
Kira yang sedang duduk menunngu Bianco di meja makan menatap pintu utama berharap sosok pria yang ditunggunya pulang. Kira mengingat kembali kejadian dua minggu lalau dimana itu adalah perayaan eniversery pernikahanya yang berjalan tiga bulan dan saat itu dirinya bertengkar hebat dengan Saskia di pagi hari.
Sejak Saat itu Bianco lebih membela Saskia dibandingkan Kira. Bianco bahkan mengatakan pada Kira bahwa yang merupakan tamu tidak diundang adalah Kira bukan Saskia. Hati Kira saat itu sangat terluka...tentu saja wanita mana yang tidak terluka saat suaminya sendiri memilih gadis lain bukan istrinya.
Walau Kira menikahi Bianco dengan balas dendam namun tetap saja faktanya bahwa Bianco adalah cinta pertama Kira. Rasa itu masih ada sampai sekarang walau Kira sendiri belum menyadarinya.
Gadis itu menatap makanan yang ada di atas meja sudah mulai mendingin. Kira pun mencembrutkan bibirnya karena sosok yang dia nanti-nantikannya belum pulang juga. Saat Kira yang masih berusaha menahan lapar dan terus menunggu Bianco tidak lama kemudian datanglah pak Sud menghampiri gadis itu.
"Maaf nona aku baru mendapat kabar dari pak Avim bahwa tuan muda meminta nona menyelesaikan makan malam sendirian saja."
"Loh kenapa pak? bukannya hari ini Bianco pulang lebih awal?" tanya Kira menahan luka hatinya.
" Tuan muda memang akan pulang awal tapi..." pak Sud menghentikan suaranya merasa tidak enak mengatakan yang sejurnya pada Kira.
Pak Sud adalah kepala pelayan yang sudah bekerja lama dengan keluarga Bridges dan saat pertama kali bertemu Kira pak Sud langsung menyukai Kira sebagai putri kandungnya, menurut pak Sud jarang Saskia kekasih Bianco masuk dapur memasak bersama para pelayan di dapur tapi Kira, sejak awal menikah dengan Bianco sikap gadis itu tidak berubah sama sekali bahkan dia memasak dan membuat makanan sendiri untuk Bianco tanpa campur tangan cheef dapur rumah.
Walau makanan yang dibuat Kira tidak pernah dicicipi oleh Bianco tetap saja itu tidak mematahkan semangat gadis itu. Bagi Kira hal itu adalah kewajiban Kira sebagai seorang istri yang melayani suaminya. Sikapnya itulah yang membuat pak Sud sangat menyukai Kira, kadang dia merasa kasihan pada Kira karena selama 3 bulan menikah Bianco tidak pernah bersikap ramah pada Kira sikap Bianco pada Kira lebih dingin dibandingkan sikapnya pada Saskia.
****falshback
"Tapi kenapa pak? apakah tuan muda berkumpul bersama teman-temanya lagi?" Tanya Kira dengan menebak apa yang terjadi.
"Ya Nona. Tuan muda sudah makan malam bersama dengan teman-temannya di luar dan sekarang mereka masih berkumpul," jelas pak Sud menatap Kira.
__ADS_1
"Oh begitu. Baiklah aku makan sendiri saja, terimakasih pak," jawab Kira tersenyum.
"Sama-sama nona."
Sadarlah Kira mengapa kamu menunggu pria yang sama sekali tidak melihatmu. Jangankan melihat atau melirikmu tersenyum pun tidak pernah, ingat Kira tujuan awal kamu menikah mengapa kamu mengharapkan sesuatu yang sama sekali tidak akan pernah terjadi? Namun mengapa terasa sangat sesak? Hatiku berasa sangat terluka?
batin Kira.
Kira bergumam sambil mengambil nasi diatas meja untuk dimakan, pak Sud yang melihat kekecewaan di wajah Kira hanya diam tanpa berucap lagi. Lalu pak Sud membungkukan kepala ke bawah sebagai tanda hormat dan melangkah pergi meninggalkan Kira sendirian di atas meja. Kira pun mulai makan dengan sakit hati yang mendalam. Setelah menyelesaikan makan malamnya Kira mulai membereskan meja yang juga ikut dibantu oleh beberapa pelayan.
Dia adalah gadis yang sangat kuat, selama tiga bulan ini nona Kira tidak pernah meneteskan air matanya. Walau aku tahu bahwa hatinya sangat hancur selama ini... wanita mana yang tidak terluka malam pertamanya diisi dengan pembakaran gaun pengantin? Batin Sherli anak pak Sud.
Sherli adalah anak tunggal pak Sud gadis itu bekerja bersama ayahnya di rumah Bridges. Sherli memang cukup dekat dengan Kira sejak gadis itu datang ke rumah Bianco. Selama tiga bulan terakhir ini Kira selalu mencurahkan isi hatinya pada Sherli.
Selesai membereskan piring-piring yang tadi dicuci oleh Kira. Kini gadis itu melangkah keluar dari dapur untuk kembalu ke kamar saat yang bersamaan bunyi klakson mobil dari depan pintu gerbang. Kira menatap pak Sud dan para pelayan lainya yang sudah berbaris rapi untuk menyambut kedatangan tuan mereka.
"Kamu sudah pulang?" Bertanya pada Bianco dengan senyuman.
Kira bertanya pada Bianco ketika pria itu melangkah untuk menaiki tangga mau ke kamarnya. Namun sayang ucapan Kira dihiraukan Bianco melirik ke istrinya pun tidak. Kira hanya tersenyum memandangi punggung belakang Bianco yang sudah menaiki anak tangga,
"Biarkan aku yang membawa pak," ucap Kira mengambil jas kantor dari tangan pak Sud.
Pak Sud yang mendengar ucapanya Kira tersenyum lalu pria tua itu hanya memandangi pungung belakang Kira yang mulai menaiki anakan tangga menyusul Bianco.
__ADS_1
Suatu hari cintamu akan terbalaskan nona, bersabarlah Tuhan tidak tutup mata untuk istri baik seperti dirimu, batin Pak Sud.
Bianco memasuki kamar lalu ia melihat pakaian tidurnya yang sudah diapkan oleh istrinya. Bianco mengkir senyuman dibibirnya bersamaan dengan itu Kira masuk lalu menutup pintu dengan pelan, pria itu menyadari bahwa istrinya ada dibelakangnya dan ia pun melangkah menjauh dari Kira.
"Apa kamu sudah makan?" Kira sengaja bertanya. Walau sebenarnya Kira mengetahui bahwa Bianco sudah makan.
Bianco mengabaikan ucapan Kira lalu ia melangkah pergi mengambil pakaian tidur di lemari. Kira yang melihat kembali lagi bertanya.
"Pakaian tidurmu sudah aku siapkan. Apakah kamu tidak melihatnya? Maukah aku mengambilnya?"
Kira berucap sambil mengambil pakaian yang disiapkannya Lalu kembali menatap Bianco dengan senyuman yang menguatkan dirinya
"Sudah aku bilang tidak perlu melakukannya. Ada banyak pelayan yang bisa mengerjakanya jadi stop berusaha menjadi istriku," tegas Bianco menatap tajam Kira.
"Lain kali tidak perlu juga menunggu aku untuk pulang. Kita hanya menikah karena kontrak sudah aku tegaskan aku memiliki hati lain dan itu bukan kamu," lanjut Bianco.
Bianco kembali melajutkan ucapanya dan pergi berganti pakaiannya di kamar mandi. Kira masih terpaku diam membisu saat mendengar ucapan Bianco, gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam mata Kira kini berkaca-kaca menahan luka di sana, hatinya bagaikan mawar berduri mengelilinginya.
Kira...sadarlah kamu hanyalah wanita yang tidak memiliki hati, bagaimana mungkin kamu berharap Bianco jatuh cinta.... dia sudah milik orang lain. Tujuanmu menikahi karena Karin bukan cinta, batin Kira.
Gadis itu bergumam sambil menahan sesak didadanya, Kira menatap langit-langit dari jendela balkon kamar Bianco. Ia berusaha untuk tidak meneteskan air matanya namun saat mata itu berkedip sekali butiran bening mengalir dengan lancar membasahi kulit pipi Kira.
Ia berusaha untuk tidak meneteskan air mata itu lagi namun tetap saja air mata itu kembali mengalir semakin lama semakin deras... tangisan diam Kira menahan sesak didanya berusaha untuk suara sengukan tangisnya tidak terdengar oleh Bianco.
__ADS_1
Bersambung.
Note: Ingat jangan spam Next please komen sesuai isi Bab terimakasih....