
Avim yang baru saja pulang dari rumah Bianco dengan santai menikmati setiap musik yang diputarnya. Ia pun mengikuti iringan musik dengan mengoyangkan tubuhnya.
Musik barat adalah salah satu musik kesukaan Avim. Ya menyukai musik yang bisa menyegarkan otak saat-saat jenuh atau di situasi yang kecau Avim paling sering mendengar musik barat yang enak di dengar sebut saja sameone you loved, adalah lagu kesukaan Avim.
Ditengah-tengah Avim yang mendengar musik dari someone you loved dari Lewis Capaldai sambil Ia menatap ke luar dengan menghirup udara segar malam itu.
Tiba-tiba suara musik terhenti saat Avim melihat seorang wanita sedang berdiri di tebing jembatan yang ingin melakukan bunuh diri. Wanita itu adalah Kinta. Avim dengan cepat memarkir mobilnya dipingiran jalan raya lalu ke luar dengan cepat dari mobil. Tangan Avim langsung menarik tangan Kinta dengan keras.
Hingga tubuh gadis itu jatuh bersama Avim di atas tumpuan aspal jalan raya dengan posisi Avim di bawah dan Kinta di atas tubuh tepat dibidan dada Avim. Pria itu menutup mata mengucapkan syukur karena Ia berhasil menyelamatkan wanita yang ingin mengakhiri hidupnya. Wanita itu tidak lain adalah Kinta.
Brukkk... suara jatuh Avim dengan Kinta
"Ahh..." suara keduanya bersamaan saat tubuh mereka menempel di aspal meringis kesakitan.
"Mengapa anda menyelamatkan saya. Biarkan aku mati hidup di dunia ini sudah tidak ada arti bagi aku...hiks...," ucap Kinta sambil menangis dengan keras di hadapan Avim saat ia bangun dan berdiri tegak menatap Avim yang juga ikut bangun sambil merapikan bajunya yang sedikit kusut itu.
"Apa kamu sudah tidak waras? Kamu tahu mungkin gampang bagimu mengakhiri hidup namun tidak bagi mereka yang dekat dengamu. Aku tidak tahu masalah apa yang kamu hadapi. Tapi seberat apa masalah itu jangan lari namun hadapilah dengan tegar."
"Apa...?" Tanya Kinta dengan bingung.
Saat mendengar ucapan Avim yang tidak jelas karena suara hujan yang deras membasahi keduanya ditengah-tengah jalan raya umum.
__ADS_1
Laki-laki yang ada di hadapan Kinta tidak peduli dengan pertanyaan Kinta ia terus melanjutkan ucapanya sambil menatap sedikit emosi dengan Kinta.
"Mengakhiri hidup memang mudah namun tidak bagi mereka yang kehilangan kamu. Butuh waktu lama untuk bisa mengobati luka itu, bahkan mereka akan merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan dirimu. Sepanjang hidup mereka dipenuhi dengan rasa bersalah dan penyesalan," tutur Avim dengan mata berkaca-kaca.
" Tapi faktanya bahwa tidak akan ada yang merasa kehilangan aku. Mereka mungkin lebih bersyukur dengan tiadanya diriku yang mempermalukan mereka."
"Wanita yang tidak pantas untuk ditangisi, gadis yang tidak pantas untuk di kenang, biarkan aku pergi dengan ini tidak akan ada yang terluka atau pun merasa malu," rintih Kinta dengan tangisan yang tidak bisa ia tahan.
Kinta menangis dengan keras sambil menundukan wajahnya ke bawah menatap aspal jalan sedangkan Avim masih emosi sambil menatap gadis di hadapanya itu dengan tubuh yang basah kuyup karena keguyuran hujan lebat yang sedang terjadi di kota Konglomerat.
"Apa kamu pernah mendengarkan kata-kata itu langsung dari bibir mereka? Atau apakah mereka mengatakan hal itu padamu?" Tanya Avim masih dengan nada rendah.
"Jika tidak maka berhentilah menyimpulkan sesuatu yang belum tentu itu benar. Walau pun ada yang berkata seperti itu tetap saja tindakan kamu ini salah tidak benar. Seberat apa masalah yang kamu hadapi."
Avim berseru dengan nada yang sedikit keras di saat bersamaan Kira yang mendengarnya hanya bisa menangis tanpa henti. Gadis itu tidak tahu harus berbuat apa lagi. Karena hidupnya kini hancur orang yang ia percaya selama ini menghancurkan hidup Kinta.
Masa depanya telah hancur hanya karena cinta yang membutakan dirinya. Tangisan Kinta itu membuat Avim menatapnya dengan iba. Avim melangkahkan kakinya ke depan mendekatkan tubuhnya ke arah Kinta kedua tanganya langsung memeluk wanita yang habis ia selamatkan itu dibawah hujan yang deras membasahi keduanya. Wanita yang saat ini sangat terpuruk ia bisa merasakan keterpurukan gadis itu. Tangan Avim membelai lembut rambut Kinta dan yang satu memukul lembut pundak gadis itu saat ia memeluk tubuh Kinta. Ia seakan memberi kekuatan pada Kinta.
Kinta yang dipeluk Avim menumpahkan tangisnya di pelukan pria yang baru ia kenal itu. Tangisan yang selalu membuat dirinya tangis
Harusnya pelukan seperti ini darimu Sagas, bukan orang lain. Mengapa kamu tega melakukan ini semua pada aku Sagas.
__ADS_1
Aku tidak pernah salah padamu. Aku mencintaimu apakah itu salah? Sepenting itu Rani bagimu sehingga kamu tega menghancurkan hidupku.
Betapa bodohnya aku percaya dengan semua rayuan gombalanmu, betapa bodohnya aku membiarkan dirimu merasakan tubuhku hanya karena cinta yang membutakan aku itu...hiks...., bungkam Kinta dengan tangis yang deras.
Avim dan Kinta yang masih berpelukan ditengah deru hujan yang deras dengan Kinta yang masih menangis dibawah sana. Hingga akhirnya Avim membawa gadis yang baru dikenalnya itu pergi bersama ke apertemen Avim.
****
Di sisi lain Sagas dan geng Rani berpesta pora merayakan keberhasilan mereka yang menghancurkan nasib Kinta. Perayaan penuh kemenangan itu penuh suka cita dan kebahagian. Namun itu tidak dengan Sagas. Pria itu duduk menyendiri dengan banyak pikiran dikepalanya dan semua pikiran itu adalah Kinta. Sagas merasa sangat bersalah pada sahabat kecilnya itu namun di satu sisi ia sangat mencintai Rani ia tidak mau kehilangan Rani dalam hidupnya.
Maaf, 'kan aku Kinta aku tahu diriku salah pada dirimu, namun dibandingkan kamu aku lebih mencintai Rani. Dia adalah nafas aku dan hidupku jika aku kehilangan dia maka hidupku tidak ada artinya bagi aku, Avim berbisik menatap dalam Rani yang tengah berjoget di sana dengan kompolotan para teman-temanya.
**** ( Rumah Bianco).
Sinaran mentari di ufuk Timor terbit dengan sinarnya yang pelan-pelan mulai menerang. Mentari pagi menembus jendela kamar Bianco kini mengenai tubuh dua orang yang sedang tertidur pulas. Mereka semalam menikmati kisa percintaan mereka. Di mana tubuh keduanya masih diselimuti dengan selimut hangat.
Dengan posisi tudur sang pria di posisi terlentang menatap langit-langit kamar plafon rumah dan satu tangannya melingkar di tubuh sang wanita yang posisi tidurnya di atas tumpuan bidan dadanya sebagai alas bantal kepalanya. Mereka adalah Bianco dan Kira. Ya semalam di tengah hujan yang deras di kota Konglomerat. Dua sejoli itu untuk pertama kalinya mereka melakukan hubungan cinta mereka sebagai malam pertama mereka. Malam yang penuh cinta tengah dinikmati keduanya selayaknya suami dan istri.
"Sebenarnya siapa yang merebut mahkotamu sebelum menikah dengan aku Kira?" Bianco menatap dalam Kira.
Bersambung.
__ADS_1
Penasaran?
lanjut baca terus ya... selamat menbaca...