
Zayn berjalan keluar dari lift karena ingin menjemput Lusy dan mengajak kekasihnya itu makan siang bersama. Saat baru saja berjalan di lobi, langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.
“Kamu mau keluar?” tanya Meghan yang membawa sebuah paper bag di tangan.
Zayn awalnya memang bersikap biasa kepada Meghan sebagai seorang klien, tapi sekarang dirinya ilfeel karena Meghan akan dijodohkan dengannya.
“Aku ada urusan,” jawab Zayn dengan ekspresi wajah datar.
Meghan mengangguk, kemudian menatap Zayn yang mengalihkan pandangan darinya.
“Mamamu tadi menghubungiku, dia meminta aku mengirimkan makan siang untukmu,” kata Meghan sambil memperlihatkan paper bag di tangan.
Zayn menatap paper bag itu, tapi kemudian menengok ke arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan.
“Maaf, aku tidak punya waktu.” Zayn hendak berjalan melewati Meghan, tapi terhenti karena wanita itu mencegahnya.
__ADS_1
“Apa kamu marah karena kita dijodohkan?” tanya Meghan yang tidak senang karena Zayn begitu tak acuh.
Meghan menatap Zayn yang tidak memperhatikan dirinya, ada rasa kesal yang bercokol di dada karena sikap dingin pemuda itu.
Zayn menoleh Meghan, menatap wanita yang sudah memandang dirinya.
“Aku tidak pernah merasa dijodohkan, jika memang itu benar, maka aku tidak akan pernah menerima perjodohan itu. Lebih baik kamu pun menolak perjodohan itu, karena sudah jelas jika aku tidak akan memilihmu.” Zayn bicara dengan ekspresi wajah datar, sebelum kemudian dirinya pergi meninggalkan Meghan begitu saja.
Meghan bergeming di tempatnya, mencengkram erat tali paper bag yang dibawa, hingga menoleh dan menatap punggung pemuda yang disukainya sejak awal mereka bertemu.
Tidak jauh dari sana, Zahra tampak memperhatikan Meghan yang sedang memandang kakaknya pergi. Sejak tahu jika Zayn menyukai wanita lain, terlebih karena dirinya pun sudah bertemu dan berinteraksi dengan Lusy, membuat Zahra juga tidak terlalu menyukai Meghan.
Zahra menoleh, lantas menjawab, “Wanita yang mau dijodohkan dengan Kak Zayn, tapi untungnya kakakku tidak mau.”
“Apa?” Sherly sangat terkejut mendengar jawaban Zahra. “Sepertinya sainganku bertambah,” gumam Sherly, tidak tahu saja jika ada Lusy yang akan menjadi saingan terberatnya.
__ADS_1
**
Zayn menjemput Lusy dan Cheryl di butik, kemudian mengajak keduanya makan siang bersama.
“Kapan butiknya akan mulai dibuka?” tanya Zayn saat dirinya dan Lusy sudah duduk bersama dan memesan menu makan siang.
“Mungkin minggu depan, sekalian menunggu model pakaian terbaru siap,” jawab Lusy.
Zayn memangku Cheryl, sesekali menyuapi gadis kecil itu dengan potongan daging.
“Maaf tidak membantumu menyiapkan butik,” ucap Zayn karena sibuk dengan urusan kantor yang lama ditinggalkannya.
“Tidak apa-apa, aku dibantu dua pekerja yang memang sengaja disewa Joya. Jadi tidak terlalu repot juga,” jawab Lusy.
Zayn mengangguk mengerti, kemudian mereka pun makan siang penuh khidmat. Lusy memperhatikan bagaimana perhatiannya Zayn terhadap Cheryl, membuat hatinya semakin luluh dengan sikap pemuda itu.
__ADS_1
Selepas makan, keduanya berjalan keluar dari kafe bersamaan. Zayn menggendong Cheryl, sedangkan Lusy sesekali mengajak bercanda Cheryl yang berada di gendongan Zayn.
Hingga tanpa Zayn dan Lusy sadar, dari jauh tampak seseorang memperhatikan keduanya. Melihat bagaimana Zayn tersenyum sambil menggendong anak kecil, hingga wanita berkewarganegaraan asing itu tertawa kecil saat Zayn mengajak bicara.