
“Nona Lusy, tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.”
Zahra langsung menoleh ke kakak iparnya, masih bingung karena ada yang mencari sang kakak.
Lusy terkejut dengan mulut menganga, kenapa pria yang pernah ditemuinya di sebuah studio photo hari itu, kini terlihat begitu senang bertemu dengannya.
Albert—pria berkewarganegaraan Inggris itu terlihat begitu senang bisa bertemu Lusy. Dia bahkan langsung mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan wanita itu.
“Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi,” kata Albert dengan senyum lebar.
Zahra menggaruk kepala tidak gatal, masih bingung dengan apa yang terjadi.
“Saya juga senang bertemu dengan Anda lagi,” balas Lusy sambil membalas jabat tangan Albert.
Albert adalah pemilik studio photo yang memesan gaun dari Joya, pria itu terlihat sangat senang bisa kembali bertemu Lusy.
“Apa kamu ada waktu untuk sekadar berbincang? Aku mencarimu di butik, tapi kata pelayan di sana kamu sedang cuti,” kata Albert setelah berjabat tangan dengan Lusy.
Lusy sekarang tahu siapa yang mencarinya, membuatnya merasa lega karena ternyata bukan Max yang mencari dirinya. Lusy hanya tidak menyangka jika pria bule yang dimaksud Vira adalah Albert, tentu saja karena Lusy berpikir jika mana mungkin Albert mencari dirinya.
__ADS_1
“Bisa,” balas Lusy yang tidak bisa menolak.
Lusy setuju bicara dengan Albert, tapi tentunya sambil mengajak Zahra untuk teman. Mereka pun bicara di kantin perusahaan, ketiganya menjadi pusat perhatian karyawan yang ada di kantin.
“Kamu tidak menghubungi lagi, jadi aku berpikir untuk mencarimu. Namun, siapa sangka setelah susah payah aku mencari, kita malah bertemu di perusahaan ini,” ujar Albert memulai perbincangan mereka.
“Saya tidak berniat jadi model, sebab itu tidak menghubungi Anda,” ucap Lusy menjelaskan.
Albert menatap Lusy sedikit kecewa, pria itu berharap banyak jika Lusy mau jadi model tetap di studionya.
Zahra malah terkejut mendengar ucapan Lusy, masih tidak tahu kalau Lusy pernah menjadi model pengganti untuk pemotretan sebuah majalah karena ternyata majalah itu tayang di luar negeri.
Lusy menggelengkan kepala pelan, sudah berjanji ke Zayn jika tidak akan pernah menjadi seorang model.
“Saya benar-benar tidak bisa menjadi seorang model, tapi adik saya bisa.” Lusy menunjuk ke Zahra yang duduk di sampingnya.
Zahra sangat terkejut karena Lusy mengajukan dirinya untuk menjadi model Albert.
“Dia masih muda, bakatnya juga tidak diragukan. Kenapa Anda tidak merekrutnya?” tanya Lusy ke Albert, setidaknya itu salah satu cara agar dirinya bisa lepas dari permintaan Albert.
__ADS_1
Albert terlihat berpikir, kemudian memperhatikan penampilan Zahra.
“Tapi aku benar-benar ingin kamu bergabung, adikmu juga bisa jadi partner kalau kamu mau. Tolong pertimbangkan tawaranku, kamu tidak akan tayang di Indonesia, tapi di Inggris. The Beauty Magazine ingin kamu yang menjadi model paten untuk setiap busana yang akan tayang di bagian fashion,” ujar Albert menjelaskan agar Lusy memikirkan tawaran darinya.
“Beauty Magazine?” Zahra membelalakkan mata mendengar nama salah satu perusahaan majalah terbesar di London-Inggris itu, tidak menyangka kalau kakak iparnya bisa menarik perhatian perusahaan itu.
“Kak, ini kesempatan besar untukmu, apa kamu tidak mau mempertimbangkannya?” tanya Zahra berbisik untuk memprovokasi.
Lusy mengulas senyum ke arah Albert, tapi kemudian berbisik, “Tidak, kakakmu akan murka kalau tahu aku jadi model.”
“Dasar Kak Zayn,” gerutu Zahra saat tahu alasan Lusy menolak.
“Bagaimana?” tanya Albert saat melihat Zahra dan Lusy selesai saling bisik.
“Maaf, saya benar-benar tidak bisa. Suami saya melarang saya jadi model, sebab itu saya tidak bisa,” jawab Lusy mencoba jujur agar Albert berhenti membujuknya.
“Siapa suamimu? Boleh aku bertemu dan bicara langsung dengannya?” tanya Albert penuh harap.
Lusy dan Zahra melongo, apa seserius itu hingga Albert sampai ingin bertemu dengan Zayn demi membujuk Lusy agar mau menjadi model.
__ADS_1