PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Andai Aku Tahu Akhirnya


__ADS_3

"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Kira saat Bianco yang mulai menelusuri kulit pahanya di mana ia yang saat itu mengenakan celana pendek selututut.


"Mengapa kamu bertanya lagi? Bukankah kamu sudah mahir dalam hal ini?" Tanya Bianco yang sudah melepaskan baju dari tubuhnya. Kini hanya tinggal tubuhnya yang tidak mengenakan baju dan menampilkan tubuh Bianco yang berotot.


Kira yang melihat tubuh sempurna suaminya itu sedikit melongo walau ini bukan yang pertama bagi gadis itu namun tetap saja ia memang mengangumi tubuh Bianco. Namun kini entah mengapa Kira sangat takut akan perubahan sikap Bianco yang seperti dulu lagi padanya bahkan kini sikapnya sangat berubah dibandingkan pertama kali Kira menikahinya.


"Lepaskan Bianco. Jangan lakukan ini..." tolak Kira ketika Bianco yang mulai memberikan kecupan-kecupan manis di lehernya untuk memberikan tanda manis pada tubuh Kira. Namun gadis itu masih berusaha melawan. Ketika Bianco yang mulai membuka kancing baju Kira pecahlah tangis Kira di bawah sana dan masih menahan tangan suaminya untuk tidak memaksa dirinya melakukan hal yang menurut Kira dipaksakan.


Ia memang menyukai hubungan suami istri namun bukan berarti hubungan itu dilakukan secara paksa seperti sekarang melainkan yang gadis itu inginkan adalah karena sama-sama membutuhkannya dan saling melengkapi satu sama lain.


"Ada apa sama kamu? Bukankah sebelum menikah dengan aku kamu sudah melayani para kebo di tempat-tempat malam? Lalu untuk apa kamu bersikap polos di hadapan aku? Pada hal kita sering melakukanya hingga berulang-ulang," pungkas Bianco menghina Kira dengan tersenyum licik menatap istrinya.


Kira yang masih menangis di bawah sana sambil bangun dari ranjang kamar dengan tatapan tajamnya pada suaminya dan sorot mata yang dingin lalu ia mengucapkan hal tidak masuk akal dan tidak sesuai fakta yang tidak ia ketahui.


"Janganlah bersikap polos di hadapan aku. Bagi aku kamu hanyalah pemuas nafsu bejat," sambung Bianco tersenyum menahan luka di dalam sana yang menolak ucapanya yang barusan ia katakan.


"Plak...." tamparan keras dari tangan Kira ketika mendengar ucapan Bianco yang terus menerus menghina dirinya. Seakan ia seperti para gadis yang suaminya itu maksudkan.


"Beraninya kamu menampar aku!" Tahan gigi-gigi Bianco dengan mendengus emosi sambil melotot matanya pada Kira dengan semua urat-urat pada wajah dan leher di dirinya muncul.


"Dasar...jala..." ucapan Bianco terhenti ketika Kira menatap suaminya itu dengan mengatakan kata-kata dan matanya berkaca-kaca akan ucapanya penuh penekanan akan kata-kata yang ia ucapkan.


"Stop mengatakan aku wanita yang tidak BAIK. JANGAN membandingkan AKU dengan wanita yang kamu tiduri di luar sana karena aku berbeda dengan mereka," cela Kira dengan emosi menahan air mata dan luka di dalam dengan penuh penekanan pada kata baik, jangan dan aku. Di dalam sana bagaikan irisan bawang sambil menatap tajam Bianco dan tetesan bening kembali mengalir membasahi wajah Kira.

__ADS_1


"Kamu berbeda dengan mereka? Benarkah? Hahhahha....hei kamu saja menikah dengan aku sudah tidak suci lagi bagaimana mungkin kamu bilang kamu berbeda dengan mereka?" Decit Bianco tersenyum licik dengan tawa yang menakutkan sambil menatap istrinya dengan rendah.


Pria itu meremas jari jemarinya sambil menatap emosi Kira. Entah mengapa tiba-tiba ingatan dirinya akan kematian ibunya yang tidak wajar kembali berputar di pikirannya. Bianco yang emosi dan tidak tahan lagi menahan semua unek-unek dirinya tentang Kira. Di mana ia tidak sangup terus menyembunyikan kejahatan yang dilakukan Kira pada ibunda Bianco.


Dengan emosi pria itu menatap tajam istrinya ia terus memegang kepalanya saat mengingat kembali bukti-bukti yang didapatkan Marcio, Avim dan pengakuan dokter Rian membuat Bianco memegang kepalanya dengan air mata yang mulai mengalir deras. Kira yang melihatnya kaget dan sangat kwatir ketika Kira menghampiri Bianco sambil menyentuh lembut bahu lebar suaminya itu tiba-tiba tangan Kira langsung ditarik kasar oleh Bianco dan diputar ke pungung belakang Kira yang membuat gadis itu kesakitan.


"Apa kamu baik-baik saja? Auooo..." Tanya Kira dengan kwatir namun ia lansung di disakiti kembali oleh suaminya itu.


"Apa yang kamu lakukan Bianco? Sakitt..." jerit Kira dengan kesakitan sambil berucap pada suaminya yang sudah dipenuhi dengan rasa emosi dimana Bianco yang kembali bersikap kasar pada dirinya.


"Siapa kamu sebenarnya? Siapa kamu yang berani menghancurkan keluarga aku...?" Teriak Bianco dengan emosi dan matanya yang melotot penuh amarah sambil menekan tangan Kira hingga gadis itu menjerit dengan kesakitan namun tidak dipeduli oleh Bianco.


"Sakitt... apa maksudmu? Aku tidak mengerti maksud perkataamu itu Bianco," jelas Kira yang masih meringis kesakitan dengan air mata kembali mengalir.


Apa...dari mana Bianco tahu semua ini? Ini hanya mimpi bukan? Tuhan katakan padaku bahwa ini hanyalah mimpi aku mencintai Bianco jadi alasan inilah yang membuat sikapnya berubah? Batin Kira yang terdiam seribu kata ketika mengetahui bahwa suaminya sudah mengetahui rahasinya. Pecahlah tangis Kira dibawah sana tanpa berucap sepatah kata pun dari mulutnya.


"Katakan pada aku. Apa alasanmu melakukan ini semua? Mengapa... mengapa...hiks..." pecahlah tangis Bianco dengan jatuh tersungkur di bawah sana.


Pria itu menangis sambil memukul-mukul dirinya seakan ia salah mencintai wanita. Wanita yang ia anggap adalah takdirnya ternyata adalah wanita yang menghilangkan nyawa ibunda Bianco.


"Kenapa kamu diam! JAWAB AKU...!" Jerit Bianco emosi bangkit berdiri dari duduknya sambil menekan kedua tanganya dibawah istrinya dengan tatapan tajam dan air mata yang mengering di wajah tampannya itu.


"Katakan pada aku bahwa kamu bukanlah salah satu orang yang bekerja sama dengan Jessy mantan kekasih ayahku untuk menghancurkan keluarga aku. Katakan ini hanyalah kebohongan agar aku bisa menjagamu..." lanjut Bianco menatap Kira dengan penuh harap bahwa itu tidaklah benar.

__ADS_1


Inilah akhir cinta aku ketika aku ingin bersamamu inilah dosa yang harus aku tangung akibat kesalahan aku selama ini, desah Kira langsung lemas di hadapan Bianco dengan tangis yang kembali pecah di bawah sana.


"Maaf, kan aku....maaf" ucap Kira menyesal menangis sejadi mungkin di bawah sana.


"Kamu berhak memarahi aku. Kamu berhak untuk melaporkan aku ke polisi tapi satu hal yang harus kamu ketahui bahwa aku tidak terlibat dalam pembunuhan ayah dan ibu," papar Kira hanya menangis di bawah kaki Bianco penuh penyesalan.


"Apa...jadi ini semua benar? Mengapa... harus orang tua aku? Mengapa harus keluarga aku? Jadi ini tujuamu menikahi aku? Balas dendam? Mengapa...?" Raung Bianco yang langsung mendaratkan satu pukulan tanganya pada tembok dengan keras hingga tanganya mengeluarkan darah.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu akan terluka.." kwatir Kira.


"Aku sudah terluka. Aku sudah hancur...!" Bianco menatap tajam Kira dengan emosi.


"Jangan salahkan aku jika kamu masuk penjara. KAMU HARUS MENANGUNG KEJAHATANMU," pekik Bianco dengan penuh penekanan pada kalimat terakhir yang ia ucapkan.


"Apa...?" Kaget Kira mengerutkan hidungnya sambil menatap bingung Bianco.


"Hallo pak polosi. Aku ingin melaporkan pembunuhan ibu aku Reka Bridges. Aku sudah menangkap pelakunya silakan datang dan bawa dia kita akan selesaikan semua ini di kantor polisi!" Lapor Bianco ketika ia menelpon polisi melaporkan kejahatan Kira.


Walau hati Bianco terluka namun kematian mamanya tidak bisa ia terima begitu saja. Kira melemas di bawah sana dengan terdiam seribu kata dan tatapan yang kosong ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya pasrah dengan keadaan walau kesalahan ini bukan dirinya yang melakukan.


Air mata kembali mengalir dengan pelan membasahi wajahnya hati hancur bagaikan kepingan kaca entah apa yang harus ia lakukan akan takdir pahit ini. Kira menghapus air matanya berusaha menahan sakitnya dimana dirinya yang masih bersimbah di bawa kaki suaminya. Air matanya menetes membasahi sepatu Bianco seketika sepatu yang ditesi air mata itu berputar untuk melangkah pergi. Kira menatap ke pungung lebar Bianco yang masih melangkah dengan iringan air yang mulai berjatuhan membasahi wajah pucatnya itu.


Jika aku tahu akhir cinta aku seperti ini maka aku tidak akan mengenal cinta, lirih Kira. Butiran bening kembali mengalir walau Kira menahan sakit di dalam sana dengan hati yang hancur

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2