Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Wanitaku


__ADS_3

Zayn sedang bicara dengan teman-temannya, hingga tiba-tiba beberapa orang yang ada di area itu tampak menunjuk ke satu arah sambil bicara tapi tidak didengar jelas oleh Zayn.


“Ayo lihat ke sana!”


Zayn mendengar seseorang bicara ingin melihat sesuatu, hingga teman Zayn yang memang menghadap ke arah Lusy, melihat lengan wanita itu dicengkram oleh seorang pemuda.


“Ada apa di sana?” Teman Zayn yang awalnya duduk di atas motor, kemudian turun untuk memastikan apa yang terjadi.


Zayn pun menoleh dan memandang ke arah temannya melihat, hingga dia begitu terkejut ketika melihat pemuda mengangkat tangan dan ingin menampar Lusy.


"Sialan!" umpat Zayn kemudian berlari menghampiri Lusy.


Teman-teman Zayn terkejut karena pemuda itu berlari, hingga mereka pun ikut menyusul Zayn yang pergi ke arah keributan.


“Dasar wanita sialan, beraninya menamparku!” Pemuda itu tidak terima ditampar, hingga akhirnya menampar balik Lusy dengan keras, membuat wanita itu sampai memalingkan wajah.


Lusy merasakan pipinya begitu panas, kini kulit putih itu membekas warna merah akibat tamparan dari pemuda yang tidak dikenalnya itu.


Zayn begitu geram melihat pemuda tadi berani menampar Lusy. Dia menarik lengan pemuda itu, lantas melayangkan bogem mentah di pipi dan membuat pemuda tadi tersungkur di tanah.

__ADS_1


Lusy sangat terkejut melihat kedatangan Zayn dan langsung memukul pemuda tadi. Dia memegang pipi yang terasa panas, sedangkan tatapan tertuju ke Zayn yang tampak begitu murka.


“Siapa kamu? Berani-beraninya memukulku!” geram pemuda yang terkena pukul.


Tidak banyak bicara, Zayn langsung membungkuk, meraih kaus bagian dada pemuda tadi, menariknya kuat agar pemuda itu bangun, sebelum kemudian kembali melayangkan pukulan yang tepat mengenai wajah pria itu lagi. Tidak hanya sekali, Zayn memukul pemuda itu berkali-kali.


“Berani menyentuh wanitaku, maka rasaka akibatnya!” geram Zayn yang kembali memukul.


Lusy bergeming mendengar perkataan Zayn, ditatapnya pemuda yang kini sedang menghajar pemuda lain.


Teman-teman Zayn cemas karena pemuda itu terus memukuli, hingga akhirnya mereka pun melerai dan memisah keduanya. Satu di antara mereka menahan tubuh Zayn, sedangkan yang lain berdiri di antara Zayn dan pemuda tadi.


“Lepaskan! Biar aku beri pelajaran dia! Berani-beraninya memukul kekasihku!” Zayn mencoba memberontak agar temannya melepas, tapi usahanya sia-sia.


Lusy sendiri terhenyak mendengar Zayn menyebut dirinya kekasih, hingga wanita itu menurunkan pandangan saat teman-teman Zayn menatap dirinya.


“Pergi lo!” Teman Zayn mengusir pemuda yang babak belur karena dipukuli Zayn.


Pemuda mabuk tadi terlihat kesal, menatap tajam ke Zayn dan Lusy bergantian, sebelum kemudian pergi dari sana.

__ADS_1


Teman Zayn akhirnya melepas pemuda itu. Zayn menoleh dan memandang ke arah Lusy, sebelum kemudian menghampiri.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Zayn dengan tangan terulur seolah ingin menyentuh pipi Lusy.


Teman-teman Zayn mengamati, keempat pemuda itu merapat dan kemudian saling bisik.


“Beneran pacarnya? Gue baru tahu.”


“Ssttt ….” Teman lainnya meminta diam agar tidak mengganggu Zayn yang sedang bicara dengan Lusy.


Lusy menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Zayn, lantas mengulurkan ponsel dan memberikan ke pemuda itu.


“Aku keluar dari mobil karena ponselmu terus berdering, mungkin ini panggilan penting Zayn.”


Zayn menatap ponselnya, tapi alih-alih mengambil untuk melihat siapa yang menghubungi, Zayn malah memasukkan ponsel ke saku celana seolah tidak peduli dengan siapa yang menghubunginya.


Lusy terkejut karena Zayn mengabaikan panggilan itu, ditatapnya pemuda yang terlihat begitu cemas. Zayn benar-benar mengkhawatirkan dirinya.


“Kita obati dulu pipimu,” ucap Zayn yang kemudian tanpa permisi menggenggam tangan Lusy.

__ADS_1


Teman-teman Zayn melongo, baru kali ini mereka melihat Zayn dekat dan perhatian kepada wanita, bahkan menggandeng tangan seorang wanita.


“Benar-benar kekasihnya itu, fix no debat.”


__ADS_2