
"Karin...maafkan kakak...hiks..." tangis Kira menatap Karin yang bersimba darah di sana.
Kira menangis dengan sedih saat melihat peluru yang ia tembakan pada Jessy malah megenai bahu kanan Karin.
"Gampang mengatakan maaf. Namun kemana saja dirimu selama ini meninggalkan Karin dengan kondisi yang lemas waktu itu," ucap Jessy menjebak Kira.
Jessy berucap dengan senyuman manis terukir dari bibirnya. Ia menatap rendah Kira saat sedang memangku Karin yang tertembak karena menyelamatkan dirinya. Sedangkan Karin ia masih lemas di bawah sana saat bahunya mengenai peluru yang ditembakkan dari Kira pada Jessy namun meleset pada Karin karena ia menyelamatkan Jessy.
"Dasar wanita ular! Kamu sendiri yang meminta aku meningalkan adikku dan menjalankan balas dendam cinta tepuk sebelah tanganmu itu," ucap Kira menatap tajam Jessy penuh emosi membara api.
Jessy yang mendengar ucapan Kira tersenyum tipis dengan sorot mata menatap tajam gadis muda di hadapanya itu.
"Hahhaha..ular memangil ular. Menurutmu kamu lebih baik dari aku? Cihh... bahkan kamu lebih rendah dibandingkan diriku dengan kamu," papar Jessy.
"Kamu mengetahui bahwa pembunuhan Shelin dan Dion orang tua angkatmu meningal karena dibunuh namun kamu menutupi kasus itu mengikuti ucapanku."
"Kamu mengetahui bahwa Reka lumpuh karena obat bius namun kamu menangis seakan dirimu tidak tahu apa-apa," lanjut Jessy meremehkan Kira.
"Aku melakukan semua itu karena Karin. Jika bukan karena adikku yang ada bersamamu maka aku pun tidak sudi membantumu dalam misi balas dendam ini," ungkap Kira menatap emosi Jessy.
Kira yang masih emosi dengan sikap Jessy yang berusaha menjebaknya di hadapan Karin membuat Kira geram dan rasanya ia ingin membunuh Jessy. Namun di satu sisi Kira tahu bahwa kondisi Karin saat ini sangat lemah jika ia melakukan hal itu dan peluru mengenai Karin lagi gadis itu akan menyesal seumur hidup. Setelah menatap emosi Jessy Kira yang rencananya ingin melangkah menghampiri Karin namun tiba-tiba langkahan Kira terhenti.
"Hentikan langkahanmu itu pada aku. Tidak ada hubungan apa-apa diantara Kita nona Kira. Aku menghargaimu karena kamu adalah tamu nyonya Jessy jika tidak aku tak tahu apa yang akan aku lakukan padamu," sahut Karin dengan nada tegasnya.
__ADS_1
Karin berucap sambil bangkit beridiri dengan tegap di hadapan Kira dengan tanganya yang masih memegang bahunya yang sakit.
"Karin aku adalah kakakmu. Apa kamu melupakan itu?" Tanya Kira kembali menahan luka dan air mata yang tergenang di sana.
"Kamu bukan kakak aku. Kakak aku sudah mati," jawab Karin emosi.
Karin yang menjawab emosi dengan melihat Kira. Membuat ia ingin berteriak di hadapan Kira ingin rasanya ia menyakan mengapa kakaknya tega meningalkan dirinya waktu itu di saat ia masih membutuhkan pertolangan sang kakak. Mengapa harus Karin yang harus hidup di atas noda darah kenapa bukan Kira saja. Begitu banyak pertanyaan yang muncul membuat Karin menahanya walau ingin sekali ia berteriak di hadapan Kira.
"Karin...dengarkan kakak..." ajak Kira meminta adiknya itu mendengarkan ucapanya.
"Pergilah. Dan jangan muncul di hadapan aku lagi! Jika tidak ingin nyawamu dalam bahaya," sungut Karin meminta Kira pergi meningalkan rumah Jessy.
Karin berucap dengan mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap wajah kakaknya. Sejujurnya ada rasa rindu di hati Karin ingin ia menghiraukan semua masa lalu dan pergi memeluk sosok yang sangat ia rindukan itu. Namun setiap kali hatinya luluh saat melihat air mata Kira selalu saja pikirnya dipenuhi dengan masa lalu yang sebenarnya itu tidaklah benar.
"Setiap kali aku mengetahui pembunuhan yang terjadi di luar ingin rasanya aku menghentikan ini semua namun aku tidak bisa karena nyawamu lebih berharga bagi aku."
"Setiap kali aku meneteskan air mata dan mengeluhkan semua itu... namun pikiran... aku selalu padamu, semua pengorbanan aku sama sekali tidak kamu percayai aku bisa apa jika ini sudah terjadi," desis Kira menangis di hadapan Karin.
Kira berucap dengan tangisan yang keras saat mengeluarkan semua hal yang ada dipikiranya. Namun itu tidak dengan Karin gadis itu menatap dingin kakaknya dan mengukir senyuman. Lalu ia melirik sebentar ke arah Jessy yang sedang tersenyum menatap Kira dengan sorot mata bahagia.
Setelah melihat senyuman Jessy Karin menunduk tubuhnya pada Jessy untuk berpamit pulang. Namun sebelum melangkah pergi gadis itu mendekatkan tubuhnya pada Jessy dan berbisik pelan di telinga nyonya liciknya itu.
"Aku minta jangan melukai kakak aku. Biarkan di pergi dari sini tanpa ada yang terluka. Jika dia melakukan kesalahan maka aku sendiri yang akan membunuhnya," mohon Karin pada Jessy.
__ADS_1
Wanita licik yang mendengar hal itu mengukir senyuman dengan sorot mata melirik ke arah kupingnya di mana itu wajah Karin sedang berbisik padanya. Jessy tidak berucap apa-apa ia hanya diam dan menyimak saja ucapan Karin. Sedangakan gadis muda yang berucap padanya akhirnya melangkah pergi meningalkan tempat Jessy.
Karin melangkah pergi tanpa menatap atau melirik ke arah Kira yang sedang menatapnya dengan wajah yang cemas dan mata Kira hanya terpaku pada bahu kanan Karin yang terkena tembakan itu.
"Karin..." pangil Kira dengan lembut.
Kira memanggil nama Karin saat melihat adiknya yang melangkah pergi mencueki dirinya. Karin yang mendengar panggilan Kira meremas jari-jemarinya dengan sangat kuat sambil menatap tajam lurus ke depan. Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu Karin memutar tubuhnya pada Kira sambil menahan sakit luka tembakan yang ada dibahu kanannya itu.
Di saat Karin ingin memarahi kakaknya itu tiba-tiba suaranya terhenti.
"Apa yang kamu inginkan lag...i" ucap Karin dengan suara putus-putus.
"Biarkan aku mengobati luka ini. Kaka hanya ingin kamu tidak menahan luka ini..karena ini sangat menyakitkan," ucap Kira.
Kira berucap pada Karin yang diam seribu kata ketika melihat wanita yang sangat ia benci itu mensobek pakaianya untuk mengikat pada luka dibahu Karin yang lagi bercucuran darah. Saat mengingkat sobekan pakaiannya pada bahu adiknya ia hanya meneteskan air mata sambil merlirik banyak darah yang ada di wajah Karin dan tanganya. Entah siapa yang dibunuh Karin lagi itulah pikiran Kira saat itu.
"Maafkan aku. Karena kebodohan aku kamu harus hidup seperti ini..." lirih Kira masih dengan tangisan.
Kira berucap dengan air mata yang terus mengalir sambil tanganya menyentuh tangan Karin yang penuh dengan darah itu. Dan ia kembali meneteskan air mata hinga bening air mata itu membasahi tangan Karin.
Bersambung.
Selamat membaca jangan lupa suport author ya...
__ADS_1