PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Mencari Tahu


__ADS_3

"Sayang...!" Panggil Bianco saat sudah kembali ke rumah.


Ya setelah menyelesaikan semua tugasnya untuk mencari tahu siapa yang membantu mantan kekasih ayahnya 10 tahun lalu dalam pembunuhan Miguel. Bianco pun kembali ke rumah dan saat di depan pintu ia pun lansung memangi nama Kira.


Para pelayan yang melihat hal itu melihat satu sama lain lalu mereka kembali menatap Bianco dengan kecemasan yang ada di wajah mereka semua masing-masing. Bianco yang melihat kecemasan wajah para pelayan mengerutkan dahinya lalu memutar kakinya menghadapan salah satu pelayan yang sengaja menundukan kepalanya ke bawah karena ketakutan.


"Apa ada sesuatu yang terjadi? Mengapa kamu menatap aku dengan wajah yang cemas?" Tanya Bianco menatap pelayan itu dan pelayan yang lain.


"Tidak ada tuan. Saya hanya mengagumi ketampananan tuan muda," jawab pelayan tersebut.


"Berani sekali kamu berbicara dengan saya tanpa menatap diri saya. Apa kamu lupa saya paling tidak suka jika lawan bicara saya menunduk.. tatap aku!" Emosi Bianco.


Bianco berucap dengan emosi sambil menatap lekat-lekat pelayan itu. Namun ia masih bertanya dengan hal yang sama.


"Saya tanya sekali lagi apa yang kamu pikirkan? Mengapa wajahmu mengatakan hal yang menganjal di hatimu..." Tanya Bianco ulang.


Bianco bertanya dengan pertanyaan yang sama pak Sud yang melihat hal itu karena tadi ia masih sibuk mengururs Reka jadi saat ia turun ke bawah lantai satu ia pun kaget dan segera memberitahu yang sebenarnya pada Bianco. Karena ia tahu seperti apa sifat tuan mudanya itu.


" Apa kamu tuli? Mengapa tidak..." ucapan Bianco terhenti.


"Maaf tuan muda anda bisa bertanya hal itu pada saya," pinta pak Sud memotong ucapan Bianco.


Bianco yang sedikit emosi karena ia paling tidak suka jika ucapanya di potong oleh orang lain saat dirinya sedang berbicara. Awalnya ia menongkak kuat rahang giginya dan menatap emosi ke suara yang sudah berani memotong ucapanya. Namun saat ia berbalik melihat ternyata suara itu adalah pak Sud pria itu pun sekejap tatapan emosinya berubah dengan dingin.


"Apa maksud kamu pak Sud?" Tanya Bianco langsung pada inti masalahnya. Dan berdiri dengan tegak menatap dingin pak Sud dengan kedua tanganya disembunyikan di saku celananua. Sedangkan pelayan yang tadi ditanya oleh Bianco segera berpindah tempat pada tempat yang pastinya jauh dari tatapan Bianco.


"Maaf tuan muda nona muda sedang pergi dari pagi dan belum pulang," jelas pak Sud menatap Bianco yang memasang wajah dinginya.


"Pergi? Ke mana?" Tanya Bianco mengangkat alisnya.


Bianco bertanya dengan nada datar dan sikap dingin menatap pak Sud yang ada di hadapanya itu.

__ADS_1


"Ya tuan muda. Saya tidak tahu tuan kemana nona pergi. Dia pergi dengan sangat buru-buru," ujar pak Sud tidak tahu.


"Apa maksud kamu tidak tahu pak Sud. Aku tugaskan kamu jadi kepala pelayan bukan untuk bersantai-santai," papar Bianco emosi.


"Maafkan saya tuan muda. Tapi saya benar-benar tidak tahu tuan. Nona pergi mengunakan mobil pribadi tanpa driver saya bertanya pada nona tapi bliau mengiraukan pertanyaan saya tuan muda."


Kemana Kira pergi. Tidak biasanya dia pergi tanpa pamit pada pak Sud dan aku, batin Bianco bingung.


Bianco yang bergumam dalam hati menatap pak Sud dan meminta pak Sud untuk pergi dengan pelayan yang lainnya untuk bubar. Setelah pak Sud dan para pelayan sudah pergi meningalkan ruang keluarga Bianco pun memangil Avim untuk mencari tahu ke mana Kira pergi. Bertemu dengan siapa.


"Pastikan kali jangan sampai ketahuan sama Kira aku hanya tidak ingin dia salah paham dengan hal itu," tutur Bianco dengan nada dinginnya.


Bianco berucap dengan nada dinginya sambil menatap lekat-lekat sekertaris pribadinya itu. Avim yang mengerti dengan ucapan Bianco ia pun mengangukan kepalanya dengan tatapan dinginya. Ia tahu maksud Bianco adalah mencari tahu lewat cctv rumah pagi ini dan setelah itu melalui gps pada ponsel Kira.


"Baik tua muda saya paham," ucap Avim memahami maksud Bianco.


Selama 20 menit Bianco bercakap dengan Avim. Setelah berdiskusi dengan Avim Bianco meminta Avim untuk pergi dan mulai mengerjakan tugasnya. Sedangkan Bianco, pria itu kembali melangkah naik ke anakan tangga menuju kamarnya.


"Apa kamu tuli Karin? Berani sekali kamu menantang perintah aku...!" Geram Jessy menatap emosi Karin.


Jessy berteriak pada Karin dengan nada tingginya karena kecewa dengan sikap Karin yang mengabaikan ucapanya saat meminta Karin untuk tidak memberitahu Kira siapa Karin sebenarnya selama ini. Namun gadis itu menghiraukan ucapan Jessy dan tetap memberitahu kakaknya yang sebenarnya.


"Maafkan aku nyonya. Aku salah," ungkap Karin bersalah.


Kira yang mendengar ucapan Karin meminta maaf pada Jessy meremas jari-jemarinya dengan sangat kuat dan menongkak kuat rahang giginya hingga tulang pipihnya terbentuk. Gadis itu bangkit berdiri menatap emosi Jessy tanpa berkedip sambil memegang pistol di tanganya.


"Berani sekali kamu menatap aku seperti itu gadis sampah!" Erang Jessy menatap emosi Kira dengan tatapan tajam yang tidak kalah dari Kira tanpa berkedip sedikit pun.


"Beraninya kamu menyalahkan dia karena memberitahu aku. Siapa kamu Jessy...!" Teriak Kira dengan nada tinggi menongak kuat pistol ke arah Jessy lagi.


Jessy yang melihat emosi Kira bukannya ketakutan ia malah tertawa dengan suara yang menakutkan.

__ADS_1


"Hahahahhha.... kamu pikir aku takut!" Tawa Jessy meremehkan amarah Kira.


Namun tiba-tiba ia berhenti tertawa dan kembali menatap tajam Kira dengan mengambil ponsel di tanganya dan tersenyum licik pada Kira.


"Semua suara rekamanmu ada di ponsel ini. Kamu tahu jika rekaman suaramu ini aku ungkap ke media maka yang akan hancur sekarang adalah Bianco suamimu. Orang yang sangat mempercayaimu," ancam Jessy.


"Apa...? Wanita licik... prutt...." ucap Kira dan langsung melepaskan satu peluru keluar dari pistol yang arahnya menuju Jessy.


"Nyonya awas....!" Teriak Karin yang berlari dengan cepat ke arah Jessy.


"Prutt..." peluri mengenai bahu seorang gadis.


"Karin...!" Panggil Kira lemas.


Deg...


Deg...


Detak jantung Kira dan semua orang yang ada di sana saat menyaksikan kejadian itu.


"Beraninya dirimu menembak aku...!" Geram Jessy penuh emosi membara pada Kira.


Jessy berucap dengan emosi sambil menatap tajam Kira yang sudah lemas dan kembali jatuh tersungkur ke lantai untuk kedua kalinya.


Sedangkan gadis yang saat ini duduk seperti orang yang kehilangan harapan menangis dengan sejadi-jadinya akan apa yang terjadi hari ini. Dengan tanganya sendiri ia menembak kuat Jessy namun peluru itu malah mengenai tubuh Karin.


Di sisi lain Saskia tertawa dengan sangat bahagia saat menonton pertengkaran yang seru dari Jessy ke Kira. Kira ke Jessy dan ada pemanis Karin.


itu sangat seru... aku menikmatinya, batin Saskia.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2