
Zahra berlari mengejar Zayn, rasanya tidak rela jika sang kakak keluar dari rumah itu.
“Kakak!” teriak Zahra memanggil Zayn yang berjalan menuju gerbang.
Zayn berhenti melangkah saat mendengar suara Zahra. Dia menoleh dan melihat adiknya itu berlari menghampiri dirinya.
“Kakak jangan pergi.” Zahra menggenggam tangan Zayn.
“Aku harus pergi, Za.” Zayn bicara dengan nada lembut.
“Mama dan Papa hanya sedang emosi, Kakak juga jangan terpancing emosi. Tenangkan pikiran Kakak dulu, lalu bicarakan semuanya dengan baik-baik,” ujar Zahra menasihati. “Aku mendukung Kakak memilih Kak Lusy, tapi aku juga tidak bisa jika Kakak pergi begitu saja.”
Bola mata Zahra berkaca-kaca, dirinya akan sangat kehilangan jika sang kakak pergi dari rumah itu.
Zayn menatap Zahra yang hampir menangis, lantas mengulurkan tangan dan menyentuh pipi adiknya itu.
“Meski aku pergi, kamu masih bisa menemuiku, Za. Kamu bisa main ke butik tempat Lusy bekerja, atau mendatangi apartemen yang akan aku tinggali,” ujar Zayn mencoba melegakan hati Zahra.
Zahra semakin erat menggenggam tangan Zayn, benar-benar tidak rela jika sang kakak angkat kaki dari rumah.
“Kakak jangan pergi.” Zahra terus mencoba membujuk.
__ADS_1
Zayn tersenyum, mengusap lembut rambut Zahra dan terdengar helaan napas kasar dari hidung.
“Za, aku seorang pria. Pria harus memiliki prinsip. Mungkin tindakanku akan dianggap durhaka, tapi aku memiliki janji ke wanita yang tidak bisa aku ingkari. Aku tidak bisa menorehkan trauma lagi di hatinya, aku membayangkan jika kamu yang dalam posisinya, apa mungkin aku tega tidak membela dan malah membuang.”
Zahra terdiam mendengar ucapan sang kakak, mungkin benar jika Zayn harus menepati janji yang dibuat. Belum lagi sang kakak harus bertanggung jawab karena telah tidur dengan Lusy. Dia lantas memeluk Zayn, meski ingin menangis tapi berusaha ditahan.
“Apa pun keputusan Kakak, aku akan mendukungnya. Aku yakin jika Kakak hanya ingin melakukan yang terbaik.”
Zayn tersenyum mendengar ucapan Zahra, kemudian meminta izin untuk pergi dan meminta adiknya merelakan.
**
Lusy duduk di depan cermin menatap bayangannya. Dia terdiam cukup lama sambil memikirkan hubungannya dengan Zayn.
Lusy menghela napas kasar, dirinya tidak ingin mengadu tapi semua kejadian yang menimpa akhirnya membuatnya jujur tentang yang terjadi dan ketakutannya.
“Maaf, Zayn. Aku tidak bermaksud mengadu domba dirimu dan orangtuamu. Kamu tidak mau melepasku, membuatku bingung dan bimbang.”
Lusy mencengkram sisir yang dipegangnya.
Baru saja Lusy selesai memikirkan Zayn, terdengar suara bel pintu terdengar. Wanita itu pun bergegas berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang bertamu.
__ADS_1
“Zayn.” Lusy terkejut saat melihat Zayn datang dengan masih mengenakan pakaian yang sama saat dia pergi tadi. Belum lagi Lusy melihat pipi Zayn yang sedikit merah.
“Ada apa, Zayn? Masuklah!” Lusy meminta Zayn masuk agar bisa bicara di dalam.
Begitu Lusy selesai menutup pintu, Zayn langsung memeluk dan menyandarkan dagu di pundak kekasihnya itu. Kini dia hanya butuh ketenangan yang bisa didapatkan jika bersama Lusy.
Lusy tertegun saat Zayn memeluknya, hingga merasakan betapa rapuhnya pria itu dan membuatnya berpikir jika Zayn pasti baru saja terlibat perdebatan dengan orangtuanya akibat dirinya.
“Zayn, ada apa?” tanya Lusy, satu tangan mengusap konstan punggung pria itu.
“Biarkan aku memelukmu sejenak,” lirih Zayn yang kini menenggelamkan wajah di ceruk leher Lusy.
**
Di sisi lain, terlihat punggung pria dan tangan tampak sedang memegang ponsel yang menempel di telinga.
“Kamu semalam tidak berhasil membawanya?”
“Zayn sudah membawanya terlebih dahulu. Kamu juga sudah mendapatkan foto mereka pergi, ‘kan?” Pria itu terdengar bicara.
“Tapi aku ingin lebih, aku ingin membuat Zayn salah paham. Jika seperti ini, maka sia-sia juga aku memberikan obat itu semalam!”
__ADS_1
Pria itu mendesis, sebelum kemudian kembali berkata, “Kamu pasti punya kesempatan di lain waktu, anggap saja ini percobaan yang gagal,” ujar pria itu.
“Sialan!” Terdengar umpatan dari seberang panggilan, sebelum akhirnya panggilan itu berakhir.