
Zayn mendekat ke arah Zahra dan Sherly, membuat Sherly sedikit takut jika tindakannya ketahuan jika sedang mengerjai Zahra.
“Ayo!” ajak Zayn memandang Zahra dan mengabaikan Sherly.
Sherly terlihat memandang Zahra yang sedang mengangguk, kemudian menatap Zayn yang terus mengulas senyum ke Zahra.
“Sial! Apa mereka benar-benar memiliki hubungan?” Sherly merasa geram sendiri.
Zahra meletakkan minuman kaleng dan uang kembalian milik Sherly ke meja kecil yang ada di sana.
“Ayo!” Zahra pun bersiap pergi.
Zayn tersenyum kemudian menggandeng tangan Zahra, tapi sebelum pergi pemuda itu menoleh ke Sherly.
“Lain kali lakukan apa yang kamu butuhkan sendiri. Ingat! Kamu di sini sama-sama belajar, jangan pernah menganggap jika dirimu lebih tinggi di sini, karena bagiku semuanya sama. Jika aku mengetahui sekali lagi kamu menyuruh-nyuruh atau membentaknya, maka bersiaplah angkat kaki dari sini.” Zayn bicara dengan nada suara datar, tapi terasa menusuk saat didengar.
Zahra hanya memperhatikan sang kakak yang sedang bicara, paham betul jika Zayn memang marah terkadang memang tampak tenang, padahal menakutkan.
Sherly terkesiap mendengar ucapan Zayn, hingga menunduk kemudian menganggukkan kepala.
Zayn pun meninggalkan Sherly dan mengajak Zahra buru-buru pergi dari sana.
“Kakak sengaja mengatakan itu?” tanya Zahra saat keduanya berjalan di koridor menuju lift.
“Tentu saja, jangan sampai di lain hari dia semena-mena lagi kepadamu,” jawab Zayn tanpa menoleh sang adik.
“Kupikir Kakak akan berkata, ini adikku kamu jangan macam-macam.” Zahra bicara seolah dirinya adalah Zayn.
Zayn merasa gemas, hingga kemudian mengusap kasar rambut adiknya itu.
“Kamu bisa saja!” Zayn tertawa kecil, membuat Zahra langsung melebarkan senyum.
Di ruang pelatihan, Sherly terlihat kesal karena mendapat ancaman dari Zayn.
“Sialan, kenapa gadis itu begitu dilindungi?” Sherly begitu geram hingga mengepalkan telapak tangan.
Di saat bersamaan, temannya masuk dan berlari menghampiri Sherly.
“Sher! Kamu harus mengetahui informasi yang aku dapat!” Teman Sherly terlihat ngos-ngosan karena berlari.
“Apa?” tanya Sherly dengan nada ketus.
“Anak baru itu, dia ternyata ….” Teman Sherly menjeda ucapannya karena mengambil napas.
“Dia pacarnya Pak Zayn.” Sherly menyambung ucapan temannya yang terputus dengan nada ketus.
“Bukan! Dia itu adiknya.”
__ADS_1
“Apa?” Bola mata Sherly langsung membulat lebar. “Mampus!”
**
Hari berikutnya. Zahra pergi untuk latihan seperti biasa, tapi kini ada yang berbeda dari sikap model model seniornya.
“Eh Zahra baru datang. Mau minum?”
“Atau mau makan buah?”
“Ah … aku punya suplemen bagus, kamu mau?”
Zahra menatap satu persatu model seniornya yang menawari minum, buah, hingga suplemen. Dia keheranan, terutama karena Sherly juga ikut menawarinya.
“Apa karena peringatan Kak Zayn, jadi mereka baik kepadaku,” gumam Zahra dalam hati.
Zahra menatap satu persatu model seniornya, kemudian melebarkan senyum hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Tidak usah kakak-kakak sekalian, aku sudah kenyang dari rumah, juga belum haus,” tolak Zahra halus.
Namun, tingkah para model itu semakin membuat Zahra kebingungan, karena mereka terus memaksa meski Zahra menolak. Kini Zahra benar-benar dibuat pusing dengan sikap mereka yang seolah sedang mendekati dirinya.
“Ya Tuhan, mereka ini kesambet apa, sih?” Zahra benar-benar pusing menghadapi para seniornya, yang sebenarnya mendekati hanya demi mengambil hati Zahra kemudian meminta bantuan gadis itu untuk bisa dekat dengan Zayn.
**
“Tidak kusangka kita akan berpisah.” Teman Lusy memandang sendu ke wanita satu anak itu, karena mereka harus berpisah.
“Jangan begitu, seharusnya kita bahagia karena Lusy akhirnya mendapatkan kebebasannya,” kata teman Lusy yang lain.
Lusy memandang temannya satu persatu, tatapan wanita itu begitu sendu jika mengingat bagaimana dukungan yang diberikan teman-temannya itu saat dirinya sedang hamil.
“Aku pasti akan merindukan kalian.” Lusy memeluk semua temannya, meski kedua tangannya tidak cukup untuk meraih semua.
“Kami juga akan merindukanmu.”
“Baik-baik di luar saja, jangan ceroboh lagi.”
Lusy mengangguk-angguk mendengar nasihat teman-temannya.
Wanita itu pun berpamitan setelah selesai berkemas. Dia diantar oleh penjaga hingga sampai ke gerbang.
“Terima kasih,” ucap Lusy sambil sedikit membungkukan badan ke penjaga.
“Lain kali hati-hati, jangan ceroboh lagi agar bisa terus bersama putrimu.” Penjaga wanita itu juga memberikan nasihat ke Lusy.
Lusy tersenyum lebar, lantas mengangguk dan kembali berterima kasih.
__ADS_1
Akhirnya setelah tiga tahun, Lusy bisa bebas dan kembali melihat dunia luar. Dia menarik napas dalam-dalam, sebelum kemudian mengembuskannya perlahan.
“Akhirnya,” gumam Lusy dengan senyum di bibir.
Lusy memejamkan mata, menarik napas begitu dalam dan mengembuskan perlahan. Menikmati kebebasan yang didamba lama, agar dirinya bisa kembali bersama Cheryl.
“Lusy.”
Lusy terkejut ketika mendengar seseorang memanggil, terlebih mengenal suara itu. Dia menoleh, hingga begitu terkejut melihat Max ada di sana.
“Mau apa kamu?” Lusy menatap tidak suka kehadiran pria itu di sana.
Max mendekat ke arah Lusy, membuat wanita itu mundur dengan tatapan penuh kewaspadaan kepada Max.
“Setelah kamu keluar, apa yang akan kamu lakukan? Kamu tahu jika di luaran sana orang-orang akan memandangmu buruk dan tentunya mereka akan berpikir ulang untuk menerima mantan narapidana sepertimu,” ujar Max yang sudah menghentikan langkah, kini berdiri hanya berjarak beberapa langkah dari Lusy.
Lusy menyipitkan mata, mencoba menelaah maksud ucapan Max.
“Apa sebenarnya yang kamu inginkan?” Lucy menatap waspada.
“Ayolah, Lu. Kamu pasti mengerti dengan yang aku inginkan. Begini saja, berikan Cheryl dan aku akan menjamin hidupmu. Bagaimana?” Max membuat sebuah penawaran untuk Lusy.
Lusy tercengang mendengar penawaran Max, apa pria itu berniat menjadikannya simpanan agar bisa mendapatkan Cheryl. Lusy pun tertawa mengejek atas apa yang diinginkan Max.
“Jangan mimpi! Meski nanti hidupku susah, tapi aku tidak akan pernah lagi mengemis kepadamu! Terakhir aku begitu berharap kepadamu, tapi apa yang aku dapat? Sebuah musibah!” Lusy bicara dengan begitu tegas, dirinya tidak ingin terjerumus kedua kalinya.
Max mengepalkan kedua telapak tangan yang berada di samping tubuh, geram karena Lusy sangat keras kepala.
“Kamu jangan keras kepala, Lu!” Max tiba-tiba menarik lengan Lusy.
Lusy terkejut dengan tindakan Max, hingga mencoba melepas lengannya dari pria itu.
“Jangan bersikap kasar, Max! Kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu kepadaku! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikan Cheryl!” Lusy masih berusaha melepas Max.
Max terpaksa mendatangi Lusy, karena sebelumnya tidak berhasil mengambil Cheryl dari Joya. Max sempat ke Indonesia dan hendak mengambil Cheryl, tapi karena Joya memiliki surat hak asuh serta dia adalah ibu baptis yang sah secara hukum, membuat Max tidak bisa berkutik dan akhirnya memilih kembali untuk menemui Lusy.
“Berikan Cheryl kepadaku, Lu. Aku juga berhak atas bayi itu!” Max masih saja memaksa.
Lusy begitu geram karena Max memaksakan kehendak, sedangkan dulu saja membuangnya seperti sampah. Lusy mengangkat satu kaki, lantas menginjak kaki Max begitu kuat.
Max memekik kesakitan, hingga akhirnya melepas Lusy. Lusy pun tidak menyia-nyiakan kesempatan, lantas berlari dan masuk ke taksi yang sedang berhenti di pinggir jalan.
“Jalan, Pak!” pinta Lusy.
Sopir taksi pun langsung menjalankan mobil sesuai permintaan Lusy. Lusy melihat Max yang ingin mengejar, tapi tidak bisa menggapainya.
Lusy bernapas lega, dirinya benar-benar ketakutan tapi berusaha bersikap kuat. Dia tidak tahu dari mana Max bisa tahu kalau hari ini dirinya bebas.
__ADS_1