
“Aku keluar sebentar untuk cari sarapan, nanti langsung balik ke sini,” ucap Zayn sambil mengusap rambut Lusy.
Lusy sudah sadar sejak semalam, tapi kembali beristirahat karena masih kesakitan.
Lusy mengangguk-anggukkan kepala, tubuhnya masih susah digerakkan karena pinggangnya yang terluka.
“Hanya sebentar, aku akan bawa makanannya ke kamar.” Zayn mengecup kening Lusy, lantas pergi meninggalkan istrinya itu.
Zayn sejak kemarin belum makan, bahkan semalaman begadang menjaga Lusy hingga membuatnya lelah. Zahra sendiri memang berada di sana, tapi masih tidur dan Zayn tidak tega membangunkan.
Lusy masih berbaring, lukanya terasa sakit jika dia banyak bergerak. Sesaat setelah Zayn pergi meninggalkan kamar, terdengar lagi suara pintu terbuka hingga membuat Lusy mengira jika itu perawat.
Lusy mengabaikan dan memilih kembali memejamkan mata, berpikir jika perawat ke sana untuk mengecek kondisi Lusy.
Namun, ternyata dugaannya salah, yang datang bukanlah perawat, melainkan Farah. Farah memandang Lusy yang memejamkan mata, hingga tatapan beralih ke Zahra yang tidur meringkuk di sofa.
__ADS_1
Perasaan bersalah merayap di dada, kenapa dia bisa sejahat itu kepada wanita yang ternyata begitu baik. Dia memandang sebelah mata hanya karena status Lusy yang punya anak tanpa suami, membuatnya terus berpikiran buruk tentang wanita itu.
Namun, ucapan Zayn semalam membuka mata hati Farah. Putranya mengingatkan jika Lusy beribu-ribu kali lipat lebih baik dari wanita yang hendak dijodohkan dengan Zayn. Kini Farah menyadari jika Meghan memang tidak lebih baik dari wanita yang dianggapnya buruk.
Lusy tidak mendengar suara perawat menyapa, hingga membuatnya membuka mata dan terkejut saat melihat Farah sudah berdiri di samping ranjangnya.
“Anda.” Lusy mencoba bangun, tapi dicegah oleh Farah.
“Berbaring saja, aku tahu kamu pasti masih merasakan sakit,” ucap Farah.
Lusy akhirnya berhenti bergerak dan memilih tetap berbaring di posisinya.
“Terima kasih karena kamu menolong Zahra,” ucap Farah membuka percakapan.
Zahra yang sedang tidur, mendengar suara sang ibu menyebut namanya. Gadis itu terbangun, tapi memilih tetap berbaring dan mendengarkan apa yang dibicarakan ibunya dengan Lusy.
__ADS_1
“Tidak perlu berterima kasih. Zahra aku anggap sebagai adikku sendiri, sudah sepatutnya aku melindunginya,” balas Lusy dengan kepala miring untuk bisa memandang Farah.
Meski masih terlihat angkuh, tapi Lusy melihat penyesalan di tatapan wanita itu.
“Zayn semalam salah paham dengan ucapanku dan ayahnya. Padahal kami berniat bertanggung jawab, bukan karena kasihan,” ujar Farah kemudian.
Lusy hanya diam mendengarkan, tidak ingin menyela karena akan dianggap tidak sopan.
“Aku tidak akan berkata menyesal karena telah memandangmu buruk, semua itu terjadi karena Zayn sendiri tidak jujur sejak awal.” Mempertahankan gengsi, Farah tidak mau mengakui kesalahannya.
“Aku juga tidak bilang kalau aku baik, Nyonya.” Lusy membalas ucapan Farah.
Farah menatap Lusy, melihat wajah pucat wanita yang telah menolong putrinya.
“Namun, meski aku bersikap demikian, apa kamu bisa membantuku? Tolong bujuk Zayn agar mau pulang, bersamamu. Aku benar-benar kehilangan Zayn setelah dia meninggalkan rumah. Sebagai seorang ibu, kamu pasti juga tahu bagaimana perasaan wanita saat kehilangan anaknya. Aku mohon kepadamu, bisakah kamu membawa Zayn pulang?”
__ADS_1
Lusy sangat terkejut mendengar ucapan Farah, apakah wanita itu sangat putus asa, hingga kini memohon dan memintanya untuk membantu membujuk Zayn.
Zahra juga sangat terkejut, tidak menyangka jika ibunya akan merendah dengan cara meminta bantuan Lusy. Mungkinkah Farah sudah menyesal, ataukah sebenarnya hanya merasa sedang putus asa.