Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Dilabrak


__ADS_3

Meghan terperanjat mendengar tuduhan Zayn, menatap pria itu dengan rasa tidak percaya, sebelum kemudian dia tertawa kecil.


“Apa maksudmu, aku tidak paham. Siapa yang mengganggu … siapa namanya, Lusy? Kenal saja tidak, untuk apa aku mengganggunya,” elak Meghan kemudian menggelengkan kepala pelan. “Lagi pula, video apa yang kamu maksud, kenapa kamu mengada-ada, Zayn?”


Meghan terlihat begitu tenang menanggapi Zayn yang tampak emosi.


Zayn menggebrak meja, hingga membuat beberapa pengunjung di kafe itu terkejut. Meghan terkejut dan langsung mengedarkan pandangan ke sekitar, memandang orang-orang yang kini menatap dirinya dan Zayn.


“Tidak perlu berpura-pura. Kamu pikir aku tidak tahu apa-apa? Aku memiliki rekaman video saat kamu memasukkan sesuatu ke minuman Lusy, kemudian memerintahkan pelayan untuk memberikan kepadanya. Jika kamu berani mengganggu atau menyentuh seujung rambutnya, maka akan aku pastikan tamat riwayatmu!” ancam Zayn lantas memukul meja dengan kepalan tangan, sebelum kemudian berdiri tegap dan menatap Meghan dengan sorot mata mengintimidasi.


Meghan menelan ludah, tapi tentunya tidak akan mengalah atau mengakui dengan mudah.


Zayn berniat meninggalkan Meghan, hingga langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Meghan.


“Kenapa kamu memilihnya, apa bagusnya dia? Wanita yang hamil di luar nikah, mantan narapidana. Tidak ada yang baik darinya, untuk apa kamu mempertahankannya?”


Zayn tersenyum miring mendengar ucapan Meghan, dia sedikit menoleh tanpa memutar badan.


“Wanita egois dan picik sepertimu, tidak akan tahu apa-apa tentang perasaan.”


Zayn lantas melanjutkan langkah setelah mengucapkan kalimat itu, meninggalkan Meghan setelah selesai memperingatkan.


Meghan mengepalkan telapak tangan, kenapa Zayn memilih Lusy yang dianggap tidak seberapa ketimbang dirinya.

__ADS_1


“Apa istimewanya wanita itu? Dia tidak lebih baik dariku!”


**


Lusy pergi ke butik setelah Zayn pergi karena berkata jika ada perlu. Dia tidak mungkin membiarkan Vira bekerja sendirian hari itu, sehingga tetap datang meski telat.


“Anda tidak boleh masuk!”


Suara Vira terdengar setengah berteriak dari luar, Lusy penasaran dengan siapa yang datang, hingga bangun dari duduk dan membuka pintu.


Saat baru saja membuka pintu, Lusy begitu terkejut saat sebuah tamparan mendarat di pipinya. Dia menatap siapa yang berdiri di hadapannya dengan amarah berapi-api, sambil memegangi pipi yang terasa panas.


“Mbak Lusy!” Vira sangat terkejut ketika melihat wanita itu ditampar.


“Agh!” Lusy menahan rambut agar tidak semakin tertarik, kulit kepalanya terasa perih karena Farah menjambak begitu kuat.


“Bu! Sabar! Lepas rambut Mbak Lusy!” Vira berusaha menolong Lusy yang ditarik dan diseret ke arah pintu keluar.


“Diam kamu!” bentak Farah.


Vira sangat terkejut karena Farah begitu galak, belum lagi dirinya panik karena Lusy kesakitan akibat dijambak dan ditarik paksa Farah.


Farah menarik Lusy hingga keluar butik, lantas melepas rambut ibu satu anak itu dengan sedikit mendorong, membuat Lusy jatuh ke tanah.

__ADS_1


Vira berlari mendekat, lantas membantu Lusy untuk bangun.


“Kamu ini wanita tak tahu diri, sudah berbuat buruk di masa lalu, kini menjerat pria lain untuk menidurimu! Apa kamu pikir aku tidak tahu dengan yang kamu lakukan? Kamu hanya ingin memanfaatkan Zayn saja, ‘kan!” hardik Farah dengan tatapan berapi-api.


Lusy menggelengkan kepala, menyanggah semua yang dituduhkan Farah.


Vira merasa kasihan kepada Lusy, membantu berdiri kemudian memeluk teman kerjanya itu.


“Bu, kalau ada masalah, bicarakan baik-baik, jangan main seret begini!” Vira tidak terima dengan sikap kasar Farah.


“Diam kamu! Kamu tidak tahu apa-apa, gara-ara dia, putraku pergi dari rumah. Wanita macam dia ini memang penyakit yang bisa menjangkit dan menghancurkan masa depan orang lain!” Farah tidak puas hanya dengan mengamuk, wanita itu juga memaki dan menghina Lusy.


Orang-orang yang berlalu-lalang tampak memperhatikan apa yang terjadi, mereka kini menonton Farah yang sedang melabrak Lusy.


Lusy menahan sakit di pipi, kepala, dan hati, tidak menyangka di kota itu dirinya akan mendapatkan makian dan hinaan. Sangat berbeda dengan kota kecil tempatnya tinggal, di mana mereka tidak mempermasalahkan statusnya.


“Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi Zayn, tapi kamu tidak mengindahkannya dan malah membuatnya pergi dari rumah hanya untuk mempertahankanmu! Dengarkan, jika kamu masih memiliki muka, tinggalkan Zayn, biarkan dia hidup tenang dan nyaman seperti dulu! Kehadiranmu di hidup putraku, hanya akan membawa petaka!”


Setelah puas menghina dan mencaci, Farah pun pergi dari tempat itu.


Lusy masih memegangi pipi, Vira sendiri masih merangkul dan memeluk Lusy.


Lusy menahan sesak di dada, kenapa dirinya harus mendapatkan perlakuan seperti ini. Ketakutannya tentang reaksi keluarga Zayn terbukti, dirinya sejak awal ragu apakah keluarga Zayn bisa menerimanya. Kini dia sudah mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2