
“Mungkin aku harus mengumumkan tentang pernikahan kita, atau mungkin kita adalah pesta kecil-kecilan agar semua orang tahu kalau aku sudah menikah dan kamu istriku.”
Zayn bicara sambil menggoda istrinya, sebenarnya ingin tertawa saat resepsionis tidak tahu dan menganggap jika Lusy adalah kurir makanan.
Padahal jika dilihat secara fisik, mana ada bule jadi kurir makanan, bukankah sangat jarang.
“Hm … sepertinya memang salahmu karena masih terlihat seperti lajang,” balas Lusy.
Dirinya yang biasa bersikap tak acuh, kesal sendiri karena resepsionis itu malah mengatakan kalau dia ratunya Zayn.
Zayn tertawa mendengar ucapan Lusy, hingga kemudian merangkul sang istri bahkan dengan iseng mengecup pipi Lusy.
“Zayn, kalau ada yang masuk gimana? Jangan aneh-aneh.” Lusy melepas tangan Zayn yang merangkul pundaknya.
“Ga akan ada yang berani masuk tanpa persetujuanku,” ujar Zayn santai. “Lagian, macam-macam ke istri sendiri itu sah saja,” imbuh Zayn.
Lusy mencebik, kemudian memilih menyuapi suaminya dengan potongan daging.
“Zayn, kata Vira kemarin ada yang mencariku di butik, seorang pria bule,” ucap Lusy yang ingat akan cerita Vira.
__ADS_1
Zayn berhenti mengunyah, lantas menatap ke arah Lusy yang terlihat cemas dan takut.
“Aku takut kalau itu Max,” ucap Lusy lagi, menoleh hingga kini saling tatap dengan suaminya.
Zayn menelan apa yang sudah masuk ke mulut sebelum bicara.
“Kalau benar dia, aku tidak akan membiarkannya bertemu denganmu. Kamu jangan cemas.” Zayn menggenggam telapak tangan Lusy untuk menenangkan. “Apa kamu sementara waktu tidak ke butik saja, untuk berjaga-jaga jika itu benar Max dan dia mendatangimu lagi.”
Lusy terlihat berpikir, jika dirinya tidak ke butik lagi, kasihan Vira kalau harus mengurus semuanya sendiri.
“Tidak apa-apa, aku akan tetap ke butik seperti biasa. Jika memang dia yang datang lagi, aku akan berusaha sebisa mungkin menghindarinya. Dia pasti datang untuk mengambil Cheryl, selama Cheryl di rumah Mama atau di apartemen Joya, aku rasa akan aman saja,” ujar Lusy panjang lebar.
“Ya sudah kalau kamu ingin seperti itu. Tapi kalau memang kamu bertemu dengannya, segera hubungi aku,” pinta Zayn.
Lusy pergi dari ruangan Zayn setelah suaminya selesai makan. Dia juga harus segera kembali ke butik karena tidak enak meninggalkan Vira sendirian terlalu lama.
Saat melewati resepsionis, karyawan yang berjaga di sana langsung mengulas senyum ke arah Lusy, tentu saja mencoba bersikap ramah karena takut kalau sampai mendapat masalah sebab telah salah mengira sebelumnya.
“Kak Lusy.” Zahra yang baru saja keluar dari lift, melihat Lusy yang sedang berjalan di lobi.
__ADS_1
Panggilan Zahra untuk Lusy, memperkuat jika Lusy memang istri Zayn dan kini sudah menjadi Nyonya direktur perusahaan itu.
“Za, kamu tidak ada pemotretan?” tanya Lusy saat melihat adiknya berjalan cepat menghampiri dirinya.
“Ada, tapi sudah selesai,” jawab Zahra, “Kakak habis dari ruangan Kak Zayn?” tanya Zahra kemudian.
“Iya, ngantar makanan,” jawab Lusy.
Zahra pun membentuk huruf O dengan bibir, lantas mengangguk-anggukan kepala paham.
“Kamu sudah makan siang?” tanya Lusy kemudian.
“Sudah,” jawab Zahra, “apa Kakak tahu? Jadi model tidak enak, aku harus senantiasa menjaga berat badan, yang membuatku tidak bisa makan sembarangan. Ini menyebalkan,” gerutu Zahra kemudian.
Di satu sisi Zahra sangat menyukai pekerjaan itu, tapi di sisi lain dia juga tersiksa karena tidak bisa sering-sering makan makanan fast food atau berlemak karena harus menjaga berat badan idealnya.
Semua karyawan juga model tampak memperhatikan Zahra yang sedang berbincang dengan Lusy, sebagian dari mereka mulai bertanya-tanya status Lusy karena tentunya tidak ada yang tahu tentang pernikahan Zayn dan Lusy.
Saat Zahra dan Lusy masih berbincang, dari jauh tampak seseorang mengamati, hingga saat sudah memastikan, pria itu memanggil nama Lusy.
__ADS_1
“Lusy!”
Lusy dan Zahra terkejut, hingga keduanya menoleh dan melihat pria bule berjalan ke arahnya.