PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Hati Bagaikan Hujan


__ADS_3

"Diamku bukan berarti aku baik-baik saja. Terkadang yang diam lebih terluka dibandingkan yang menangis. Bahagia belum tentu dia bahagia karena kebanyakan orang yang tersenyum lebih tersakiti dibandingkan yang sedih. Hidup itu penuh dengan pangung sandiwara tidak semua yang kamu lihat dengan kasat mata itu adalah yang sebenarnya," Karin.


Deraian air mata mengalir dengan deras dari kedua bola mata yang selama ini selalu memberikan sikap dengan dingin dari dirinya. Butiran bening mengalir dengan pelan saat gadis itu melihat dari sudut lorong rumah sakit. Di mana tempat yang ia lihat adalah orang yang terkena ganguan jiwa.


Karin menangis dengan sejadi-jadinya. Air mata yang selama ini ditahan olehnya kini mengalir dengan los. Ia melihat wanita paruh baya yang sedang memegang boneka beruang di mana wanita dengan penampilanya yang kusut ia sedang bermain dengan boneka beruang di taman tersebut.


Air mata Karin mengalir dan tidak menyangka bahwa ibunya masih hidup. Orang yang selama ini ia pikir sudah meningal ternyata masih hidup dan menginap di rumah sakit jiwa.


"Ibu....hiks. Maafkan aku yang tidak berguna ini mengapa aku baru tahu sekarang?" Bisik sendiri Karin dan terus menangis.


Karin mengetahui bahwa ibunya masih hidup dari Jessy. Saat itu Jessy kwatir bahwa Karin akan curiga denganya dan akan kemakan dengan ucapan Kira sejam yang lalu. Jadi wanita licik itu menghampiri Karin dan memberitahu rahasia yang besar itu.


Jessy dengan kejam memutar balik fakta dengan memberitahu pada gadis itu bahwa Kira yang menitipkan ibunya di rumah sakit jiwa karena kakaknya mengangap bahwa Sari adalah beban untuknya. Karin yang mengetahui hal itu sangat emosi dan syok. Dan sesuai harapan Jessy gadis itu kembali termakan dengan ucapan Jessy. Pada hal ia tidak tahu bahwa orang yang melakukan semua itu adalah yang saat ini sedang bersamanya. karena rasa penasarannya dengan apa yang diucapkan Jessy gadis itu pun pergi menyampari rumah sakit sesuak yang dikatakan oleh Jessy.


Teganya dirimu kakak. Melakukan semua ini pada ibu dia adalah wanita yang melahirkanmu bagaimana mungkin seorang anak setega itu pada ibu kandungnya sendiri. Kini aku tidak akan dan takan pernah menyesal akan apa yang aku perbuatkan untukmu. Akan aku pastikan keluarga yang kamu bangun itu hancur sehancurnya tanpa ada jejak, batin Karin meremas jari- jemarinya dengan sangat kuat.


Ibu jarinya menyeka air matanya lalu ia kembali menatap sendu ibunya yang ada di taman. Dengan berat hati gadis itu kembali memakai topi hitamnya menutup wajahnya dan ia memutar kakinya untuk pergi meningalkan sang ibu. Saat Karin yang melangkah dengan wajahnya menunduk agar tidak ada yang melihat wajahnya. Saking serius dan waspada dirinya hinga tidak melihat ke depan. Tiba-tiba tubuh Karin tertimpa tubuh kekar pria yang tinggi nan tampan. Yang sedang melangkah sambil memegang ponsel di tanganya dan membawa berbagai makanan snek di tanganya.

__ADS_1


"Brukk..." tabrakan tubuh Karin pada pria itu yang tidak lain adalah Avim.


"Auo...maaf-maafkan aku," pinta Karin meminta maaf sambil memegang dahinya yang kesakitan akibat tertimpa tubuh kekar pria itu. Dia adalah Avim sekertaris pribadi Bianco.


"Ya tidak apa-apa," jawab Avim asal karena ia lagi fokus pada teman bibinya yang ada di taman siapa lagi kalo bukan Sari.


Avim meminta maaf tanpa melihat wajah Karin saking fokusnya dia. Karin yang sedikit mengangkat matanya untuk melihat wajah Avim hanya tersenyum tipis lalu ia kembali menutup topinya dan berniat untuk melangkah pergi.


"Bibi kenapa kamu bermain di sini? Apa bibi tidak kepanasan?" Tanya Avim menghampiri wanita paruh baya yang sedang fokus bermain boneka beruang di taman. Dimana terik matahari yang mulai menerang dan sebentr lagi akan panas.


Avim menghampiri Sari yang tidak lain adalah teman bibinya sambil membungkukan tubuhnya bersujud dikaki Sari. Ya karena hari ini libur di kantor jadi sebelum bertemu dengan Kinta pria itu menghampiri teman bibinya lebih dulu.


Karin yang tadinya ingin melangkah pergi menghentikan kakinya saat mendengar bahwa pria yang tadi ditabraknya memangil ibunya dengan sebutan bibinya.


Bibi...? Siapa dia? Mengapa memangil nama mama dengan bibi? Batin Karin menatap pria itu.


"Dasar pria penghianat. Pergi kamu aku tidak sudi melihat wajahmu itu," ucap Sari ibunda Karin dan Kira pada Avim.

__ADS_1


Sari berucap seperti itu karena setiap kali melihat yang namanya seorang pria baik muda atau pun tua di pikiranya hanya terbayang wajah penghianatan Chandi dan pembantu rumah tanganya pada dirinya.


"Hei bibi aku bukan pria yang kamu maksud itu. Aku adalah si pemberi permen loli pop," papar Avim mengeluarkan permen loli pop dan menunjukan pada Sari.


Avim memang tahu cara menenangkan emosi Sari. Setiap kali ia dikatakan seperti ucapan wanita paruh baya itu maka dia akan memanjakannya dengan permen loli pop. Karena ia tahu bahwsa wanita paru baya ini menyukainya, dan hal yang selalu dilakukan itu selalu berhasil.


"Aku membencimu... Chandi... teganya kamu menghianati pernikah kita hanya karena wanita yang lebih cantik dari aku," lirih Sari menangis.


"Bibi...aku tahu apa yang kamu alami...hem jika bibi ingin menangis...menangislah aku akan memeluk bibi," pinta Avim yang langsung memeluk erat Sari.


Sejahat dan serendah apa seorang anak ia akan tetap terluka saat melihat orang yang sangat berarti baginya terluka. Ibu...aku ingin memelumu namun aku tidak bisa. Tunggulah aku setelah misi balas dendam aku berakhir aku akan datang dan membawa ibu keluar dari penjara ini. Tidak peduli dengan kondisi ibu, batin Karin.


Air mata kembali mengalir dari kedua bola mata itu. Karin berusaha menahanya namun saat melihat tangisan sang ibu yang menangis sejadi-jadinya di pelukan pria yang tidak asing bagi Karin ia hanya bisa menangis dan menatap dari kejauhan. Walau ia tidak tahu bahwa itu adalah Avim orang terdekat Kira. Suara sengukan Sari terdengar di telinga Karin ia tahu betul bagaimana rasanya dihianati oleh orang yang sangat berarti bagi kita.


Jangan pernah takut dengan manusia dan sikap romantisnya yang kamu takutkan adalah hatinya. Karena jika hatinya berubah maka sikap manisnya padamu hanyalah kenangan belaka. Hati manusia tidak bisa kita pahami seperti orangnya.


Hati manusia bagaikan hujan akan datang pada musimnya dan akan berakhir pada musimnya pula.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2