
Zahra berjalan di koridor perusahaan dengan kedua tangan penuh paper bag. Dia masuk ke ruangan sang kakak begitu saja, membuat Mila sampai terkejut dibuatnya.
“Kakak!” teriak Zahra karena kedua tangannya pegal.
Zahra lantas meletakkan semua barang yang dipegangnya ke atas meja kerja Zayn. Tentu saja hal yang dilakukan Zahra membuat Zayn sangat terkejut.
Ditatapnya paper bag yang ada di atas meja, lantas memandang Zahra yang terlihat mengerucutkan bibir.
“Ada apa ini? Kenapa kamu membawa barang-barang ini ke sini?” tanya Zayn keheranan.
Zahra mengerucutkan bibir, kemudian bersedekap dada memandang sang kakak yang sedang kebingungan.
“Ini gara-gara Kakak! Para model itu sepertinya menyukai Kakak, sejak mereka tahu aku adikmu. Mereka terus mendekatiku, lantas setiap hari menawariku ini itu, bahkan memberikan barang-barang seperti ini! Mereka pikir bisa menjilatku!” gerutu Zahra.
Zahra akhirnya tahu kenapa para model itu baik kepadanya, terutama model bernama Sherly. Mereka sudah tahu siapa Zahra, hingga kemudian terus mendekati gadis berusia dua puluh tiga tahun itu, hanya untuk bisa dekat dan mungkin pada akhirnya meminta bantuan Zahra agar bisa dekat dengan Zayn juga.
Zayn tertawa mendengar penjelasan Zahra, kemudian berdiri dari duduknya. Dia berjalan menghampiri adiknya, lantas mengusap kasar rambut Zahra.
“Bukankah kamu untung besar? Kamu mendapatkan banyak barang, bermerk pula.” Zayn melirik isi paper bag yang ada di atas meja.
Zahra semakin mengerucutkan bibir.
“Tapi mereka niatnya hendak menjilat,” protes Zahra.
Zayn menghela napas kasar, lantas berkata, “Kalau begitu jangan diterima, tolak dengan tegas. Jika kamu menerimanya, maka mereka akan berpikir jika kamu menerimanya dan mau didekati dengan mudah.”
Zahra terlihat berpikir saat mendengar ucapan sang kakak, hingga merasa apa yang dikatakan kakaknya benar adanya.
“Ah … Kakak benar sekali, kenapa aku tidak kepikiran ke sana.”
Zayn tertawa kecil melihat sang adik yang baru sadar dari kebingungan.
Zahra mengambil kembali beberapa paper bag yang tergeletak di meja kerja Zayn, lantas menentang dengan sedikit keberatan.
__ADS_1
“Oke, aku akan mengembalikannya. Apa-apaan mereka memberi dengan maksud, memangnya aku ini calo,” gerutu Zahra, lantas berjalan keluar meninggalkan ruangan Zayn.
Zayn geleng-geleng kepala melihat tingkah sang adik, hingga kemudian kembali duduk untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Zahra kembali ke ruang pelatihan. Dia sedikit kerepotan karena seniornya mulai berbondong-bondong mendekati dirinya setelah tahu siapa Zahra.
“Kakak sekalian, maaf. Bukannya aku tidak mau menerima, tapi aku merasa ini berlebihan,” ucap Zahra sambil mengulurkan beberapa paper bag ke model seniornya di sana.
“Ih … kenapa Zahra? Aku ikhlas kok,” kata Sherly sambil menyentuh dada.
“Benar, aku juga ikhlas,” timpal yang lain.
Zahra kebingungan menghadapi situasi ini, kemudian teringat ucapan sang kakak yang meminta Zahra agar bersikap tegas.
Zahra meletakkan paper bag itu ke lantai, kemudian memandang satu persatu model seniornya itu. Para model itu pun kebingungan, kemudian memandang Zahra yang menatap mereka.
“Bukannya aku tidak bersyukur, hanya saja ini berlebihan, apalagi aku tidak melakukan apa pun untuk mendapatkan hadiah. Tolong kakak-kakak sekalian, jangan kasih aku hadiah lagi. Terima kasih.”
Zahra menangkup kedua telapak tangan di depan wajah, seolah memohon agar para model itu paham.
Sherly memandang punggung Zahra, merasa adik kakak sama saja. Keduanya sama-sama susah didekati.
**
Akhirnya setelah Zahra bersikap tegas, para model seniornya sudah tidak memberinya barang dan mulai bersikap biasa. Mungkin mereka sudah tahu jika Zahra tidak ingin didekati karena mereka memilih maksud tersembunyi.
Tidak terasa waktu cepat berlalu. Hari pernikahan teman Zayn pun tiba, tapi sayangnya pemuda itu malah di Singapore untuk urusan bisnis, atau sebenarnya memang sengaja menghindar karena tidak ingin hatinya kembali labil.
Zayn berada di Singapore untuk urusan bisnis. Malam ini akan menghadiri sebuah acara fashion show di salah satu hotel. Pemuda itu tampak duduk menatap keluar jendela, hingga kemudian menengok ke ponsel yang berada di genggaman. Zayn membaca chat saat berbalas pesan dengan Kenzo.
[Aku akan menikah besok, awas saja jika kamu tidak datang.]
[Aku pasti akan datang, kamu jangan cemas.]
__ADS_1
[Baiklah, jangan sampai kamu melewatkan hari istimewaku.]
Zayn menghela napas kasar membaca pesan sehari sebelum Joya dan Kenzo menikah, kemudian membaca lagi deretan pesan di bawahnya.
[Aku tidak melihatmu.]
[Maaf, aku tidak bisa datang. Penerbanganku terkena delay, harus ditunda beberapa jam.]
Meskipun sudah berkata jika telah merelakan, kenyataan Zayn merasa tidak siap melihat gadis yang sudah disukainya sejak bertahun-tahun lalu menikah dengan sahabatnya sendiri. Memang jika dilihat sungguh tragis percintaan Zayn, sudah kalah dari kakak sepupu saat masih kuliah, begitu mereka lulus pun masih kalah dengan sahabatnya. Tampaknya Zayn memang tak berjodoh dengan gadis itu dan dia harus merelakan akan hal itu.
“Pak Zayn.”
Sebuah suara membuyarkan lamunan Zayn yang baru saja membaca pesan dari Kenzo. Zayn menengok ke belakang di mana sumber suara itu berasal, hingga melihat Meghan, wanita yang pernah menyewa jasa model serta bertemu dengannya di sebuaha cacara fashion show.
“Oh, hai Nona Meghan.” Zayn mengulas senyum saat melihat wanita itu.
Meghan berjalan mendekat, kemudian berdiri di samping meja Zayn.
“Apa saya boleh duduk?” tanya Meghan karena tak baik jika langsung duduk tanpa meminta izin.
“Silakan!” Zayn mempersilakan.
Meghan mengulas senyum, kemudian menarik kursi yang berhadapan dengan Zayn dan duduk di sana.
“Senang melihat Anda di sini,” ucap Meghan saat sudah duduk.
Zayn hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala.
“Apa Anda juga akan menghadiri acara fashion show nanti malam?” tanya Meghan.
“Ya, karena berada di sini, jadi sekalian saja,” jawab Zayn. Zayn awalnya sudah ingin pulang, tapi karena tak bisa datang ke acara pernikahan Kenzo, membuatnya memilih tinggal sejenak di sana.
“Kebetulan sekali, saya pun akan menghadirinya malam ini. Apa Anda ingin pergi dengan saya?” tanya Meghan, menatap Zayn penuh harap.
__ADS_1
Zayn terdiam sesaat mendengar pertanyaan Meghan, sebelum kemudian menganggukkan kepala. “Tentu.”