
Lusy berada di kamar bersama Cheryl. Setelah berbincang dengan Liana dan juga Joya, wanita itu memutuskan untuk beristirahat sambil melepas rindu dengan putrinya.
Cheryl sendiri terlihat anteng dan tidak rewel, mungkin karena dulu sering diajak Joya menjenguk dan melihat Lusy, sehingga bocah berumur dua tahunan itu mengenali Lusy sebagai ibunya.
“Mommy kangen sekali denganmu, sayang.”
Lusy sangat bahagia, kapan lagi dirinya bisa memeluk serta menciumi bayinya dengan leluasa seperti sekarang ini.
“Setelah ini kamu akan ikut Mommy, ‘kan? Ya ‘kan sayang?”
Lusy mengajak bicara Cheryl meski putrinya itu hanya bisa tertawa menanggapi ucapan Lusy. Cheryl belum lancar bicara dan hanya beberapa kata saja yang bisa diucapkan.
**
Zayn menuruni anak tangga saat pagi tiba. Dia masih berpakaian santai dan belum ada tanda-tanda ingin berangkat bekerja.
“Kamu ambil libur hari ini?” tanya Farah saat melihat putranya itu menarik kursi dan duduk di sebelah Zahra.
“Ya, ambil cuti sehari,” jawab Zayn. Pemuda itu mengambil sepotong roti dan langsung memakan tanpa olesan.
“Kak, jangan lupa pesananku.” Sekali lagi Zahra mengingatkan agar sang kakak tidak lupa untuk membelikan.
“Iya, bawel.” Zayn mengusap kasar pucuk kepala Zahra.
Farah hanya menggeleng kepala melihat sikap keduanya, sedangkan Ikram—ayah Zayn duduk tenang sambil sarapan.
Zayn makan sambil melamun, pikirannya masih tertuju ke Lucy, wanita yang membuatnya terpesona tapi juga ragu untuk mendekati.
“Ada apa, Zayn?” tanya Farah saat menyadari putranya melamun.
Zayn tersadar dari lamunan, kemudian menggelengkan kepala pelan.
“Tidak ada, Ma.” Zayn tersenyum tipis, kemudian memakan sarapannya.
Zahra terus memperhatikan sang kakak. Merasa jika ada yang berbeda dari kakaknya.
__ADS_1
**
Suara ketukan pintu terdengar. Zayn yang sedang berada di kamar pun menoleh ke arah pintu yang terbuka dan melihat Zahra berdiri di ambang pintu.
“Ada apa? Jangan bilang kamu mau nyuruh aku membelikan barang pesananmu itu sekarang juga,” ujar Zayn sebelum Zahra mengatakan maksud kedatangannya.
Zahra mencebik, kemudian berjalan masuk dan menyusul sang kakak yang duduk di sofa dengan laptop di pangkuan.
“Kakak ini suka sekali berpikir negatif,” gerutu Zahra, kemudian duduk di samping sang kakak.
“Lalu kamu mau apa ke kamarku?” tanya Zayn.
Zahra memperhatikan sang kakak yang masih fokus ke laptop, sebelum kemudian berkata, “Kakak dari malam sedikit aneh. Apa Kakak sedang memikirkan sesuatu?”
Zayn terkejut mendengar pertanyaan Zahra, memilih berhenti memainkan jemari di atas keyboard, lantas menoleh ke adiknya itu.
“Aneh bagaimana? Seperti kamu tahu saja,” ledek Zayn.
“Ish … meski kakak bilang aku sok tahu, tapi aku memang tahu,” balas Zahra. Ditatapnya sang kakak yang memasang wajah datar. “Kakak mau cerita kepadaku? Mungkin sedikit curhat.” Zahra menaik-turunkan kedua alis.
Zayn mengerutkan alis mendengar ucapan dan melihat sikap adiknya itu. Hingga Zayn dengan iseng langsung mengusap pucuk kepala Zahra.
Zahra sebal sendiri karena Zayn tidak mau cerita, padahal dia sudah sangat penasaran dengan hal yang membuat sang kakak berbeda.
“Aku sudah melakukannya, Kakak. Sampai pelatih bingung mau mengajariku apalagi karena aku mendapatkan nilai sempurna sebagai seorang model.” Zahra membanggakan diri, mengingat bagaimana pelatih terkagum-kagum dengannya.
Zayn memutar bola mata malas, kemudian memilih mengacuhkan adiknya itu.
“Kakak! Kapan aku bisa bekerja sebagai model sesungguhnya?” tanya Zahra begitu antusias.
“Nanti kalau ada, tapi kalau ada aku tidak akan mengajukan namamu,” jawab Zayn menggoda adiknya.
“Kakak!” teriak Zahra sebal.
**
__ADS_1
Di rumah orangtua Kenzo dan Joya. Lusy bermain dengan Cheryl setelah sarapan.
“Lu, apa kamu akan tinggal di sini?” tanya Joya saat duduk bersama Lusy. Dia ikut mengajak bermain Cheryl.
“Sepertinya tidak, Joy.” Lusy menjawab sambil memandang Cheryl yang sedang asyik dengan dunianya.
Joya tentunya terkejut mendengar jawaban Lusy, mungkinkah Lusy akan membawa Cheryl pergi. Entah kenapa tiba-tiba Joya tidak rela, sebab telah merawat Cheryl dari bayi. Namun, Joya pun tidak boleh egois, karena Lusy pun pasti memiliki keinginan dan pemikirannya sendiri.
“Aku datang ke sini hanya menggunakan visa turis, kalau masa visa ‘ku habis, nanti aku dideportasi,” kelakar Lusy yang diakhiri gelak tawa.
Lusy menoleh Joya, melihat temannya itu hanya diam menatapnya.
“Sebenarnya aku memiliki keinginan, Joy.” Lusy berhenti tertawa dan kini bicara dengan wajah penuh keseriusan.
“Apa?” tanya Joya.
“Aku ingin sekali menghabiskan waktu berdua dengan Cheryl, hanya berdua. Kamu tahu berapa banyak waktu yang aku sia-siakan, aku ingin menebus semua itu, Joy.” Lusy bicara dengan tatapan begitu sendu.
Joya tentunya paham dengan keinginan Lusy, hingga kemudian menganggukkan kepala tanda setuju dan tidak akan pernah menghalangi.
“Tapi berjanjilah, jika suatu saat nanti kamu butuh bantuan, jangan pernah merasa sungkan untuk memintanya dariku,” pinta Joya.
Lusy mengangguk-angguk, kemudian memeluk Joya yang sudah membantunya banyak hal, bahkan terus mendukung serta menemani saat dirinya dalam ambang keterpurukan.
“Terima kasih, Joy. Aku tidak tahu lagi bagaimana nasibku tanpamu,” ucap Lusy penuh rasa syukur.
“Kamu sahabatku, kita berjuang bersama sejak pertama bertemu, tentu sekarang pun aku akan terus mendukung dan membantumu,” balas Joya.
Lusy melepas pelukan dari Joya, menghapus jejak air mata yang sempat luruh dari ujung kelopak mata. Tiba-tiba Lusy ingat pertemuan pertama mereka di apartemen, hingga pertama kali mereka tinggal bersama karena apartemen itu fasilitas dari perusahaan.
“Aku ingat, saat pertama kali kita tinggal bersama, kamu selalu menangis setiap malam,” ucap Lusy tiba-tiba.
Mengingat hal itu membuat Joya jadi malu. Dulu Joya pergi karena patah hati dan kecewa dengan pemuda yang dicintainya dan kini pada akhirnya menjadi suaminya.
“Ya Tuhan, aku malu mengingat itu.” Joya sampai menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Lusy tertawa kemudian kembali bercerita. “Kamu datang ke Paris karena patah hati, setiap malam menangis dan aku selalu menemanimu di kamar.”
Joya tertawa mengingat hal itu, kemudian dia berucap, “Ya, dan mulai saat itu kita berteman baik. Masalahku adalah masalahmu juga sebaliknya. Kita saling mendukung dan membantu sama lain. Kamu adalah sahabat terbaikku, Lu. Selamanya akan seperti itu.”