
Lusy dan Zayn begitu bahagia setelah hubungan yang nekat mereka jalin, pada akhirnya sudah mendapatkan restu dari keluarga.
Pernikahan mereka telah dilaksanakan, status keduanya pun telah diakui di masyarakat dan juga negara.
“Apa kamu mau honeymoon?” tanya Zayn sambil memeluk Lusy dari belakang.
Lusy baru saja mandi setelah acara resepsi selesai, kini Zayn bergelayut manja sambil menyandarkan kepala di bahu.
“Tidak perlu,” tolak Lusy, “setiap hari saat bersamamu, sudah seperti honeymoon dan hari spesial bagiku,” imbuhnya.
Zayn merasa berbunga-bunga mendengar ucapan Lusy, kenapa istrinya yang kini pandai bicara manis.
“Kamu belajar dari mana ucapan manis itu, hm ….” Zayn gemas dan mempererat pelukan.
“Keluar begitu saja dari bibir,” jawab Lusy sambil melirik Zayn.
Zayn berdeham dan mengurai pelukan, memutar posisi tubuh sang istri hingga kini berhadapan dengannya.
“Boleh mengulang malam pertama kita?” tanya Zayn sambil meraih tali bathrobe yang dikenakan Lusy.
__ADS_1
“Malam pertama karena obat laknat,” seloroh Lusy yang diakhiri gelak tawa.
Zayn tertawa kecil, begitu bahagia melihat Lusy tertawa lepas. Saat sang istri tertawa, Zayn lantas menarik tali bathrobe hingga terlepas dan kini kain putih yang menutupi tubuh istrinya itu pun terbuka.
“Zayn.” Lusy melotot karena ternyata sang suami tidak bercanda dengan ucapannya.
“Aku menginginkanmu,” ucap Zayn.
Zayn memagut bibir Lusy, menyesap daging tak bertulang yang begitu lembut dan hangat saat disesap. Lusy memejamkan mata ketika Zayn terus memagut bibirnya, rasanya begitu manis saat pria itu memperlakukannya dengan lembut.
Zayn berjalan maju, membuat Lusy melangkah mundur. Hingga kaki Lusy terantuk ranjang, membuat wanita itu jatuh ke ranjang begitu juga Zayn.
“Aku sangat mencintaimu, Lu.”
“Kamu sudah mengatakannya ribuan kali,” seloroh Lusy.
Zayn terkekeh pelan, hingga kemudian kembali mendekatkan wajah dan menyentuhkan bibir mereka lagi. Tangan pria itu mulai menyentuh perlahan, menyibakkan bagian depan bathrobe, hingga akhirnya memampangkan tubuh indah sang istri. Jemari mulai menyusuri setiap lekuk tubuh sang istri, menyentuh hingga membuat Lusy hanya bisa pasrah dan memejamkan mata.
Keduanya larut dalam buaian ketika sentuhan mereka semakin dalam. Napas Lusy tersengal dan tidak beraturan karena gelenyar aneh merayap di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Puas melakukan pemanasan, Zayn pun mulai melakukan penyatuan, meski bukan yang pertama, tapi momen seperti ini selalu membuat jantung keduanya terpacu dan berdegup dengan cepat.
Satu dorongan langsung menembus rimba lembab yang selalu didamba. Zayn mulai menggerakkan pinggul, mengatur ritme gerakan agar tidak terlalu keras maupun pelan. Dia mulai memacu dengan kontans, cara dia mendorong membuat Lusy memejamkan mata dengan kedua tangan meremas sprei sampai kusut.
Keduanya pun masuk ke kubangan gairah, saling meneguk madu yang memabukkan untuk bisa mencapai nirwana bersama.
Ritme gerakan itu semakin cepat tatkala gelombang tinggi datang dan siap menghantam keduanya. Tubuh Lusy mengetat saat bagian intinya berdenyut karena dorongan yang diberikan Zayn. Pria itu sendiri semakin memacu dengan cepat, hingga tubuhnya menegang, menandakan akhir dari kegiatan mereka.
Lusy menatap Zayn yang terlihat lelah, saat pria itu hendak mengeluarkan miliknya, Lusy memeluk dan mencegahnya.
“Jangan langsung dilepas, biarkan salah satu dari mereka tinggal di dalam. Aku ingin memberikan Cheryl adik,” bisik Lusy, meski malu tapi harus mengatakan itu untuk membuat Zayn bahagia.
Zayn terkejut tapi juga bahagia, akhirnya Lusy benar-benar mau hamil anak mereka dan memberikan Cheryl adik.
“Nanti kita lakukan tiga kali sehari biar cepat jadi adiknya Cheryl,” goda Zayn yang disusul sebuah kecupan di pipi Lusy.
“Memang obat harus minum tiga kali sehari.” Lusy sangat gemas dan memukul lengan sang suami, lantas mendorong Zayn agar menjauh karena milik suaminya sudah kembali ke bentuk semula.
“Bukankah sehat juga kalau sering melakukannya,” seloroh Zayn menggoda Lusy.
__ADS_1
“Kalau keseringan juga nanti kehabisan tenaga,” balas Lusy tidak mau kalah, hingga kemudian keduanya tertawa bersama, melupakan semua masalah yang pernah membelenggu.