
"Teganya bibi... kau memberitahu semua orang bahwa mama telah meningal. Bahkan bibi melakukan upacara pemakaman mama di dihadapan media, aku dan Karin," ucap Kira.
"Bagaimana mungkin seorang saudara kandung sejahat itu kepada keluarga saudaranya sendiri!" jerit Kira.
Kira berucap dengan sangat keras dan air mata berlinang membasahi kedua pipinya. Ia begitu sakit hati saat mengetahui bahwa Ibu kandungnya masih hidup, saat ini ia dirawat di rumah sakit jiwa karena depresi berat yang dialaminya. Saat mengetahui bahwa Ibunya masih hidup. Kira sangat sakit hati ia kembali mendatangi Jessy yang waktu itu sedang duduk dengan manis di kursi milik papa Kira.
Jessy yang menikmati kekuasaan kakaknya dengan sangat bahagia, dirinya sedikit kaget saat melihat Kira yang memaksa masuk mendobrak keras pintu sambil mengandeng tangan Karin yang saat itu ketakutan.
"Mengapa...?" Bertanya dengan tatapan tajam.
"Hanya karena dendammu pada orang lain, bibi tega menghancurkan keluarga papa!" Lanjut Kira saat ia sudah dihadapan Jessy.
Kira berucap dengan sangat keras menatap tajam Jessy yang tersenyum lepas dan tertawa akan ekspresi gadis kecil itu.
"Apakah ini sopan santun yang diajarkan Sari padamu? tidak sangka kalo kakaku berselingkuh lagi," Jessy berucap sambil tertawa licik dengan posisi duduknya.
"Papa berselingkuh itu karena rencana busukmu. Beraninya dirimu mengatakan mama meningal namun ternyata mama masih hidup kamu tega membawanya ke rumah sakit jiwa pada hal dirinya tidak gila."
"Apa aku salah dengar? Ibumu masuk rumah sakit jiwa karena stres dan depresi hingga dirinya menjadi gila. Makanya aku membawa dia ke rumah sakit jiwa!"
"Ibumu masuk rumah sakit jiwa itu bukan karena aku, itu karena ayahmu. Lagian tempat itu cocok dengan dirinya aku bukan pembantunya untuk merawat dirinya," lanjut Jessy.
Jessy berucap dengan santai sambil tersenyum licik pada Kira dan Karin yang ketakutan saat itu.
"Jika kamu tidak mau merawatnya biarkan aku yang merawat ibuku. Bisa-bisanya kamu membawa dia ke rumah sakit jiwa seakan ia tidak memiliki keluarga!"
"Kamu yang menghancurkan hidupnya, karena cintamu yang bertepuk sebelah tangan dan kepicikan kamu membunuh Papa dengan suntikan beracun, kamu memberitahu pada media bahwa papa meningal karena kecelakaan kenyataan kamu yang membunuh papa!" seru Kira menatap tajam Jessy.
"Kamu membalikkan fakta bahwa ibu yang membunuh papa karena papa ketahuan selingkuh. Bagaimana hal itu tidak membuat seorang depresi?"
__ADS_1
"Wanita mana yang kuat melihat suami dan pembantunya tidur satu ranjang di kamar saat dirinya tidak ada di rumah, wanita mana yang tidak kaget mengetahui suaminya berselingkuh selama tiga tahun tanpa sepengetahuan dirinya!"
"Wanita mana yang kuat melihat suaminya melakukan hubungan terlarang di hadapanya!" Kira berucap menjerit dengan keras tanpa terasa air mata kembali mengalir dari kedua bola indah itu.
"Aku memang masih kecil dan belum bisa mengetahui mana benar dan mana yang tidak benar. Tapi aku seorang wanita aku....," suaranya terhenti seketika butiran bening air mata mengalir langsung dari bola matanya membuat Kira menahan sesak di dadanya.
Kira menarik nafasnya mengontrol emosionalnya dan kembali melanjutkan ucapanya walau masih dengan suara tangisnya.
"Aku seorang wanita aku bisa merasakan apa yang mama rasakan, bagaiman bibi bisa menghancurkan mental mama?" Tangis Kira pecah juga.
Ia berusaha menjadi kuat dan tidak ingin menangis namun saat kata-kata itu keluar dari bibirnya air mata mengalir dengan deras, dada terasa sesak jika mengingat masa kelam mamanya.
" Hahahhaa.... kamu masih kecil tapi kamu sudah mengetahui hal yang seharusnya tidak kamu ketahui."
"Apakah aku harus membunuhmu juga?"
"Jika aku mau aku bisa saja menghabisi dirimu dan adikmu. Namun aku belum bisa karena aku membutuhkan diri kalian berdua!"
"Dasar penghiangat! Aku membencimu bibi! akan aku pastikan hidupmu akan hancur suatu hari nanti."
Kira mengucap dengan tegas sambil menatap tajam Jessy. Kira begitu membenci Jessy karena semua kejahatan yang Jessy lakukanya diketahui gadis remaja itu. Saat itu Kira bisa saja memberitahu polisi akan kejahatan Jessy namun Kira tidak bisa lakukan itu karena ia belum memiliki bukti yang kuat.
Sedangkan bukti kematian palsu akan ayahnya semuanya mengarah ke Sari. Yah tuduhan palsu dari Jessy pada Sari begitu kuat, Jessy memalsukan kasus kematian Brandon dengan membalikan fakta bahwa Sarilah yang membunuh Brandon. Jessy mengatakan pada media dan masyarakat bahwa Sari yang membunuh suaminya sendiri karena mengetahui bahwa suaminya selingkuh, pada hal yang sebenarnya terjadi adalah ia yang telah membunuh kakak kandungnya sediri.
Kira menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir deras disana. Kira terpaku diam membisu di jendela balkon kamar. Saat dirinya melihat langit dan menghirup udara segar dari jendela. Gadis itu menahan sakit hatinya saat kembali mengingat memory kedua orang tuanya. Kini gadis itu sadar dan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ibunya waktu itu. Ia bisa merasakan luka yang mendalam jika orang yang kita cintai berhianat pada kita.
Dicueki saja itu sangat menyakitkan... apalagi dihianati oleh dia yang kita cintai? Itu benar-benar sangat menyakitkan. Aku yakin ibu pasti banyak menangis waktu itu, gumam Kira.
Kira bergumam sambil menahan sakit yang sekarang ia rasakan. Ia tidak bisa bayangkan sesakit apa ibunya waktu itu, luka jelas...tangis pasti karena tidak ada istri yang mau dihianati atau pun dicueki oleh suaminya sendiri.. wanita mana pun tidak akan bisa menerima jika dimaduin.
__ADS_1
Kira menghapus bening yang mengering di kulit pori-pori pipinya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secra pelan-pelan. Lalu ia memutar tubuhnya kembali ke dalam suasan kamar saat Kira menatap sekeling kamar luas Itu matanya berhenti di satu titik. Ia menatap foto pernikahan dirinya dengan Bianco yang dicetak dan dipasang sebuah bingkai foto yang sangat besar. air mata Kira kembali mengalir lagi dibawah sana.
Senyuman itu bukanlah senyuman bahagia melainkan senyuman tangisanku. Ibu.... aku merindukanmu, bisik Kira saat menatap foto pernikahan dirinya dengan Bianco.
Kira mengukir senyuman saat merasakan bahwa pipinya kembali dibasahi oleh bening tetesan itu lagi. Terasa sesak di dada ia berusahan untuk tidak meneteskan air mata namun tetap saja air itu terus mengalir saat kedua mata bekedip sedikit saja. Kira berusahan untuk menahan luka itu hanya saja mata dia yang berbicara.
"Pernikahan adalah hubungan yang sakral saat kamu mengucapkan janji dihadapan Tuhan maka itu bukan sekedar janji melankan sebuah janji nyata. Apa pun yang terjadi pertahankan hubunganmu jangan seperti ibu dan ayah, apa kamu paham. Seberat apa masalah itu jangan pernah kamu menyelesaikan hubungan sakral itu," jelas Sari pada Kira
"Karena apa yang dipersatukan Tuhan tidak bisa kamu ceraikan sesuka hatimu. Sekali pun itu sebuah penghianatan. Cukup ibu dan ayah saja yang terjadi jangan dikeluargamu," lanjut Sari.
Kira menangis mengingat semua kenanganya bersama ibunya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di balik kedua tanganya yang di lulutnya di mana posisi Kira saat itu duduk dilantai sofa yang biasa ia tidur sambil menarik kedua lulutnya mendekat merapat ke tubuhnya dan tanganya melingkar di kedua lututnya. Air mata kira kembali menetes membasahi kulit tanganya. Ia menangis dengan suara kecil menutup mulutnya agar tidak kedengaran oleh Bianco.
Saat kuping Kira mendengar suara air di kamar mandi berhenti. Yang artinya Bianco sudah selesai mandi dan sebentar lagi akan keluar. Kira segera mengapus cepat air matanya lalu ia naik di atas sofa berpura-pura tidur, Kira menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya agar Bianco tidak melihat mata Kira yang bengkak karena menangis.
Di saat bersamaan Bianco keluar dari kamar mandi, pria itu melangkah sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Langkahannya terhenti saat menatap Kira yang tertidur di sofa dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Entah mengapa Bianco menatap jendela balkon kamarnya yang lupa ditutup oleh Kira, sekilas ia melihat ke arah Kira lagi.
Apa dia habis menangis? Mengapa dia menangis? Tidak penting Bianco...tidak penting juga dia mau nangis atau tidak itu bukan urusanmu, batin Bianco.
Bianco bergumam sambil kembali melangkah pelan untuk menutup kedua jedela balkon kamar tersebut. Setelah mengunci jendela pria itu kembali melangkah ke kasurnya untuk tidur saat Bianco yang duduk di ranjang kamarnya ia kembali melihat ke arah Kira dengan sangat dalam, Dan tanpa Bianco sadari bahwa hati kecilnya merasa bersalah.
Di sisi lain Kira masih menangis di dalam sana, air mata terus mengalir dan tanganya menutup mulutnya agar suara tangisnya dia tidak terdengar oleh Bianco. Musik Fall in You drama (True Beauty) mengiasi tangis Kira dalam diam di sana dan tatapan dalam dari Bianco dari kamarnya.
🎶Fall in you🎶...( jatuh padamu)...
Bersambung.
note: Jangan spam next hargai usaha author terimakasih
__ADS_1