PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Kebimbangan


__ADS_3

Follow Ig: @Sildadelita99.


Halo semua Jangan lupa tinggalkan jejak disini ya...


kalian baca jam berapa? asal dari mana?


me: Kupang NTT.


Salam kenal semua🤗❤️❤️🙏🙏


***Yuk saling tanya umur, kalian berapa usianya?


komen spam kasih banyak dong biar aku semangat nulisnya


Satu kata untuk Bianco?


satu kata untuk Kira?


satu kata untuk Kevin?


satu kata untuk Saskia?


satu kata untuk Karin?


Silakan tinggalkan enek-enek tentang


cerita ini tanggapan kalian dong?


Oh ya Menurut kalian cerita ini mau diapakan happy ending?


atau Sad Ending??


Spam kasih banyak ya...


Happy Reading Guys...


*****


"Cukup Saskia!" menjerit dengan emosi.


"Bianco."

__ADS_1


Saskia memangil nama Bianco dengan terkejut karena ini pertama kali bagi Saskia mendengar nada suara tinggi dari Bianco dan tatapan marah Bianco.


"Kamu tahu ini bukan masalah suka atau membela tapi cobalah sedikit kamu ada di posisi aku. Keadaan mama kamu yang baik-baik saja, dalam semalam ia menjadi seorang cacat."


"Bagaimana..." suara Bianco terjeda


"Bagaimana aku bisa diam sedangkan Ibuku cacat dalam sekejap." lanjut Bianco.


"Sekali saja kamu mengertilah posisiku," seru Bianco menatap tajam Saskia.


"Aku selalu berusaha memahami, Aku mencoba mengikuti rencanamu walau aku sakit hati melihatmu memasang cincin di tangan gadis lain hiks..., " berusaha menahan tangisnya, Saskia.


"Aku pikir aku salah dengan pemikiran bahwa kamu menyukai Kira. Namun, aku salah hari ini kamu membuktikan bahwa kamu menyukia Dia."


Tidak terasa Saskia berucap dan ia pun menangis dengan ucapanya itu, kini air mata yang jatuh dari mata Saskia bukanlah air mata palsu melainkan air mata sunguhan, entah mengapa hati Saskia sangat terluka saat mendengar ucapanya yang mengatakan bahwa Bianco sudah menyukai Kira.


Sedangkan Bianco berusaha memegang kedua pundak Saskia untuk menjelaskan maksudnya namun tetap saja Saskia keras kepala dan melangkah pergi meningalakan Bianco. Pria itu menarik nafas dalam-dalam saat melihat Saskia yang pergi dengan tangisan, Kira menatap Bianco dengan dalam.


Entah mengapa hati Bianco kini berada di kebimbangan, di sisi lain ia ingin memiliki Saskia namun di sisi lain hatinya tidak ingin kehilangan Kira.


Entah perasaan apa ini? Mengapa jadi seperti ini... batin Bianco saat menatap Kira yang mengurus Reka dengan senyuman di sana.


Mengapa demi cintamu kamu rela mengorbankan nyawa ayah dan ibu dengan sia-sia begitu saja? Cihhh aku sungguh membencimu Kira sangat membencimu, batin Karin.


Karin bergumam saat ia ingin melangkah pergi menyusul Saskia namun ia menghentikan kakinya untuk menatap sebentar Kira kakak kadung Karin yang sedang mengurus Reka. Ada rasa iri dan benci begitu membara di hati Karin. Gadis itu menatap Kira dengan air mata yang mengalir pelan dari kedua bola matanya.


Setelah menatap Kira beberapa detik Karin segera kembali menutup topinya dan memutar tubuhnya secepatnya saat Kira menatapnya dengan bingung. Karin pun melangkahkan kakiny pergi meningalakan Kira dan menyusul Saskia dengan sikap bencinya pada kakak kandungnya itu.


****


Malam telah tiba semua pekerjaan hari ini berjalan dengan baik walau pagi hari begitu buruk bagi Kira. Kira yang sepanjang hari mengurus Reka begitu lelah namun gadis itu masih berusaha kuat menyelesaikan tanggung jawabnya.


Sedangkan Bianco ia pergi ke kantor setelah keadan di rumah sudah cukup baik. Ada rasa bersalah di hati Bianco untuk Saskia namun ia juga merasa bersalah pada Kira.


Bianco yang hari ini sibuk dengan pekerjan kantor dan jadwalnya yang sangat padat membuatnya sangat sibuk di kantor hingga larut malam. Setelah semua pekerjaan perusahaanya berakhir Bianco duduk di ruangnya yaitu presdir Bianco Bridges. Dengan banyak pikiran di kepalanya, Avim memberitahu Bianco bahwa semua jadwalnya hari ini sudah selesai.


Bianco duduk dengan membelakangi Avim sambil menghadap ke depan rak buku-buku dengan pikiran hari ini yang memenuhi kepalanya. Sedangkan Kevin ditugaskan Bianco untuk menutup mulut media tentang kelumpuhan Reka. Ya seperti yang diketahui bahwa keluarga Bridges adalah keluarga Konglomerat nomor satu di kota Konglomerat.


Mereka sangat terkenal bahkan media memang selalu mencari-cari kesalahan Bridges namun sampai sekarang media selalu gagal dalam informasi negatif Bridges. Yang mereka dapat adalah selalu berita positif mengenai perusahaan Bridges.


Bianco duduk sambil memikirkan banyak hal yang terjadi Avim paham akan apa yang sedang terjadi hari ini, namun Avim membalas sebuah pesan pada mata-mata bodyguardnya yang mengkawal Kevin untuk selalu memantau semua yang Kevin lakukan.

__ADS_1


Catat semua orang yang ia temui dan jangan sampai kamu ketahuan, jangan lupa untuk selalu kabari aku jika ada yang mencurigakan, balas Avim pada pesan dari mata-matanya.


Kali ini aku yang akan membuktikan bahwa kamu layak untuk tuan muda atau tidak. Aku harap semua akan baiak-baik saja, bungkam Avim.


Avim yang bergumam dalam hati masih menatap Bianco dengan kekewatiran, Avim tahu betul seperti apa sifat Bianco kalo lagi dalam keadaan seperti itu, berarti dia dalam mud yang kurang baik dan banyak pikiran.


Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan tuan muda? hari ini ia tidak seperti biasanya, bisik Avim.


Aku minta maaf atas sikapku tadi pagi maaf ' kan, aku Kia.


Sebuah pesan singkat yang ditulis Bianco untuk Saskia.


Di sisi lain Saskia sedang duduk diam di kamarApartemen ia tidak mau pulang karena tidak ingin menjawab pertanyaan mamanya mengenai rencana pembunuhan pada Reka yang gagal. Saskia meraih ponselnya yang ada di atas meja saat mendengar nada pesan masuk, gadis itu mulai membaca isi pesan dari Bianco, dengan kesal Saskia membuang ponselnya ke kasur karena ia masih kesal dengan Bianco.


*****


~ Rumah Bridges~


Kira sudah menyiapkan makan malam di atas meja yang dibantu oleh pak Sud dan beberapa pelayan lainya. Sementara menu makan malam disajikan dengan rapi di atas meja dengan suasana yang sunyi hanya terdengar suara piring, sendok dan garpu. Tiba-tiba dering telpon rumah memecahkan keheningan di ruang makan.


Pak Sud meletakan piring yang sementara dipegangnya di atas meja dengan pelan, dan pergi ke tempat telpon rumah untuk dijawabnya


"Hello..." sapa pak Sud saat menempelkan telpon rumah telinganya.


"Ini aku!"


"Tuan muda...?" kaget pak Sud sambil menjawab suara Bianco dibalik telpon yang masih menempel telinganya.


"Ada yang bisa aku bantu tuan?" bertanya dengan suara yang sopan.


"Malam ini aku tidak pulang Karena banyak urusan di kantor. beritahu Kira bahwa tidak perlu menunggu aku atau pun menyiapkan makan malam dan jangan pernah menunggu aku."


Ucap Bianco dibalik telpon rumah dengan penuh tekanan nada suaranya pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Tapi tuan....tuttttt...tuttt," ucapan pak terputus karena telpon sudah dimatikan oleh Bianco.


Wajah pak Sud berubah seketika saat matanya menatap mata Kira. Gadis itu menatap pak Sud dengan penuh kecurigaan. Pria tua itu menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkanya pelan-pelan lalu ia menguatkan dirinya untuk memberitahu Kira.


Sebenarnya lelaki tua ini sangat kasihan pada gadis muda yang ada di hadapanya karena pak Sud sudah mengangap Kira sebagai putrinya sendiri. Oleh sebab itu ia sangat kasihan dengan Kira karena pak sud tahu selama pernikahan antara Bianco dan gadis itu selama ini bahwa setiap masakan dan makanan yang dibuatnya tidak pernah dicicipi oleh Bianco.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2