya. Sambil mencek kondisi Reka dengan tanganya yang satu menyentuh lembut kening Reka memastikan apakah tubuhnya panas atau tidak dan ibu mertuanya itu baik-baik saja atau tidak.


"Bagiamana keadaan mama apa sudah lebih baik? Tanya Kira pada Sherli yang mengurus Reka.


"Nyonya baik-baik saja nona. Kondisi nyonya kata dokter lebih baik dari sebelumnya," jelas Sherli.


Sherli menjelaskan kesehatan Reka pada menantunya itu di mana saat itu Sherli yang masuk dan membawa air hangat untuk Reka di nakas yang ada ditanganya.


Sedangkan Kira yang mendengar ucapan Sherli menganguk-angukan kepalanya pelan-pelan sekilas menatap Sherli lalu kembali dengan menatap Reka yang menatap diri Kira dengan sangat dalam.


Gadis yang baik. Mengapa kamu tidak mengatakan pada aku bahwa kamu adalah anak dari Sari dan Chandi, batin Reka.


Reka bergumam dalam hati dengan menatap sendu anak sahabat lamanya itu. Kira yang tersenyum bahagia menatap dalam Reka. Lalu gadis itu mulai menyuapi Reka dengan makanan yang sedari tadi dibawanya itu ada di tangan Kira.


Di sisi lain Bianco yang tadi sempat ketiduran di kamar karena lama menunggu Kira yang masih sibuk di dapur. Sebelumnya Bianco yang sudah makan sarapan yang disiapkan Kira. Namun sebelum menyantap sarapan pagi yang dibuat sang istri Bianco pergi ke dapur menghampiri istrinya. Lalu pria itu memeluk erat tubuh Kira yang membelakangi dirinyan di depan semua pelayan yang saat itu sedang membantu Kira memasak di dapur.

__ADS_1


Para pelayan yang melihat momen romantis antara Bianco dengan Kira menunduk kepala mereka dan saling menatap satu sama lain dengan senyuman masam-masam.


Flash back. Kembali ke situasi siang.


"Dimana dia? Sayang...!?" panggil Bianco yang mencari sang istri tidak ada di kamar.


Bianco yang bangun dengan tanganya langsung meera-raba tempat tidur mencari-cari Kira ternyata saat membuka kedua matanya ia pun kaget karena sang istri tidai ada di sampingnya. Lalu Bianco mengerutkan dahinya dan meraih ponselnya yang ada di nakas meja rias. Dan kemedian menghubungi pria tua yang sudah lama bekerja dengan dirinya.


"Halo tuan muda!" Sapa suara pria paruh baya di balik gengaman benda pipih yang ada di telinga Bianco. Suara itu adalah pak Sud.


"Di mana Kira?" Ketus Bianco bernada dingin dengan suara seraknya seperti pria pada umumnya yang baru habis bangun tidur.


Bianco yang mencari istrinya tidak ada di kamar. Sedikit kesal karena ini hari libur bagi Bianco dan ia ingin menghabiskan hari ini berdua dengan sang istri tapi sayang wanita yang sangat dicintai Bianco itu sangat menyibukkan dirinya dan hampir tidak punya waktu untuk suaminya. Gadis itu malah sibuk dengan urusannya sendiri dan membuat mud Bianco sedikit tidak baik hari itu juga.


"Nona ada di kamar nyonya besar tuan. Tadi nona mengantar makan siang untuk nyonya dan kata nona ingin merawat nyonya," jelas pak Sud lagi dibalik benda pipih yang ada ditelinga Bianco.


"Oh. Begitu..." jawab Bianco dan terdiak sebentar.


"Hallo tuan muda apa anda mendengar saya?" Tanya pak Sud yang sedikit cemas.


"Hem... aku mendengarmu. Baiklah. Terimakasih pak," jawab Bianco dengan nada kecewa.


"Tuttt...tutt...," pangilan berakhir.


Pak Sud hanya menarik nafasnya dalam-dalam saat mendengar bunyi suara panggilan yang dimatikan secara tiba-tiba oleh tuan mudanya itu.


Sepertinya tuan muda sedikit kecewa...hahhahaha dulu melirik nona saja tidak lah ini sudah bucin sendiri dengan nona muda. Tapi aku bahagia melihat ini, bisik pak Sud tersenyum ketika selesai bercakap dengan majikan mudanya itu di telpon.

__ADS_1


Di tempat lain Kira yang sudah selesai mengurus Reka. Kini gadis itu akan kembali ke kamar setelah memberi obat pada ibu mertuanya. Kira pun kembali melangkah pergi ke kamarnya. Saat Kira yang sudah sampai di depan pintu tanganya memegang pelan gagang pintu untuk dibukanya. Lalu Kira masuk dan kembali menutup pintu.


Ia melihat ke tempat tidur matanya sedikit terbuka lebar dan hidung Kira dikerutkan saat melihat Bianco yang sudah tidak ada di tempat tidur agar tidak mengangu Bianco. Kira yang ingin mencari Bianco tiba-tiba ia terdiam saat melihat bunyi air di kamar mandi.


Dia sedang mandi? Hem... aku kira ke mana dirinya, gumam Kira pelan dengan senyuman.


Setelah bergumam dalam hati Kira segera merapikan tempat tidur yang sedikit berantakan. Setelah itu gadis itu berdiri menatap langit-langit awan melalu jendela balkon kamar dengan senyuman kembang di bibirny. Kira menghirup udara angin yang sejuk di balkon kamar walau pikiran Kira masih pada keadaan sang adik. Mengingat bahwa ia telah melangar aturan Jessy ketika menyetujui menikah dengan Bianco.


Di tengah-tengan lamunan yang masih memikirkan keadaan Karin tiba-tiba tubuh Kira bagaikan tersengat listrik. Gadis itu kaget dan mata ia melihat ke perutnya di mana itu dua tangan kekar sedang memeluk dirinya dengan erat . Siapa lagi kalo bukan Bianco suami Kira.


Bianco yang baru habis mandi dan sudah ganti memang pakaian rumah yang sudah disiapkan Kira dan baju yang ia kenakan couple dengan sang istri. Ia sengaja pagi tadi tidak memakainya agar memancing kecemburuan Kira tapi sayang niat Bianco tidak tercapai.


"Lagi mikirin apa? Hem..." tanya Bianco sambil mendekatkan dagunya untuk dialaskan ditumpuan bahu Kira.


"Haa...apa yang sedang kamu lakukan?"


Tanya Kira kaget dengan senyuman bahagia.


"Memeluk istri aku yang super sibuk dan melupakan diriku." Tatap Bianco mencium pipi Kira.


"Aku merindukanmu. Terimakasih masih bertahan dengan aku sampai saat ini," tutur Bianco dengan mengeratkan pelukanya pada pingang Kira.


Ucapan Bianco pada Kira kali ini sangat dalam dengan tatapanya yang melirik sekilas ke Kira dalam pula yang tidak bisa diukur. Namun entah mengapa Kira sama sekali tidak menjawab ucapan Bianco gadis itu hanya tersenyum menatap dengan dalam pada suaminya. Lalu keduanya tersenyum bahagia dan menghirup udara segar sore itu dengan menatap lurus ke depan


Mungkin aku salah jika mencintaimu namun aku ingin melakukanya. Karena itu aku bertahan. Apa pun resikonya aku siap menerima, batin Kira tersenyum sambil melirik sebentar ke Bianco lalu Kira mendaratkan satu kecupan hangat di pipi Bianco.Yang membuat suaminya itu kaget dan menatap Kira dengan kebingungan.


Kira yang hanya tersenyum kembali mengalihkan tatapanya pada langit-langit biru di saja dengan sunset sore yang akan mulai kelihatan terbenam.

__ADS_1


Dibalik kebahagian itu Kira lupa bahwa hari itu tepat hari di mana Jessy menghabisi nyawa papa mertuanya ayah Bianco. Kira belum baca isi pesan masuk dari Jessy sejak tadi.


Bersambung.


__ADS_2