
"Nona apa anda baik-baik saja?" Tanya pak Sud kwatir saat melihat Kira yang tiba-tiba sadar dan langsung berteriak.
Kira yang masih menarik nafasnya sambil menghapus air matanya dengan keringat dingin di dahinya yang membuat wajahnya sedikit pucat.
"Ah..aku baik-baik saja pak. Di mana Bianco?" Tanya Kira sambil menatap pak Sud yang sedang melihatnya dengan wajah yang cemas.
"Tuan muda sedang ada urusan penting di luar. Kata tuan muda nona harus makan bubur ayam ini karena dari pagi nona belum makan sama sekali," papar pak Sud menjelaskan pada Kira sesuai apa yang dipesan oleh Bianco sebelum ia pergi.
Kira yang mendengar ucapan pak Sud melihat bubur ayam yang sudah dingin di atas nakas laci tv sana. Ia pun hanya mengangukan kepalanya pelan dan pak Sud mengambil bubur ayam itu untuk mau disuapin ke Kira namun gadis itu menolak. Ia sendiri yang meraih sendok dari mangkok untuk makan lahap bubur tersebut.
"Biarkan aku saja pak yang melakukanya sendiri, terimakasih untuk perhatian bapak," ucap Kira tersenyum tulus pada pak Sud.
Pak Sud yang mendengar ucapan Kira memahami maksud gadis itu lalu ia pun mengundurkan dirinya ke belakang jauh dari Kira dengan tubuh yang membungbungkuk ke kabawah.
Seandainya bukan kamu yang membunuh nyonya Reka maka aku tidak akan sebenci ini padamu nona muda. Mengapa kamu tega membunuh nyonya besar? Yang sangat baik padamu. Apa sebenarnya motif dibalik kamu menikahi tuan muda, batin pak Sud saat melihat Kira yang sedang makan bubur ayam dengan sangat lahap.
Setelah Kira menyelesaikan makanannua ia pun meminum obat yang diberikan oleh pak Sud dari dokter. Sambil duduk menyandarkan pungung belakangnya ke bantal yang ditempelkan pada leher kamar di belakangnya sebagai alas sofa.
Di sisi lain Sherli yang sedang menatap Kira yang sudah siuman dengan tatapan sangat tajam. Dan mengukir senyumanya saat melangkah menghampiri Kira yang masih duduk tenang si sana.
__ADS_1
"Selamat ya nona muda sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu," beber Sherli tersenyum sambil menyodorkan tanganya pada Kira yang mengerutkan dahinya menatap bingung maksud ucapan Sherli.
"Terimakasih. Maaf maksud kamu Sher?" Tanya Kira kerutkan dahinya dengan alis sedikit diangkat menatap Sherli bingung.
"Nona positif hamil. Kehamilan nona sudah berjalan sebulan tadi nona pingsan tuan muda memangil dokter Rian memeriksa kondisi nona dan kata dokter Rian nona sedang mengandung," jelas Sherli tersenyum puas dengan apa yang ia jelaskan namun dalam hatinya sedang menanti pertunjukan yang sebentar lagi akan heboh.
Dengan kebenaran bahwa kamu adalah seorang pembunuh mertuamu sendiri dan sebagai gadis yang mengandung anak Bianco pria yang orang tuanya kamu habisi wao... aku sangat menantikan hal ini, batin Sherli di tengah-tengah senyumanya pada Kira.
"Apa...? hamil? Benarkah...? Ini bukan mimpi bukan?" Tanya Kira dengan air mata haru mengalir dari pipinya saking bahagianya dirinya menatap Sherli dengan wajah yang sangat bahagia.
"Benar nona untuk apa aku berbohong," seru Sherli balik.
Keduanya yang saling tersenyum satu sama lain dalam pelukan hangat itu. Sedangkan Pak Sud hanya melihat moment bahagia ini karena sebentar lagi akan ada kehebohan pada hubungan Kira dengan tuan muda.
Dari awal akulah yang berharap bahwa kamu adalah odoh tuan muda namun saat aku tahu kebenaran bahwa yang melumpuhkan nyonya dan membunuhnya adalah kamu maka aku yang akan mengakhiri hubungan ini, bungkam pak Mud masih kesal akan kebenaran tentang Kira.
****
Di sisi lain di tengah-tengah ungkapan rahasia Kira yang diketahui oleh Marcio yang diungkapkan pada Bianco. Membuat pria itu jatuh tersungkur lemas dan semua tubuhnya kegementaran karena kaget dan syok berat. Ia berusaha untuk mencerna apa yang baru ia dengar namun kenyataanya Kiralah yang membunuh ibu kandungnya sendiri pada hal ini semua hanyalah manipulasi dari Sherli dan Karin untuk menghancurkan rumah tanga mereka.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin dia tega menghianati cinta aku padanya...bagaimana mungkin dia menghancurkan keluarga aku seperti ini...hiks...aaa.... teganya dirimu..." tangis Bianco dengan kekecewaan yang sangat amat dalam pada Kira sambil memukul-mukul dirinya sendirj di bawah sana.
Lalu Bianco meraih ponsel Marcio ia menekan tombol panggilan pada nomor yang baru diberikan oleh Marcio padanya. tidak lama kemudian ponsel Kira yang masih ada pada Bianco bergetardi dalam saku celananya. Pria itu mengambil ponsel Kira yang menuliskan pangilan masuk dari nomor tidak kenal yang tidak lain adalah nomor Marcio sendiri.
"Mengapa...? Mengapa.... harus kamu...mengapa bukan orang lain...hiks" jerit Bianco dengan tangisan keras di bawah sana sambil mendaratkan pukulan demi pukulan dari tanganya yang keras pada tembok terowongan hingga tanganya berdarah semua. Avim dan Marcio yang melihatnya menghentikan apa yang dilakukan Bianco sambil berusaha menenangkan emosi Bianco agar tidak melukai dirinya sendiri.
Di sela-sela kekesalan Bianco yang masih membara api pria itu mendapat kabar dari pak Sud bahwa Kira telah sadarkan diri dan ia sudah melahap makan habis bubur. Bianco bukan merasa bahagia ia malah menjawab dengan ucapan yang membuat pak Sud menjadi bingung sendiri.
"Oh begitu. Tidak penting buat aku dia mau makan atau tidak itu bukan urusanku apa kamu paham," jawab kasar Bianco dengan emosi dan sikap dinginya seperti dulu pada benda pipih yang ada ditelinganya.
"Apa tuan...? Tut...tut...," Bunyi ponsel pak sud pada Bianco yang langsung memutuskan telpon.
Mengapa tuan muda bersikap aneh seperti ini? Bukanya dia sendiri yang berpesan untuk mengabari dirinya secepat mungkin jika Kira sadar. Apa tuan muda mengetahui kebenaran kematian nyonya Reka?, bisik pak Sud masih bingung.
**** skip...
Kira yang sudah kembali pulih walau belum pulih total melangkah mondar-mandir di kamar dekat sofa yang dulu ia gunakan sebagai tempat tidurnya ke sana kemari seperti orang langlinglung yang menunggu Bianco. Ia menelpon Bianco mengunkan telpon rumah namun suaminya sama sekali tidak menjawab panggilanya. Karena saat itu pria itu sedang minum sambil ditemani oleh para wanita di sebuah klub malam saking sters dirinya akan kenyataan pahit yang harus ia terima bahwa istrinya sekaligus gadis yang sangat dicintainya ternyata adalah mata-mata dalam keluarganya sendiri dan orang yang membunuh orang tuanya sendiri.
Bersambung.
__ADS_1