Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Arena balap


__ADS_3

“Ada apa ke sini?” tanya Lusy saat membuka pintu dan melihat Zayn kini berdiri di hadapannya.


“Kamu mau pergi?” tanya Zayn saat melihat Lusy sudah berpakaian rapi.


Setelah bicara dan sedikit berdebat dengan ibunya, Zayn memilih keluar hanya untuk menenangkan pikirannya.


“Joya menghubungiku, dia bilang kalau ingin mengajakku melihat tempat yang akan dijadikannya untuk membuka butik,” jawab Lusy.


“Kalau begitu biar aku antar, sudah terlanjur juga aku di sini.”


Lusy terlihat kikuk mendengar ucapan Zayn, tapi kemudian mengangguk setuju karena tidak ingin membuat pria yang berniat baik kepadanya itu kecewa.


Mereka pun pergi ke alamat yang dikirimkan Joya. Di sana mereka melihat-lihat toko yang akan dijadikan butik.


“Lokasinya strategis, di sini juga belum terlalu banyak toko pakaian. Bagaimana menurutmu?” tanya Joya ke Lusy.


Lusy mengamati sekitar, hingga kemudian menatap Joya yang sudah menunggu jawaban darinya.


“Tempatnya bagus, ini sangat cocok, Joy.”


Joya senang karena Lusy setuju dan cocok dengan tempat yang dipilihkannya, hingga kemudian mereka pun menghubungi sang pemilik dan berkata jika akan menyewa tempat itu. Selepas meninjau toko yang akan dijadikan butik, mereka pun makan bersama.


“Apa boleh nanti Cheryl menginap di tempatku?” tanya Joya yang sebenarnya sangat rindu dengan balita itu.


Lusy menoleh Cheryl yang duduk di sebelahnya dan sedang sibuk memakan buah strawbery.


“Tentu saja boleh,” jawab Lusy.


Zayn memperhatikan Lusy, saat di dekat wanita itu, tidak ada keinginan untuk melepas pandangan dari Lusy.


Setelah makan usai, hari sudah berganti malam, lampu jalanan dan bangunan-bangunan sudah mulai menyala menerangi isi kota.


Kini tinggal Zayn dan Lusy yang berada di mobil karena Cheryl diajak Joya.

__ADS_1


“Seharian ini kamu terus bersamaku, memangnya kamu belum bekerja?” tanya Lusy untuk memecah keheningan kabin mobil. Sejak mereka berpisah dari Joya, keduanya hanya duduk diam menatap aspal jalanan.


Zayn menoleh sekilas, hingga kemudian mengulas senyum.


“Mungkin besok aku baru akan kembali ke perusahaan,” jawab Zayn.


Lusy mengangguk-angguk sebelum kemudian memilih kembali menatap aspal jalanan, kabin mobil pun kini kembali hening, hanya terdengar suara mesin.


Hingga ponsel Zayn tiba-tiba berdering, pemuda itu pun melihat nama yang terpampang di sana.


“Halo.” Zayn langsung menjawab panggilan dari temannya.


“Zayn, apa kamu bisa datang ke arena balap sekarang?” Suara pria terdengar dari seberang panggilan.


Zayn memang sengaja menyalakan pengeras suara karena tidak mungkin menyetir sambil memegang ponsel.


“Apa ada masalah?” tanya Zayn yang memang sudah lama tidak datang ke tempat itu sebab sibuk mengejar Lusy.


“Ya, sedikit.”


Zayn mengakhiri panggilan itu, kemudian menoleh Lusy yang ternyata sudah menatap dirinya.


“Aku ada urusan sebentar yang harus diselesaikan, apa kamu tidak keberatan jika kita pergi ke sana sebentar?” tanya Zayn meminta izin, jika Lusy tidak mau ikut, maka dirinya akan memilih mengantar wanita itu terlebih dahulu.


“Tidak masalah.”


Satu jawaban yang membuat Zayn tersenyum karena Lusy tidak keberatan.


Mereka pun pergi menuju ke tempat yang biasa diadakan balap liar. Di tempat itu terlihat begitu ramai dengan banyaknya pemuda maupun gadis yang datang untuk melihat balap liar, motor-motor bermesin kapasitas besar terparkir rapi berjajar di sepanjang jalannya.


“Kamu tunggu di sini sebentar, aku tidak akan lama,” ucap Zayn sambil melepas seat belt.


Lusy mengangguk menanggapi ucapan Zayn, kemudian menatap pemuda itu keluar dari mobil. Dia melihat Zayn yang berjalan ke arah kerumunan pemuda yang tampak langsung menyambut kedatangan Zayn.

__ADS_1


Lusy menunggu di sana, memperhatikan sekitar yang ramai dengan remaja yang berumur antara tujuh belas hingga dua puluh lima tahun, mungkin ada yang lebih. Saat sedang menunggu, ponsel Zayn yang berada di dashboard terus berdering, Lusy hanya melihat dan tidak berani menjawab.


Panggilan itu berakhir, tapi sedetik kemudian kembali berdering. Lusy akhirnya memilih mengambil dan melihat tulisan ‘Mama’ terpampang di layar. Berpikir jika mungkin itu panggilan penting. Lusy pun memilih keluar untuk menyusul Zayn dan memberitahukan tentang panggilan itu.


Ponsel Zayn masih berdering saat ada di genggaman Lusy. Wanita itu baru saja menutup pintu mobil dan berniat menyusul Zayn, hingga tiba-tiba ada seseorang yang menyenggol lengannya sedikit keras.


“Kalau jalan pakai mata!” umpat seorang pemuda yang menyenggol Lusy.


Aroma alkohol menyeruak dari mulut pemuda itu, hingga Lusy bisa mencium bau menyengat yang dihasilkan dari minuman beralkohol.


“Maaf,” ucap Lusy yang tidak ingin membuat masalah di sana.


Lusy berniat segera pergi dari sana, tapi lengannya tiba-tiba dicekal oleh pemuda tadi.


“Wow … ternyata kamu bule.” Pemuda itu menyeringai sambil menahan Lusy.


“Jangan kurang ajar, lepaskan!” Lusy berusaha menepis tangan pemuda itu dari lengannya, tapi pemuda tadi mencengkram erat lengan Lusy.


“Apa yang dilakukan bule di sini? Tersesat atau mencari kesenangan?” Pemuda itu menatap intens Lusy yang memang berparas manis.


Lusy masih berusaha melepas tangan pemuda itu, tapi sia-sia karena pemuda itu semakin mencengkram erat hingga lengannya terasa sakit.


“Apa kamu sendiri? Mau ikut denganku?” tanya pemuda yang sudah terpengaruh alkohol, sebuah pertanyaan yang sebenarnya adalah sebuah ajakan paksa.


“Aku tidak ada urusan denganmu, lepaskan!” Lusy terus berusaha melepas. Dia mulai ketakutan, menoleh ke arah Zayn yang berdiri agak jauh dan memunggungi dirinya.


Pemuda itu sangat kesal karena Lusy menolak dirinya. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Lusy.


Lusy yang tidak terima langsung melayangkan tamparan ke pipi pemuda itu. “Jangan kurang ajar!”


Suara Lusy begitu lantang, hingga membuat orang-orang yang ada di dekat sana menoleh ke arah mereka.


“Dasar cewek sialan!” umpat pemuda itu yang geram karena terkena tampar.

__ADS_1


Pemuda itu marah, hingga mengangkat tangan dan bersiap untuk memukul Lusy.


__ADS_2