PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Cerai


__ADS_3

"Tetapkan pernikahan aku dengan Sherli besok. Buatlah pernikahan ini menjadi pernikahan yang paling mewah dari sebelumnya," ucap Bianco pada Avim yang bingung sendiri akan ucapan Bianco.


"Tapi tuan... besok adalah hari persidangan untuk nona muda di pengadilan dan jika benar nona bersalah maka ia akan dijatuhkan hukuman 12 tahun penjara peraturan yang ditetapkan."


"Bukankah seharusnya ini adalah kesempatan kita untuk membuktikan bahwa nona tidak bersalah," jawab Avim mengingatkan Bianco.


"Kami sudah bercerai. Aku sedah menandatangani perceraiaan kami dan tinggal dia saja yang belum tandatangani," seru Bianco pada Avim.


"Apa? Cerai...? Tuan..." ucapan Avim dicelah kembali oleh Bianco.


"Hentikan omong kosongmu itu Avim. Kamu bekerja dengan aku bukan dengan Kira apa kamu paham!!!" tegas Bianco pada Avim.


"Ini adalah masalah rumah tangga aku. Dia sendiri yang menginkan perceraian ini. Jadi lakukan saja apa yang aku perintahkan tanpa mengoceh atau membantah perintahku apa kamu mengerti?" teriak Bianco masih dengan nada tinggi pada Avim sekertaris pribadinya itu.


"Tapi tuan muda..."


"AVIM!!!" jerit Bianco dengan suara keras dan emosi pada Avim hingga suaranya memenuhi ruang kerjanya.


"Sudah aku bilang jangan banyak tanya kamu hanyalah bawahan aku bukan siapa-siapa aku," ungkap Bianco dengan tegas dan tatapan sorot mata yang menajam pada Avim.


Avim yang mendengar ucapan Bianco terdiam sambil menundukan kepalanya dengan banyak pikiran.


"Baiklah jika itu yang tuan muda mau. Aku tidak bisa maksa akan kehendak tuan tapi satu hal yang harus tuan muda tahu penyesalan selalu datang pada akhirnya," papar Avim memundurkan langkahan kakinya ke belakang untuk pergi.


Sedangkan Bianco yang masih emosi berdiri membelakangi Avim tanpa peduli dengan kata-kata Avim ia malah menghiraukan ucapan Avim.


Dia yang ingin bercerai dengan aku lalu untuk apa aku pertahanin pernikahan ini, bungkam Bianco kesal yang langsung menghancurkan satu vas bunga yang ada di meja kerjanya denham wajah penuh emosi.


****


Di sisi lain Karin sangat kaget mendengar berita pagi yang mengatakan bahwa kakaknya besok akan disidangkan di pengadilan. Semuai ini terjadi karena keluarga korban ingin Kira mendapatkan ganjaran hukuman akan perbuatanya sendiri dengan semua bukti-bukti yang sudah ditemukan dan dikumpulkan oleh keluarga korban. Karin sadae kemarin ia baru saja bertemu secara langsung dengan Bianco di kantor polisi.

__ADS_1


Apa karena ini kemarin dia pergi kantor polisi? bungkam Karin mengingat kejadian kemarin.


"Apa maksudmu Kevin kalo Kira akan disidangkan?" tanya Karin pada Kevin yang kebetulan sudah mengetahui siapa sebenarnya Kira yang tidak lain adalah kakak kandung Karin.


"Aku mendapatkan berita itu tadi pagi dan aku juga kaget tidak menyangka bahwa Bianco setega itu sama istrinya sendiri," ucap Kevin tidak percaya akan semua ini.


"Yang namanya hati kita tidak tahu kapan waktunya berubah. Sekarang aku akan mencari cara untuk membuktikan bahwa kakak tidak bersalah," jawab Karin berpikir sejenak mencari cara bagaiman ide yang tepat untuk menyelamatkan kakaknya.


"Satu-satunya cara adalah menyerahkan diri aku pada polisi," lirih Karin mengangukan kepalanya dengan ide yang tiba-tiba langsung muncul dibenaknya.


"Apa maksudmu Karin?" tanya Kevin bingung.


"Satu-satunya cara untuk menyelamatkan kakak aku adalah menyerahkan diriku Vim. Aku tidak bisa meli..." ucapan Karin terhenti ketika Kevin menyela ucapanya.


"Apa kamu bodoh? Jika kamu menyerahkan diri maka yang kena dampak bukan kamu saja tapi kakakmu juga bagaimana dia jadi membencimu?" seru Kevin menolak ide dari Karin.


"Lalu menurutmu aku harus bagaimana? Hanya malam ini aku punya waktu membuktikan kakak aku tidak bersalah dan jika aku lewatkan kesempatan ini maka aku akan bersalah seumur hidupku," jawab Karin menahan tangisnya.


"Cukup. Vin, aku sangat berterimakasih karena kamu sudah sangat membantu aku selama ini. Maaf jika aku tidak bisa mengikuti apa yang kamu mau," jawab Karin yang memotong perkataan Kevin.


"Aku hanya memiliki satu keluarga dan aku tidak ingin kehilangan kakak aku lagi. Karena diriku dia banyak berkorban jadi inilah saatnya aku membalas budinya."


Dintengah-tengah ucapan Karin di sanalah Jessy datang bersama dengan Siska. Karin yang menyadari akan kedatangan Jessy dan para anak buahnya secepatnya menelpon polisi namun ia menonaktifkan suara ponselnya hanya polisi yang mendengar apa yang terjadi dan ia sengaja menyimpan ponsel rahasia itu di dalam mamp yang sama sekali tidak diketahui oleh Jessy, Siska atau siapa pun.


"Plak... plak... plak..." tepukan tangan Jessy dengan senyuman manis saat masuk dari pintu yang diikuti oleh Siska dan para bodyguard Jessy yang sudah membawa pistlol di tangan mereka masing-masing.


Avim yang melihat hal itu kaget dan langsung mengambil senapan panjangnya yang di todongkan dengan hati-hati pada arah Jessy dan Siska. Para bodyguard Jessy juga menodongkan pistol pada arah Karin dan Kevin di mana mereka berdua sudah dikelilingi oleh banyak orang yang tidak lain adalah anak buah Jessy.


"Wao, aku tidak menyangka kalo kamu sudah mengetahui semua ini. Dan aku hanya bilang maaf karena sudah membohongi dirimu," kata Jessy dengan santai dan penuh senyuman sambil melangkah untuk duduk santai di sofa ruang kerja Karin.


"Dasar wanita licik. Beraninya kamu menjadikan aku dan kakakku sebagai budakmu. Akan aku pastikan kamu membayar semuanya," jawab Karin dengan emosi membara menatap tajam Jessy.

__ADS_1


"Hahaha...." tawa Jessy dengan keras hingga suaranya memenuhi ruangan.


"Itu bukan salahku. Itu adalah kebodohan kamu sendiri dan kakakmu, yang mau menyetujui dan mengikuti rencana aku.. cikk... cik...," lanjut Jessy dengan suara yang lembut namun sangat menakutkan.


"Sekarang kamu sudah tahu siapa aku. Orang yang tidak lain adalah pembunuh orang tuamu sendiri. Yang menghabisi nyawa Reka adalah kamu aku hanya memerintah bukan pembunuh. Jadi jika satu langkah kakimu dari sini maka kamu tahu bukan akibatnya," tambah Jessy dengan berdiri menatap tajam Karin dari sana.


"Aku tidak takut lagi dengan ancamanmu Jessy bagiku kamu sudah MATI," lirih Karin dengan nada dingin dan tegas di kata mati.


"Dasar gadis sialan... apa yang kalian tunggu habisi dia sekarang juga...!" perintah Jessy yang mulai mengabil satu pistol dengan kasar dari tangan pengawalnya untuk menembakkan ancaman ke atas plafon.


"Pruttt..." bunyi tembakan pistol dari tangan Jessy di atas sana.


Flash back. ( Di kantor polisi).


"Nona Kira ini adalah surat perceraian dari suami nona yang menceraikan nona dan meminta tanda tangan nona," ungkap salah satu polisi wanita membawa map coklat di mana surat itu adalah surat perceraiaan dari Bianco untuk Kira yang dikirim oleh Avim yang sedang berdiri di luar.


Kira yang duduk menatap kosong jendela kamar akhirnya meneteskan air mata dengan pelan ia secepatnya menghapus air mata saat mendengar suara polisi tadi.


"Terimakasih bu," ucap Kira tersenyum tulus.


"Aku turut prihatin ya dengan perceraian ini," jawab polisi itu mengasihani Kira.


"Terimakasi untuk ungkapanya," seru Kira masih tersenyum.


Mungkin inilah akhir cerita kita Bian. Maaf jika aku tidak bisa menjadi wanita yang sempurna untuk dirimu, batin Kira menatap dengan mata berkaca-kaca pada amflop coklat yang belum dibukanya.


Tetesan bening kembali mencair menetes dengan pelan membasahi wajah Kira hingga amplop coklat itu pun basah akan tetesan air mata Kira.


Di sela-sela itu para polisi kaget dengan semua ungkapan yang ada di telpon polisi di mana mereka semua mendengar bahwa yang membunuh Reka adalah orang suruhan Jessy yang tidak lain adalay mantan pacar papa Bianco.


"Berarti Kira tidak bersalah dalam hal ini," ucap pimpinan polisi yang sedang membahas kasus Kira ini untuk besok akan dibuktikan pada pengadilan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2