
RAHASIA TERBONGKAR.
"Temui aku jika kamu ingin tahu siapa yang membunuh mertuamu. Intinya bukan aku yang melakukan hal itu," sebuah pesan singkat Jessy pada Kira di saat ia yang sedang merayakan pesta kematian Reka bersama dengan komplotanya.
Di saat yang bersamaan Marcio yang selalu nenjadi mata-mata Bianco sedang berdiiri tepat di belakang Jessy dan ia juga membaca isi pesan yang diketik oleh Jessy itu. Akan tetapi Marcio tidak bisa melihat jelas nomor yang dikirim oleh Jessy pada pesan tersebut. Dengan cerdik Marcio mengalihkan kefokusan Jessy pada Karin yang kebetulan saat itu sedang berdebat dengan Saskia sejak tadi di mana mereka yang saling menyindir satu sama lain soal kematian Reka.
"Maaf nyonya tolong tenangkan nona Karin dengan nona Saskia yang sedang berdebat panas sejak tadi. Kami sudah mencoba menenangkan mereka berdua namun tetap saja mereka tidak mendengarkan ucapan aku nyonya," tutur Marcio namun matanya terfokus pada ponsel yang ada ditangan Jessy.
Jessy yang kaget dengan suara Marcio dibelakangnya melotot matanya dan secepatnya mematikan layar ponselnya lalu memutar tubuhnya dengan kaget sambil menatap Marcio dengan penuh kecurigaan pada pria berumur yang saat ini sedang berdiri di hadapanya itu.
"Sejak kapan kamu dibelakang saya?" Tanya Jessy curiga pada Marcio.
"Aku baru datang nyonya. Karena aku melihat pertengkaran antara Karin dan Saskia yang tidak selesai-selesai jadi aku pikir hanya nyonya Jessy yang bisa menyelesaikan pertikaian antara mereka," jawab Marcio syok namun ia masih berusaha mengontrol sikapnya agar tidak terlihat kaget atau ketakutan.
"Maaf nyonya? Apa anda mencurigai saya?" Pinta Marcio dengan mengerutkan dahinya sambil menatap Jessy yang mulai kepancing akan omongan Marcio sepertinya.
"Bukan begitu maksud aku. Maaf aku masih antisipasi masalah ini," jawab Jessy yang mengelak ucapan Marcio sambil tersenyum lebar pada pria itu.
Untung saja dia tidak membaca isi pesan aku apalagi menghafal nomor Kira bisa-bisa rencana balas dendam aku gagal semua hanya karena kesalahan ini, batin Jessy. Jessy bergumam sambil tersenyum manis pada Marcio yang juga ikut tersenyum padanya.
Marcio yang mendengar ucapan Jessy mengangukan kepalanya pelan sebagai tanda paham akan ucapan Jessy barusan. Sambil menatap Jessy dengan masih fokus pada ponsel Jessy. Sedangkan wanita berumur itu mengukir senyuman pada pria yang saat ini berdiri di hadapanya lalu ia pun menyimpan ponselnya di atas meja tanpa sadar dan Jessy kembali melangkah menghampiri Siska dan Karin yang masih berdebat panjang di sana.
Marcio yang melihat Jessy sudah menjauh dari meja yang tadi Jessy duduk dengan cepat Marcio segera meraih ponsel wanita tersebut yang ada di atas meja dan secepatnya ia membuka pesan hari ini lalu ia pun segera menarik layar branda pesan dan akhirnya pria itu menemukan isi pesan terakhir Jessy. Lalu ia mengambil fota isi dari pesan itu mengunakan kamera ponsel Marcio lalu kembali dengan cepat ia mencatat nomor yang ada di kontak ponsel Jessy bertulis nama Budak.
__ADS_1
Marcio Segera mengetik isi nomor tersebut pada ponselnya secepat mungkin sambil melihat kiri dan kanan agar tidak ada yang curiga. Selesai mendapatkan semua bukti itu Marcio kembali menyimpan ponsel Jessy kembali pada tempatnya. Dan dia pun tersenyum basa-basi pada yang lain sambil melangkah pergi.
Di sisi lain di tengah-tengah proses pemakaman Reka. Avim mulai mencari tahu misteri kematian Reka. Ia meminta mata-matanya untuk pergi ke rumah dokter Rian mencari tahu apa penyebab kematian Reka. Sedangkan Avim pria itu terfokus mengintrogasi semua pelayan yang ditugaskan untuk menjaga Reka di kamar selama Bianco dan Kira tidak ada.
Proses pembuktian yang sudah dikumpukan tentang kematian Reka akhirnya terkumpul semua dan dari semua bukti yang dikumpulkan itu mengarah pada Kira. Avim sampai berulang-ulang kembali mengumpulkan data bukti-bukti dan semuanya tetap saja hasilnya mengarah pada Kira.
Bagaimana ini bisa terjadi? Aku sama sekali tidak mempercayai bukti ini namun ini untuk ke 10 kali aku mengumpulkan ulang dan hasilnya sama, batin Avim masih tidak percaya saat kembali melihat hasil bukti akhir yang tetap sama.
Di sisi lain taburan bunga di pusaran makam Reka sudah banyak dari pengunjung tamu-tamu yang hadir turut berduka akan kepergian Reka. Setelah selesai pemakaman satu persatu semua orang pun kembali ke rumah mereka dan meningalkan tempat makam. Lalu tinggalah Bianco dan Kira yang ada di pemakaman beserta para bodyguard yang masih berjaga-jaga di sekitar tempat makam.
Avim yang masih tidak percaya dengan semua bukti yang ia dapatkan bagaimana mungkin seorang Kira bisa melakukan hak sekejam itu dan itu adalah suaminya sendiri. Di mana saat itu ia melihat Kira yang menangis di pusaran makam Reka di bawah sana seakan ia begitu kehilangan sosok seorang ibu.
Sedangkan di tempat pesta Jessy, Marcio melangkah pergi dengan cepat ke toilet berpura-pura bahwa dirinya sedang sakit perut. Pada hal ia ingin memastikan siapa mata-mata yang selama ini membantu Jessy. Pria berumur itu pun masuk ke dalam toilet mengunci pintu dari dalam lalu ia menelpon nomor yang tadi ia ambil dari ponsel Jessy.
Bos? Aku Tidak salah bukan saat mengetik nomor ini, batin Marcio yang kembali mengecek nomor yang ia telpon. Pria itu mematikan pangilan dan berpikir sejenak apa dia yang salah menelpon.
Tapi bukanya nomor tuan muda kan beda dengan nomor ini bagaimana mungkin tuan muda yang bekerja sama dengan Jessy, ok Marcio mari menelpon ulang untuk mamastikan kebenaranya.
Sial nomor siapa ini beraninya menelpon istri aku? Batin Bianco kesal karena pertama kali orang mematikan telpon suara saat berbicara dengan seorang Bianco Bridges.
Ya ponsel Kira kebetulan ada di tangan Bianco. Karena tadi saat Kira yang terus menangis hingga ponselnya jatuh ke lantai dari saku celananya untung ponselnya ditemukan oleh seorang pelayan rumah yang bekerja di rumah Bianco jadi saat menemukan ponsel itu secepatnya ia mengembalikan ponsel tersebut pada Bianco.
"Hallo kamu siapa? Berani sekali anda menelpon istri saya dan seenaknya mematikan telpon. Sekali lagi kamu hubungi istri aku akan saya pastikan kamu mendapat hukumanya," tegas Bianco yang langsung meluapkan kekesalanya pada nomor yang sama yang tadi menelpon Kira dan kini menelpon untuk kedua kalinya dia tidak lain adalah Marcio lalu pria itu segera mematikan panggilan itu.
__ADS_1
Jadi ini nomor istri tuan muda? Sekaligus menantu idaman nyonya Reka dan tuan besar? Berarti selama ini yang membantu dan menjadi mata-mata Jessy di keluarga Bridges adalah nona muda? Batin Marcio kaget dan masih tidak percaya.
**** skip
Setelah pemakaman selesai Kira, Bianco, Avim serta para pengawal kembali pulang ke rumah yang masih dibaluti dengan kesedihan dan duka yang sangat mendalam. Kira yang saat ini begitu sedih di mana tubuhnya sangat lemas dipelukan suaminya yang setia selalu memeluk Kira dan menenangkan gadis itu. Akrhinya tibalah mereka di rumah Bridges Kira melangkah dengan lemas sambil dituntun oleh Bianco yang ikut menuntunya untuk masuk ke dalam rumah. Bianco meminta Sherli dan beberapa pelayan yang lainya untuk menemani Kira ke kamar karena dirinya harus mengurus urusan penyebab kematian Reka. Pak Sud ikut diseret Bianco ke ruang kerjanya bersama Avim dan salah satu tukang masak di rumah.
"Apa maksud kamu Avim mengatakan hal yang tidak benar itu? Bagaiman mungkin kamu mengatakan bahwa Kiralah pelaku dalang semua kematian dan kelumpuhan mama?" Jerit Bianco tidak percaya akan pernyataan kecurigaan Avim akan kematian Reka dengan bukti yang mengarah pada Kira gadis yang sangat dicintai Bianco.
Dimana saat itu Bianco bertanya pada Avim saat mereka sudah di ruang kerja pribadi Bianco.
"Pak Sud cepat katakan sesuatu. Kamu yang aku tugasi untuk menjaga mama dan rumah ini! BRUK..." teriak Bianco dengan nada tinggi sambil membanting keras tanganya di meja dengan emosi yang membara hingga urat besar dilehernya muncul ke permukaan.
"Itu benar tuan muda, noda orang yang terakhir memberikan bubur pada nyonya besar sebelum pergi dari rumah dan..." ucapan pak Sud terdiam saat Bianco menjerit penuh emosi lagi.
"DIAM....! JANGAN MENGUCAP ATAU BERKATA HAL YANG MELANTUNG! APA KALIAN PAHAM...!" Teriak Bianco emosi tidak percaya hingga urat-urat besar muncul di kening dan lehernya serta wajah tampannya merah bagaikan tomat merah.
Bersambung.
...Halo semua salam kenal, makasih loh sudah selalu setia dengan pernikahan Shakira. Makin seru bukan yuk komen spam kalian biar author juga semangat nulisnya... jangan lupa follow akun aku Ig author, @Sildadelita99... hehheheh......
...Yuk komen spam...
...Happy Ending atau Sad Ending......
__ADS_1
...selamat membaca......