
Tidak terasa beberapa bulan berlalu setelah pesta pernikahan Lusy dan Zayn. Keduanya masih tinggal serumah dengan Farah, karena memang tidak diperbolehkan tinggal terpisah.
Meghan dan bibi Zayn tidak pernah mengganggu, hanya saja pernah sekali Lusy bertemu Meghan dan wanita itu bersikap ketus kepadanya. Untuk bibi Zayn sendiri, jangan tanya seperti apa sikapnya ke Lusy. Bibi Zayn selalu berusaha bersikap tidak mengenakan, untuk membuat Lusy tidak nyaman dan pergi dari pertemuan keluarga.
Pagi itu, Lusy berada di kamar mandi, duduk di atas kloset yang tertutup sambil memandang benda di tangannya. Dia baru saja mengecek urine untuk memastikan apakah dia hamil. Lusy belum kedatangan tamu bulanannya, sehingga berpikir jika mungkin saja dia hamil.
Namun, ini adalah kedua kalinya dia harus kecewa. Tanda di test pack yang dipegang menunjukkan garis satu. Dia tidak hamil dan mungkin hanya mengalami masalah di siklus bulanannya. Lusy mendesau frustasi, kemudian membuang testpack itu ke tempat sampah.
“Kenapa wajahmu kusut seperti itu?” tanya Zayn saat melihat Lusy keluar dari kamar mandi dengan wajah tertekuk.
Lusy terkejut melihat Zayn yang sudah siap dengan pakaian rapi, memandang dirinya dan bertanya tentang kondisinya.
“Tidak ada, hanya masih mengantuk,” jawab Lusy seadanya.
Zayn pun mengangguk sambil mengulas senyum, kemudian mengajak Lusy sarapan bersama yang lainnya.
Tidak ada perbincangan serius di meja makan, hanya ada candaan terutama tentang Zahra yang kini semakin eksis karena banyak perusahaan periklanan yang merekrut gadis itu untuk menjadi model mereka.
“Ingat, Za. Meski kamu sekarang sedang naik daun, jangan pernah berpesta di klub. Misal kamu ikut pesta pun, jangan pernah minum alkohol!” Zayn memperingatkan Zahra, takut kalau adiknya terjerumus ke pergaulan bebas.
“Iya, Kakak. Aku selalu ingat pesanmu kok. Lagi pula aku masih trauma dengan kejadian dulu,” ucap Zahra keceplosan bicara.
“Kejadian apa?” Farah langsung melotot ke Zahra karena tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Zahra langsung mengulum bibir, baru menyadari jika sudah keceplosan bicara.
Zayn mengedarkan pandangan, berpura tidak mendengar dan menghindari tatapan Farah.
“Kalian menyembunyikan sesuatu dari kami?” tanya Farah tidak senang.
Ikram juga penasaran dengan rahasia yang disembunyikan oleh Zahra dan Zayn.
“Zahra, Zayn. Kalian tidak mau cerita, atau Mama yang harus mencari tahu sendiri!” Farah menatap tajam secara bergantian Zayn dan Zahra.
Lusy memperhatikan suami dan adik iparnya, keduanya benar-benar tampak bersalah.
“Sebenarnya itu sudah sangat lama, Ma. Malam itu aku pergi dengan teman, tapi siapa sangka kalau dia malah mau berbuat jahat ke aku. Untung saja Kak Zayn datang dan menyelamatkanku,” ujar Zahra yang akhirnya bercerita.
“Kenapa kalian tidak cerita?” tanya Ikram.
“Aku takut kalian marah, makanya minta kak Zayn untuk merahasiakannya,” jawab Zahra sambil menunduk.
Farah memegangi kening sambil memijatnya pelan, sungguh semua itu membuatnya syok. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau terjadi sesuatu dengan sang putri.
“Mama malah takut sekarang kamu jadi model, bagaimana kalau ada yang menjahatimu lagi? Apa kamu berhenti saja, Za? Mama tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu,” ujar Farah karena mencemaskan keselamatan Zahra.
“Ma, jangan! Aku sudah sangat senang dengan pekerjaan ini, jangan diminta berhenti!” Zahra kebingungan karena perintah sang mama.
__ADS_1
Zayn sendiri tidak bisa membela, karena percuma melawan ibunya yang keras kepala jika sudah membuat keputusan.
“Kalau sampai ada yang berbuat jahat lagi kepadamu bagaimana? Mama tidak ingin terjadi sesuatu denganmu!” kekeh Farah.
Zahra kebingungan hingga ingin menangis, kemudian memandang sang kakak dan ayah secara bergantian seolah meminta untuk dibela.
“Jangan begitu. Zahra juga sudah terikat kontrak dengan beberapa perusahaan, jika dibatalkan pun Zahra harus membayar penalti,” ucap Ikram mencoba membela putrinya.
Zahra mengangguk-angguk setuju dengan ucapan ayahnya.
Farah tetap tidak terima, kembali bersikeras untuk meminta Zahra berhenti menjadi model.
“Mama yang akan bayar dendanya, yang terpenting dia berhenti jadi model.” Farah bersikukuh dengan keputusannya.
Zayn merasa kasihan melihat adiknya yang hampir menangis, kemudian mencoba menawarkan solusi ke semua orang.
“Bagaimana kalau carikan bodyguard yang terpercaya saja untuk menjaganya. Aku yakin dengan begini akan ada yang bertanggung jawab dan menjaga Zahra dengan baik.”
Semua orang menatap Zayn saat mendengar ide pria itu. Zahra langsung mengangguk-angguk setuju, merasa ide sang kakak begitu cemerlang, sedangkan Farah masih ragu, apakah dengan cara itu bisa efisien melindungi putrinya.
“Ide Zayn tampaknya sangat bagus, lebih baik memang memberi Zahra pengawal untuk menjaganya,” timpal Ikram.
Farah masih terlihat berpikir, kemudian berkata, “Mama akan memikirkannya, jikalaupun memang harus menggunakan pengawal, Mama yang akan pilih sendiri.”
__ADS_1