
"Kepada nyonya Sari Chandi digugat hukuman 15 tahun penjara. Karena telah membunuh sang suami Dion Chandi. Dengan ini kami nyatakan kasusus ini selesai."
Tag...
Tag...
Hakim pengadilan dengan memukul balok pengadilan dua kali mendadakan sidang selesai.
"Aku tidak bersalah! Bukan aku yang membunuh Dion aku adalah korban perselingkuhanya! Ahhh...!" Jerit Sari saat tangannya mulai diborgol oleh polisi.
"Ibu...hiks..ibuku tidak bersalah pak..hiks..lepaskan ibuku..bagaimana dengan aku dan Karin pak..hiks...," tangis Kira saat melihat ibunya yang dibawa oleh polisi untuk masuk ke jeruji besi.
Kira menangis dengan keras sambil berlari mengikuti langkahan kaki mamanya dan polisi. Saat Kira melihat ibunya didorong kasar oleh polisi dengan kasar masuk ke jeruji besi itu. Tangis Kira semakin pecah.
Kira dibawa keluar secara kasar oleh pengawal Jessy meninggalkan mamanya sendiri di sana. Dari sanalah trauma mental dan Depresi menghantui Sari ketika malam pertama di gelap ia disiksa habis-habisan oleh tahanan lama siksaan itu menimbulkan Sari trauma hingga stres dan mempengaruhi mentalnya hingga berujung pada sakit Jiwa.
Butiran bening membasahi pipinya yang samar-samar, pilunya hati bagaikan tusukan duri berdatangan beriringan. Kepalanya yang disandarkan di atas tumpuan kepala sofa menatap langit-langit bintang di luar melalui balkon kamarnya.
Tetesan bening satu persatu menetes saat ia kembali membuka luka memory lama yang masih tersimpan. Perih rasanya menahan tangis dalam diam berusaha menjadi wanita yang tegar namun kepada siapa dia menopang dan menangis sejadinya.
Kira yang duduk menyandarkan kepalanya ke kepala sofa dengan melihat bintang dan bulan di langit melalui pintu dan jendela kaca balkon kamar. Air mata kembali mengalir saat dirinya mengingat kembali masa lalu kedua orang tuanya. Keluarganya yang dulu sangat bahagia penuh keharmonisan kini menjadi hancur bagaikan kepingan pecahan kaca.
"Ibu...hiks..." pecah sudah tangis Kira. Air mata yang sedari tadi mengalir dengan deras tanpa suara kini sengukan suara tangisnya memenuhi ruang kamar.
Di sisi lain Bianco yang kini menatap tajam Saskia dengan kembali memutar otaknya sebelum dirinya datang di rumah.
"Apa maksud kamu Avim?" Tanya Bianco dengan nada tinggi menatap tajam Avim.
Bianco berucap ketika Avim yang selama ini tidak mengikut campur urusan pribadinya kini Avim turut mengatakan bahwa Saskia dan Kevin benaran selingkuh. Walau ini bukan pertama kali Bianco mendengarnya namun tetap saja kemarahan jelas terlihat di mata Bianco pada Avim.
__ADS_1
"Kevin adalah orang kepercayaan aku. Dan kamu tahu bahwa aku paling tidak suka jika salah satu dari kalian yang saling memfitnah satu sama lain. Apalagi orang yang kamu fitnah adalah wanita yang sangat aku cintai."
"Aku tidak akan percaya jika kamu tidak memiliki bukti atas ucapanmu itu," ujar Bianco menatap tajam Avim yang ada di hadapanya itu.
"Tuan muda harus janji setelah mengetahui ini jangan kaget. Karena aku pun sangat syok saat tahu kebenaran ini."
"Aku tidak akan membahas hal ini jika aku tidak memiliki bukti. Bukti yang aku miliki sangat kuat itu yang memberanikan diri aku untuk mengatakanya pada tuan muda, aku tidak mau tuan muda menyesal pada akhirnya," jelas Avim.
Avim menjelaskan ucapanya sambil menyalakan tv yang ada di ruang kerja Bianco. Dimana tv itu sudah terkonet ke ponsel Avim yang beriisi vidio bukti Saskia dan Kevin menghianati Bianco.
" I love you sayang. Kamu tenang saja aku akan mengalihkan isu dengan membuat kekacauan di rumah Bianco. Dengan begitu pria tolol itu akan datang membela aku."
" Dia sangat mencintai aku tidak mungkin dia mau membela wanita kampungan itu. Setelah misi ini berhasil akan aku kabari kamu untuk melanjutkan misi kita berikutnya," ucap Saskia di ponselnya.
Saskia berucap sambil mematikan ponselnya dan mulai mencari taksi untuk mengantar dirinya ke rumah Bianco.
"Saskia...! Kevin..! Selama ini kalian beraninya bermain api di belakang aku," ucap Bianco dengan nada emosi sambil menatap tajam ke depan.
Saking emosinya Bianco pria itu membanting kasar ponsel Avim di lantai.
Woi marah boleh saja asal jangan lampiaskan ke ponsel aku. Ini ponsel keluaran baru tuan muda tampan, batin Avim ketika melihat ponselnya yang dibanting kasar oleh Bianco.
Bianco yang mengingat kembali kejadian itu menatap tajam Saskia. Darahnya mengalir mendidih seperti air yang mendidih Ia pun mengukir senyuman melihat Saskia yang masih mengembang dengan senyuman bahagia tanpa dosa itu.
Bodohnya aku terlalu percaya padamu hingga aku harus kehilangan salah satu sahabatku, kamu benar-benar licik, batin Bianco.
"Bawa dia kemari!" Jerit Bianco dengan nada tinggi sambil menatap Saskia.
Saskia yang bingung melihat Bianco yang tiba-tiba emosi tidak jelas. Saskia memutar tubuhnya melihat pintu di mana itu Kevin yang dibawa keluar oleh para bodyguard Bianco. Wajah tampan Kevin biru belau semua akibat habis dipukul habis-habisan oleh anak buah Bianco. Saskia kaget menutup mulutnya ketika Kevin menatapnya dengan wajah yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Ini sebenarnya ada apa sayang? Mengapa wajah Kevin penuh darah?" Tanya Saskia kwatir menatap Bianco.
Saskia berucap dengan nada kwatir sambil menatap Kevin lalu ia kembali mengalihkan tatapanya pada Bianco yang menatapnya tanpa sedikit pun berkedip.
"Apa kamu pura-pura tidak tahu? Saskia aku sudah mengetahui semuanya. Jadi tidak usah kamu so ketakutan di hadapan aku solah-olah dirimu tidak ada kesalahan." Tegas Bianco menatap tajam Saskia.
"Apa...?" Tanya Saskia yang mulai sadar apa maksud ucapan Bianco.
"Aku tahu semua tentang kalian. Aku tahu bahwa kamu orang yang selama ini aku anggap paling penting dalam hidupku setelah mama aku ternyata kamu selingkuhin aku dengan orang kepercayaanku."
"Sayang. Apa maksudmu? Aku...adalah,"
"Bawa kekasih gelapmu ini pergi sebelum aku berubah pikiran membunuhnya. Mulai sekarang kamu dan aku putus." Bianco melepaskan tangan Saskia dari dirinya.
"Tidak ada hubungan spesial di antara kita berdua. Aku bersyukur mengetahui ini sebelum aku becerai dengan orang yang sangat spesial untuk aku."
"Setelah dipikir-pikir aku tidak terluka sama sekali dengan kejadian ini. Aku berusaha menentang semua ucapan orang tua aku bahkan aku kehilangan sahabat aku hanya karena dirimu. Namun hal itu tidak akan terjadi lagi sudah cukup aku kehilangan sahabat, aku tidak mau kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidupku."
"Bianco. Dengarkan aku kami..."
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan Saskia. Semua bukti sudah aku dapat dan sangat kuat. Avim sudah membongkar semua kebusukanmu."
"Avim?" Tanya Saskia Kaget menatap Avim yang berdiri di belakang pungung Bianco.
Kevin yang juga kaget walau masih lemas ia menatap Avim dengan sangat tajam.
Tunggu saja pembalasanku. Akan aku pastikan nyawamu hilang ditelan bumi, batin Kevin.
Bersambung
__ADS_1