
"Nona sebaiknya kita menemani nona Karin. menangis di sini sama saja tidak akan menyelesaikan masalah," ungkap Kevin yang menenangkan Kira.
"Terimakasih karena sudah membantu aku," jawab Kira tersenyum manis pada Kevin.
Kevin dan Kira pun akhirnya pergi dengan Kevin menuntun jalan Kira namun langkahan mereka terhenti ketika Bianco memangil nama Kevin.
"Kevin!!"
Langkahan Kevin dan Kira terhenti lalu mereka memutar tubuh menghadap Bianco.
"Jadi selama ini kamu bekerja sama dengan Kira membunuh ibu dan ayahku," tanya Bianco.
"Kira sama sekali tidak terlibat.."
"Kevin untuk apa kamu menjelaskan hal yang tidak perlu dijelaskan. Selama kepercayaan ada padanya untuk apa dijelaskan hanya dirinya yang menentukan mana yang benar dan tidak," ucap Kira dan langsung melangkah pergi meningalkan Bianco yang diam dengan tatapan dingin pada Kira.
"Satu hal yang perlu tuan muda tahu bahwa nona muda sama sekali tidak bersalah dalam kasus pelenyapan nyonya besar. Dan hari ini secara resmi pengadilan mengatakan dan sudah memutuskanya," tutur Kevin mengingatkan Bianco dan melangkah menyusul Kira untuk pergi.
Kira dan Kevin pun sudah pergi menyusuli Karin yang saat ini ada di tahanan polisi.
"Dengan bukti dan kejahatan yang selama ini dilakukan oleh terdakwa Karin maka pengadilan memutuskan menjatuhkan hukuman mati bagi Karinnn...."
Taakk... taakk.. taakk...
Ucap Hakim dengan memukul cap kayu pengadilan bahwa hukuman sudah disetujui semua hakim dan pengadilan atas kejahatan Karin selama ini.
"Nona muda...." panggil Kevin saat melihat Kira yang sudah jatuh tersungkur pingsan di bawah sana ketika mendengar bahwa Karin dijatuhkan hukuman mati oleh pengadilan saat diri Kira dan Kevin yang baru sampai mengikuti sidang Kira.
Air mata Karin mentes dengan pelan membasahi wajahnya ia tidak menyangka bahwa semuanya akan berakhir seperti ini. Namun di satu sisi ia bersyukur akan semua ini. Ini hukuman memang pantas diterima Karin mengingat banyak nyawa yang tidak berdosa hilang karena dia.
__ADS_1
Kevin yang melihat Kira pingsan akhirnya membawa Kira ke rumah sakit secepatnya Avim pun datang ikut membantu kevin.
Dalam perjalan ke rumah sakit Kira berteriak dengan keras karena merasa kesakitan di bagian perutnya. Kevin dan Avim semakin kwatir hingga akhirnya dalam menempuh perjalanan yang kurang dari 10 menit karena jarak dari rumah sakit yang tidak jauh dari kantor polisi tempat tahanan Karin.
Darah segar mulai bercucuran dari kedua paha Kira semua pelayan segera membantu Avim dan Kevin yang sudah berteriak karena ketakutan akan darah yang semakin mengalir banyak dari sana hingga lantai keramik putih penuh dengan darah Kira di mana-mana.
"Suster... tolong..." jerit Avim pada semua pelayan yang ada di rumah sakit.
Semua suster datang dengan membawa kursi roda darurat untuk meletakan tubuh Kira di sana agar segera dibawa ke ruang ICU untuk segera di periksa oleh dokter. Sedangkan Kevin berpamit pada Avim untuk kembali pergi ke kantor polisi untuk melihat kondisi Karin.
"Aku pamit pergi ke kantor polisi untuk melihat Karin. Jagain nona muda aku akan kabari jika hal buruk terjadi."
"Baiklah. Hati-hati di jalan kabari aku jika sesuatu buruk terjadi. Akan aku kabari kamu jika nona muda sadar," seru Avim menyetujui ucapan Kevin.
Di sisi lain Bianco yang datang ke kantor polisi melihat suasana di kantor polisi yang sudah kembali normal seperti tidak ada yang terjadi saat itu. Pada hal Dia baru saja menonton berita heboh yang mengegerkan semua orang bahwa Kira tidak bersalah dalam pembunuhan Reka atau ibu mertuanya sendiri. Dengan banyak pertanyaan di pikiran Bianco ia akhirnya bertanya pada seorang petugas polisi yang kebetulan sedang melangkah ke depanya.
"Sidang sudah berakhir tuan muda dan sekarang semua orang lagi mempersiapkan hukuman mati yang akan dilaksanakan nanti sore pada pelaku baru psikopat (pembunuh berantai massal selama ini)," jelas polisi itu pada Taehyung.
"Apa? Hu... hukuman mati? Bagaimana mungkin itu terjadi?" tanya Bianco yang kaget sendiri akan semua hal ini. Pada hal ia sendiri yang melakukan semua ini, Bianco yang melaporkan semua ini pada polisi hingga kejadian di gudang. Tujuan Ia melapor hanya untuk menjebloskan Jessy dan anak buahnya namun, semua terjadi di luar nalar Bianco.
"Aku sama sekali tidak tahu tuan. Intinya inilah keputusan dari semua hakim akan kejahatan yang dilakukan oleh pelaku itu," papar polisi wanita tersebut pada Bianco.
"Jika tuan ingin tahu semua ini tunggulah sampai eksekusi hukuman mati yang akan dilaksanakan sore nanti pukul 04.00 Wib."
"Saya pamit pergi dulu tuan muda," pamit polisi wanita itu melangkah pergi meningalkan Bianco.
Pria itu masih sangat syok berat akan semua ini ia tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi namun di satu sisi Bianco bahagia karena rasa kecewa dia pada Kira akhirnya terbalaskan. Walau sebenarnya hati kecilnya menyesali kesalahanya pada mantan Istrinya sendiri.
Di rumah sakit Avim melangkah ke sana dan ke sini menghwatirkan kondisi Kira yang masih ditangani oleh dokter di dalam sana. Avim duduk dengan mengatupkan kedua tanganya pada hidung di wajahnya dengan banyak kecemasan yang jelas terlihat akan kondisi Kira.
__ADS_1
"Bagaiman keadaan nona muda dok?" tanya Avim langsung pada dokter ketika melihat dokter yang menangani Kira ke luar dengan membuka maskernya.
Wajah dokter tersebut sangat lesuh ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskanya. Avim yang semakin cemas kembali mengajukan pertanyaan yang sama.
"Apa nona muda baik-baik saja? Aku mohon jawab pertanyaanku," seru Avim.
"Kondisi pasien baik-baik saja."
"Syukurlah. Terimakasih Tuhan, terimakasih dokter," seru Avim bersujud mengucap syukur.
"Tapi itu tidak dengan kondisi bayinya," kata dokter yang langsung membuat perubahan wajah bahagia Avim kembali bertanya apa maksud ucapanya.
"Apa maksud dokter? Apa yang terjadi dengan bayi dalam kandungan Ello?" tanya Avim yang semakin kwatir akan kondisi kandungan Kira.
"Bayi nona Kira kami tidak bisa selamatkan karena kondisi kandungan Kira sangat lemah hingga kami tim medis terlambat menyelamatkan nyawa bayi tersebut."
"Apa..? Kira mengalami keguguran?" Avim jatuh lemas di kursi menjambak sembarang rambutnya.
"Kami minta maaf. Dan turut berduka akan kehilangan nyawa putra bapak," ucap dokter itu dan melangkah pergi meningalkan Avim.
Sementar itu Kevin hari itu menangis menyalahkah dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Karin saat itu. Ia hanya menangis diam dalam toilet dengan penuh penyesalan Kevin tidak tahu bagaimana cara menjelaskanya pada Kira yang saat ini terbaring di rumah sakit.
"Jika ini takdirku untuk apa harus dihindari. Kematian bukanlah hal yang harus ditakuti melainkan menerima dengan ikhlas."
Kevin mengingat kata-kata Kira sebelum mereka merencanakan untuk menyelamatkan Kira namun Karin tahu ia harus mengorbankanya nyawanya demi sang kakak. Tangis Kevin makin menjadi.
"Karin... hiks..."
Bersambung.
__ADS_1