
Lusy sudah mulai mengelola butik milik Joya. Selain menjual pakaian yang tersedia, butik itu juga menerima pesanan desain khusus yang dibuat Joya maupun Lusy.
Lusy sendiri dibantu satu orang pekerja, karena butik itu baru saja dibuka dan belum memiliki banyak pembeli.
“Selamat datang.” Suara pekerja terdengar menyapa pengunjung yang masuk.
Namun, sayangnya wanita yang baru saja masuk itu bukanlah pembeli, tapi Farah yang datang ke sana untuk mencari Lusy.
“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya pelayan yang bekerja di sana dengan ramah.
Farah mengedarkan pandangan, tatapan wanita itu menunjukkan rasa tidak suka. Dia lantas melirik pelayan butik, bersikap angkuh dengan sedikit mendongakkan wajah.
“Aku ingin bertemu dengan pemilik butik ini,” ucap Farah yang mengira jika Lusy adalah pemiliknya.
“Bu Joya? Dia tidak di sini karena sedang hamil tua, jadi lebih banyak di rumah,” balas pelayan butik.
Farah langsung memicing ke arah pelayan butik, lantas kembali berkata, “Bukan dia, tapi wanita bule yang punya satu anak itu.”
“Oh, Mbak Lusy. Dia ada di ruangannya,” balas pelayan itu sambil menunjuk ke ruang kerja Lusy. Meski dia tidak terlalu suka dengan sikap Farah yang terkesan arogan, tapi juga tidak lantas membuatnya bersikap kasar.
“Panggilkan!” perintah Farah sambil membetulkan tali tas yang melingkar di pergelangan tangan.
__ADS_1
“Baik.” Pelayan butik itu meminta Farah untuk duduk, sedangkan dia pergi ke ruangan Lusy untuk memanggil.
Farah sendiri nekat mendatangi Lusy karena sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya. Akibat Zayn memilih Lusy, kini putranya membangkang, serta beberapa hari ini hubungannya dengan Zayn tidak harmonis sama sekali. Tepatnya setelah perdebatan dengan Zayn sore itu.
Pelayan butik bernama Vira itu mengetuk pintu, kemudian masuk setelah Lusy mempersilakan.
“Ada apa, Vir?” tanya Lusy tanpa memandang ke arah Vira yang baru saja masuk. Dia tengah fokus menggambar sketsa gaun pesanan orang.
“Itu, Mbak. Ada ibu-ibu nyari Mbak Lusy. Dia terlihat galak dan judes,” jawab Vira yang sebenarnya kurang suka dengan sikap Farah.
Lusy berhenti menyapukan ujung pensil di kertas sketsanya, kemudian menatap Vira yang berdiri di depan mejanya.
“Ibu-ibu?” Lusy mengerutkan dahi. “Apa kita membuat pelanggan tidak suka?” tanya Lusy kemudian.
Lusy terlihat berpikir, butik itu baru buka sekitar satu minggu, tidak mungkin jika ada komplain, sedangkan mereka sudah bekerja semaksimal mungkin, meski belum banyak pembeli.
“Coba aku temui.” Lusy meletakkan pensil yang dipegang di meja, kemudian berdiri hendak menemui wanita yang mencarinya.
Keduanya keluar dari ruangan Lusy, Vira memilih kembali melanjutkan pekerjaannya di belakang meja kasir.
“Permisi, maaf apa Anda mencari saya?” tanya Lusy sopan, menatap punggung wanita yang berpenampilan elegan dan modis.
__ADS_1
Farah sedang memperhatikan sekeliling butik itu, hingga menoleh ketika mendengar suara yang bicara dengan logat bahasa Indonesia yang sedikit berat.
Lusy sendiri tentunya tidak tahu jika wanita itu adalah ibunya Zayn. Dia menatap Farah dengan perasaan heran karena wanita itu mencarinya, sedangkan Lusy merasa tidak mengenal.
“Apa kamu benar Lusy?” tanya Farah dengan mata menyipit.
Lusy sedikit terkejut karena Farah tahu namanya.
“Benar, itu saya,” jawab Lusy.
Farah sekali lagi mengamati penampilan Lusy, sederhana itulah yang ada di benak Farah. Lusy hanya mengenakan celana jeans panjang, kaus polos yang dipadukan dengan kemeja. Sangat khas dengan penampilan anak muda dari negara asalnya.
“Baguslah kalau benar kamu Lusy, aku ke sini hanya ingin memperingatkanmu. Jauhi Zayn, kamu tidak layak untuknya! Zayn terlalu bagus untukmu, dia sudah aku jodohkan dengan wanita berkelas dan kaya, jadi jangan harap kamu bisa memikat dan menikah dengannya. Jadi, sebelum Zayn meninggalkanmu, lebih baik kamu tahu diri dan menjauh darinya!”
Lusy sangat terkejut mendengar ucapan Farah, tubuhnya tiba-tiba terasa kaku hingga tangan maupun kakinya sulit digerakkan.
Vira pun terkejut mendengar ucapan Farah, tahu kalau selama ini hubungan Zayn dan Lusy baik-baik saja, bahkan Zayn sangat perhatian ke Lusy.
“Ma-maaf?” Lusy masih mencoba mencerna setiap kata yang terlontar dari bibir Farah.
Farah maju satu langkah, hingga kini berhadapan tepat dengan Lusy.
__ADS_1
“Biar aku pertegas, Zayn hanya akan menikah dengan gadis yang aku jodohkan dengannya. Jadi, jika kamu masih memiliki harga diri, menjauhlah darinya!”