
"Kami datang atas permintaan tuan muda Bianco yang melaporkan bahwa kematian nyonya Reka Bridges bukanlah kecelakaan melainkan pembunuhan dan pelaku ada di sini," ucap polisi saat sampai di depan rumah Bianco namun mereka tidak diijinin masuk oleh pengawal karena belum mendapat informasi dari Bianco sendiri tentang hal ini.
"Biarkan para polisi masuk ini perintah aku. Jangan banyak tanya pada mereka karena aku sendiri yang meminta hal ini," sebuah suara dari benda pipih yang ada ditelinga kepala bodyguard yang sedang bersama anggotanya menjaga ketat di depan gerbang dan menghalang polisi untuk masuk.
"Biarkan mereka masuk. Tuan muda baru saja mengabari aku untuk hal ini," timpal kepala bodyguard sambil membuka jalan untuk empat polisi yang ditugaskan akan kasus kematian Reka.
Avim yang saat itu baru datang dengan mobilnya sangat kaget akan kehadiran polisi di rumah Bianco. Tiba-tiba telpon masuk dari Bianco.
"Selamat pagi tuan muda. Maaf saya sedikit telat tadi lagi..." ucapan Avim terhenti ketika Bianco memotong percakapan mereka di telpon sana.
"Awasi para polisi yang membawa Kira ke penjara. Aku sudah melaporkan dia ke penjara akibat kesalahanya sendiri. Tugasmu adalah mengawasi agar dia tidak kabur dari pertahanan polisi, apa kamu paham?" Beber Bianco lewat benda pipi yang masih menempel di telinga Avim.
"Apa...? polisi? Tuan muda apa kamu yakin? Kamu tidak kwatir dengan kondisi nona muda akan kehamilanya? Biar bagaimana pun itu anak kamu tuan muda, bagaimana jika..."
"Anak itu bukan anak aku. Jangan banyak tanya dan banyak ceramahin. Aku lagi malas membahas hal ini sampai bertemu nanti sore. Lakukan tugas sesuai perintah aku mengerti!" Sahut Bianco memotong perkataan Avim dengan nada tegas dan wajah yang dingin di atas balkon lantai dua lalu ia mematikan telponya.
Avim yang masih meragukan tindakan Bianco ini hanya diam sambil mau tidak mau ia juga mengikuti perintah bosnya yang sedang memantau dia dari atas balkon lantai dua. Avim sedikit melirik ke arah balkon lantai dua melihat sorot mata yang sedang menatapnya dengan tajam.
Ia hanya menarik nafasnya dalam-dalam dan kembali melangkah pergi ke Polisi bertemu dengan kepala pelayan dan Sherli serta pelayan yang lainya semua asisten rumah kaget bahwa polisi akan menakap nyonya muda mereka atas tuduhan pembunuhan yang dilakukanya pada Reka.
__ADS_1
Sekertaris Avim membawa polisi ke dalam dan di sana bersamaan dengan itu Kira mulai menuruni anakan tangga dengan tangan yang sudah diborgol oleh anak buah Bianco jauh sebelum polisi datang. Tatapan dingin Kira dengan kekosongan hidup hanya diam dan melangkah tanpa mengeluarkan suara dan ia pun sama sekali tidak meneteskan air mata sedikit pun.
"Saudara Kira anda ditahan sebagai pelaku dalam kematian nyonya Reka Bridges. Jika benar anda terbukti sebagai seorang pelaku pembunuhan maka hukuman untuk anda adalah 15 tahun penjara," tunjuk komandan polisi saat Kira yang sudah di bawa tiba di lantai satu dengan kedua tanganya diborgol.
"Anda masih memiliki kesempatan untuk membela diri anda tapi untuk sekarang kami akan bawa nona ke kantor polisi untuk urusan lebih lanjut," sambung polisi lagi dan langsung membawa Kira untuk segera dibawa ke kantor polisi.
What? Secepat ini? Aduh tuan muda Bianco betapa beruntungnya aku padamu. Semua hal ini terjadi diluar nalar aku jauh dari prediksi aku, batin Sherli bahagia saat melihat Kira yang sudah dibawa oleh polisi.
"Nona anda bisa membela diri anda. Mengapa nona tidak berucap sepatah kata pun?" Tanya Avim yang masih ragu akan semua bukti yang di dapatkannya. Walau awalnya ia memang kecewa dan mempercayai bukti yang ia dapatkan bersama dengan Pak Sud dan bukti pernyataan dokter Rian tetap saja Avim masih ada keraguan dalam hati kecilnya entah itu apa Avim sendiri tidak bisa menjelaskanya.
"Untuk apa aku harus menjelaskan? Jika pada akhirnya aku memang sudah tidak bisa dipercaya. Sekuat aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak bersalah tetap saja pada dasarnya hati sudah meragukan dan tidak percaya maka sekuat aku menjelaskan tetap saja dia tidak ada yang percaya pada aku."
Kira menjawab ucapan Avim dengan tatapan dinginya dan sorot mata yang menajam walau sebenarnya hati dan pikiran Kira saat itu sangat takut apalagi menyadari kenyataan bahwa ia sedang hamil. Namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur yang dilakukanya sekarang hanyalah pasrah dan ikhlas menjalaninya.
"Mari nona ikut kami," tawar seorang polisi yang mulai membawa Kira ke luar dari rumah Bianco dengan kedua tangan gadis itu sudah di borgol.
Kira melangkah dengan tenang tanpa menunjukka sikap emosionalnya sedikit pun Walau sebenarnya ia sangat takut.
Saat melangkah hingga di luar halaman rumah, Kira yang kembali mengingat saat pertama kali ia datang ke rumah ini, gadis malang itu memutar tubuhnya melihat sekeliling rumah dengan semua kenangan baik dan buruknya selama ia di rumah itu. Matanya terhenti saat melihat sosok yang sedari tadi ia cari Dia menatap dalam pria itu dengan tatapan sendu dan matanya mulai berkaca-kaca di mana sosok itu sedang berdiri di atas balkon lantai dua siapa lagi kalo bukan Bianco Bridges.
__ADS_1
Dengan ketulusan hatinya Kira menarik kedua sudut bibirnya tersenyum dengan menahan luka di dalam sana sambil membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat dan permintaa maaf untuk terakhir kali atas kesalahan yang sebenarnya ia tidak lakukan.
Di saat itulah setetes bening akhirnya menetes saat kepala Kira ditundukan di bawah. Bening itu mengalir dengan pelan dari bola matanya air mata Kira seketika mengalir dengan deras di bawah sana dengan luka yang menyakitkan di dalam sana bagaikan disayat-sayay oleh pedang dan ditususk berulang-ulang oleh pedang pula.
Jika aku tahu mencintai begitu menyakitkan aku ingin benar-benar menghentikan rasa ini. Jika aku tahu mencintai membuat aku bernafas saja sulit aku ingin menghentikannya.
Namun jika ini sungguh kata cinta sekali saja berikan aku tatapan terakhir agar aku bisa melangkah dengan kuat... aku tidak peduli siapa yang tidak mempercayai aku yang aku butuh adalah kepercayaanmu, batin Kira.
Kira mengangkat wajahnya dengan air mata yang masih mengalir dari sana ia menatap ke mata yang juga sedang menatapnya. Tatapan Bianco dan Kira begitu dalam namun dalam sesaat Bianco memutar tubuhnya berbalik membelakangi Kira dan ia pun langsung masuk ke dalam ruangan keluarga yang ada di lantai dua lalu pintu kaca balkon ditutup dan gorden pun diturunkannya.
Tatapan Kira dengan mata yang sendu dan masih berair akhirnya pecahlah tangis itu walau ia hanya bisa menahan tangis dalam diam dan menyiksa hati.
Seperti angin yang lewat dan tanpa ada bayangan. Seperti itulah cinta aku padamu yang sangat menyakitkan namun tidak bisa keluar dari lingkaran itu. Rasa ini benar-benar menyakitkan dan menyiksa...
Cinta ini hanya bisa aku urungkan dengan luka. Walau aku tahu ini sangat sulit tatapanmu itu seketika membuat aku kembali berharap dalam waktu yang sama harapan itu hancur... betapa bodohnya aku...harusnya aku tahu ini namun kenapa aku mengarapkan itu... bungkam Kira yang melangkah dengan borgol di tangan dan dikerumuni oleh banyak wartawan dan media yang sudah menanti di depan pintu.
Kira melangkah dengan banyak pikiran hingga air mata hanya menetes di depan kamera wartawan yang saat itu semua sedang mengambil vidionya...
Bulir-bulir air mata itu mengalir dengan deras membasahi wajahnya tangisnya sudah pecah namun ia tidak bisa menangis dengan teriak hanya air mata yang menyuratkan isi hatinya saat itu...
__ADS_1
Author menangis sampai part ini...benar-benar sakit banget....hiks...
Bersambung...