PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Hujan Membasahi


__ADS_3

"Wao ternyata ada seorang menantu yang membunuh mertuanya sendiri... aduh... kita apa, kan dia sekarang?" ucap salah satu tahanan lama yang satu ruangan dengan Kira di sana.


Kira yang mendengar ucapan mereka menjadi ketakutan sambil memegang perutnya karena takut akan bayi yang ia kandung. Namun para tahanan lama itu mulai berdiskusi dan sepertinya mereka merencanakan sesuatu yang jahat untuk Kira. Mereka mematikan lampu ruang tahanan dan kini menjadi gelap gulit jumblah mereka ada lima orang yang berpostur tubuh besar semua.


"Kalian mau ngapain apa aku?" tanya Kira yang ketakutan saat lima tahan lama itu mulai mengerumi dirinya.


"Hei dia bertanya kita mau apa dengan dirinya? Berani sekali ya kamu," jawab salah satu tahanan yang mulai menarik keras rambut Kira hingga wajah Kira menghadap ke atap plafon.


"Lepaskan aku! Ini sakit..." seru Kira mulai meneteskan air matanya.


"Ayo kita berikan dia makanan indah malam ini," kata salah satu tahanan yang sedang menarik rambut Kira. Dengan keras ia membanting kepala Kira ke lantai hingga dahi Kira mengeluarkan darah.


"Jangan..." teriak Kira ketika kelima tahanan itu yang mulai bergiliran menyiksa dirinya.


Tanpa peduli dengan teriakan Kira mereka mulai menarik ramput Kira dan yang lain mulai mendorong tubuh Kira di bawah sana lalu mereka berlima menyiksa Kira dengan bergantian.


"Sakit...jangan...hiks," tangis isyak Kira ketika dua tahanan yang memukul dan menendang kuat perut Kira dibawah sana.


Saat bersamaan Karin datang dan melihat ruangan tahanan kakaknya gelap dan terjadi keributan di sana.


"Hei hentikan...! Apa yang kalian lakukan...!" teriak Karin keras hingga semua polisi di sana mendengar dan petugas polisi yang bertugas pun segera memastikan apa yang terjadi di sana.


Lampu tahanan ruangan itu di nyalakan para polisi melihat mereka berlima sedang menyiksa Kira walau ini sudah biasa namun tetap saja ini salah akhirnya mereka berlima diberikan hukuman. Karin berlari menghampiri kakaknya yang ada di jeruji besi sedang tergelatak di bawah lantai dengan wajah yang sudah berlumuran darah. kedua mata Kira yang sangat bengkak dan tidak bisa dibuka. Ia membuka sedikit melihat Karin yang menangis di luar sana


"Kakak..." tangis isyak Karin ketika melihat wajah kakaknya yang berlumuran darah. Kaki dan tangannya penuh dengan memar luka.

__ADS_1


"Apa tidak ada dari kalian yang akan membawanya ke rumah sakit? Dia sangat terluka bagaimana mungkin kalian mencuekinya seperti itu?" tanya Karin yang emosi pada para petugas polisi yang tidak ada satu pun membantu Kira.


"Dia seorang tahanan yang menghabisi ibu mertuanya. Semua tahanan di sini awal masuk juga begitu bagaimana mungkin kami menghiraukan hal ini," papar polisi.


"Apa maksudmu?" Melirik ke arah polisi yang berbicara itu.


"Kami tidak bisa membawanya ke rumah sakit karena itu tidak adil bagi tahanan yang dulu mendapat siksaan. Lagian suaminya sendiri yang melaporkanya jadi kami tidak ada hak ikut campur.


"Apa... jadi kalian menginkan dia mati seperti ini dan tersiksa? Jawab aku...!!!" Jerit Karin pada para polisi yang sama sekali tidak peduli dengan Kira yang saat ini sekarat di penjara.


Kakak... maaf, kan aku... karena aku kakak yang harus menangung semua ini... hiks...


***** Rumah Bridges.


Di sisi lain Bianco sedang berdiri di balkon kamar dekat jendela. Pria itu menatap dalam langit-langit lalu membayangkan semua kenangan saat bersama dengan Kira. Bianco menahan lukanya dan tidak terasa air mata mengalir dari sana butiran bening kembali menetes membasahi wajah Bianco yang tampan.


Di saat Bianco yang sedang menangis di kamarnya tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan datanglah Avim sekertaris pirbadinya yang langsung menghampiri bosnya itu dengan wajah yang sangat kesal.


"Apa kamu tidak punya mulut? saat masuk ke kamar orang. Di mana sopan santunmu?" ucap Bianco kesal sambil secepatnya menghapus air matanya dan kembali bersikap dingin seperti biasa.


"Tuan muda apa kamu tidak kwatir dengan kondisi nona muda? Saat ini dia tersiksa di jeruji besi. Jika kamu tidak kwatir dengan dirinya setidaknya kamu kwatirkan anak yang dikandungnya," kata Avim yang langsung menghiraukan pertanyaan Bianco dan langsung mengucapkan kekesalanya pada bosnya itu.


Avim berkata seperti itu karena sejak Kira dibawa para polisi ke tahanan ia mengikuti Kira namun ia tidak bisa masuk karena jam kunjungan sudah ditutup jadi terpaksa ia hanya menunggu dari luar saja. Dan Ia juga menyaksikan Kira yang saat itu disiksa dengan memar di sekujur tubuh Kira bahkan kedua matanya tidak bisa dibuka saking bengkaknya ia membuka namun cuma secuil penglihatan saja.


"Untuk apa aku harus menghwatirkan anaknya. Itu bukan anak aku dia adalah anak orang lain. kamu tidak tahu apa-apa jadi tidak usah kamu memaksa aku untuk kwatir dengan wanita yang tidak penting dalam hidupku," jawab Bianco cuek dan malas membahas Kira.

__ADS_1


"Terserah kamu saja. Aku sudah capek menjelaskanya. Ini adalah rekaman di mana hari ini nona muda disiksa habis-habisan dan saat ini dia sedang kesakitan di perutnya namun tidak ada yang mau membawanya ke rumah sakit karena ia seorang pelaku pembunuh mertuanya sendiri."


Avim menjelaskan semua yang terjadi hari ini di kantor polisi sambil melempar ponsel rekaman cctv siksa Kira haei ini lalu ia melangkah pergi meningalkan Bianco dengan kekesalan di wajahnya.


Bianco yang melihat kepergian Avim hingga tubuh itu menghilang dari tatapanya. Kembali meraih ponsel yang sedang menyalakan vidio Kira. Rasa kekewatiran mulai timbul di hati Bianco namun ia masih tetap pada pendirianya. Ia berusaha tenang seakan tidak terjadi apa-apa namun semakin lama rasa kekewatiran di hatinya semakin menjadi. Hingga akhirnya ia meraih jaket tebalnya di lemari dan meminta empat pengawal dengan satu supir segera mengeluarkan mobil di garansi dan mengantarnya pergi ke kantor polisi.


Mobil pun melaju pergi dengan kecepatan yang tinggi dan dikawal oleh dua mobil pengawal. Tidak lama kemudia mereka sampai di kantor polisi karena semua orang termasuk para polisi banyak yang mengenal keluarga Bridges dan ini untuk pertama kali Bianco menginjak kakinya di kantor polisi bagaikan sebuah kehormatan untuk kantor polisi itu karena anak dari keluarga yang sangat terhormat hari ini datang di kantor mereka.


"Bapak Bianco. Ada yang bisa kami bantu pak?" tanya salah seorang polisi yang saat itu sedang bertugas patroli dengan dua rekan kerjanya.


"Tidak ada. Saya hanya ingin melihat kondisi pelaku yang membunuh ibu saya," jawab Bianco dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kantor polisi.


Langkahan Bianco terhenti ketika melihat Kira yang sedang tidur dengan memar luka di sekujur tubuhnya hingga wajahnya berlumuran darah dan kedua matanya yang bengkak.


Seketika Kira bening air mata mengalir dari kedua bola matanya. Ia membuka kedua matanya walau masih sangat bengkak. Butiran air mata mengalir dengan deras saat matanya bertemu sosok mata yang sedari tadi ada di pikiranya. Terukir luka yang sangat mendalam di hati Kira terasa sesak di dadanya. Ia membalik tubuhnya agar wajahnya yang penuh luka dan air mata tidak dilihat oleh suaminya.


Hujan turun membasahi... angin kencang menerpa sekujur tubuh tangis yang mendalam harus aku tahan agar tidak dilihat olehmu.


Cinta begitu menyakitkan... jika aku tahu akhirnya seperti ini maka aku tidak akan mencintai....


Luka ini begitu menyakitkan hingga diriku sulit untuk bernafas... perih mengatakan aku baik-baik saja pada hal aku sangat tersakiti...


Hiks.... tangis Kira menahan luka dengan tidan mengeluarkan suara.


Cinta.... luka... biarkanlah itu berjalan karena hidup tidak selalu manis kamu juga harus merasakan pahitnya barulah sempurna hidupmu sama seperti cinta.

__ADS_1


Hiks.... air mata terus bercucuran di wajahnya dengan luka yang entah kapan akan sembuh, Kira.


Bersambung...


__ADS_2