
Zayn menggendong Cheryl yang tertidur, berjalan bersama Lusy menuju rumah.
“Seharian kamu bermain dengan Cheryl, apa kamu tidak lelah?” tanya Lusy yang tak enak hati karena sudah merepotkan Zayn.
Zayn sejak siang menjaga Cheryl, bahkan mengajak keluar dan bermain saat Lusy sibuk bekerja.
“Tidak, menyenangkan saat bermain dengannya,” jawab Zayn dengan seulas senyum saat menoleh Lusy, sebelum kemudian memandang Cheryl yang digendongnya.
“Apa kamu suka anak-anak? Aku lihat kamu sangat perhatian dan telaten kepada Cheryl,” kata Lusy lagi. Wanita itu menyelipkan helaian rambut yang tertepa angin, dari sudut pandang Zayn sekarang, Lusy terlihat begitu sempurna.
“Sebenarnya biasa saja,” balas Zayn jujur. “Tapi karena aku punya adik perempuan, jadi mungkin lebih peka dengan Cheryl,” ujar Zayn yang tak ingin berpura-pura dalam bicara, baginya itu lebih baik agar tidak ada salah paham di belakang.
Lusy mengangguk-angguk mendengar ucapan Zayn, kemudian segera membuka pintu begitu sampai di rumah.
“Biar aku bawa Cheryl masuk,” kata Lusy sembari mengambil putrinya dari gendongan Zayn.
Zayn memberikan Cheryl ke Lusy, tapi dirinya masih berdiri di ambang pintu memandang punggung Lusy.
Lusy berhenti melangkah, kemudian menoleh dan memandang Zayn yang masih di sana.
“Apa kamu mau mampir sebentar dan minum kopi?” tanya Lusy. Dia hanya merasa tidak sopan jika langsung mengusir pemuda itu, Zayn terlalu baik untuk diperlakukan tak acuh.
Zayn tersenyum mendengar pertanyaan Lusy, kemudian mengangguk tanda mengiakan. Awalnya Zayn berpikir jika Lusy akan terus membentengi diri dan sulit untuk diajak berkomunikasi, tapi siapa sangka jika wanita itu begitu ramah saat dirinya terus mencoba mendekati. Apa mungkin karena dirinya yang perhatian kepada Cheryl, hingga membuat Lusy akhirnya luluh dan mau bicara dengannya. Apa pun alasan Lusy mau membuka diri, tetap membuat Zayn senang.
__ADS_1
Lusy keluar dari rumah membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring camilan, langsung meletakkan ke meja di mana Zayn sudah ada di sana.
“Terima kasih karena sudah menjaga Cheryl seharian ini,” ucap Lusy sambil menyuguhkan secangkir kopi di hadapan Zayn.
Zayn tersenyum menanggapi ucapan Lusy, kemudian menghidu aroma kopi yang menguar di udara, begitu wangi seolah diseduh khusus.
“Aku di sini juga tidak ada kerjaan, jadi jangan begitu sungkan,” balas Zayn, kemudian memilih menikmati kopi buatan Lusy.
Lusy tersenyum kecil, kemudian memandang hamparan kebun anggur yang tak jauh dari rumahnya.
“Apa kamu sudah mendapatkan wine yang kamu cari?” tanya Lusy mengalihkan tatapan dari kebun anggur ke Zayn yang sedang minum kopi.
“Sudah,” jawab Zayn dengan senyum canggung di wajah, karena jelas dirinya tidak sedang mencari barang itu.
Zayn terkejut mendengar pertanyaan Lusy, hingga memandang wanita yang kini juga menatapnya.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu butuh bantuanku?” tanya Zayn langsung.
“Tidak,” jawab Lusy terkejut karena mendengar pertanyaan Zayn.
Zayn tak percaya begitu saja jika Lusy tidak butuh bantuan, mencoba bertanya lagi untuk memastikan.
“Apa kamu yakin? Jika memang butuh bantuanku, katakan saja,” ujar Zayn.
__ADS_1
“Tidak ada, serius,” balas Lusy, kemudian memilih mengambil cangkir miliknya dan menyesap perlahan.
Zayn memandang Lusy, kemudian mencoba menebak apa yang sebenarnya dipikirkan wanita itu.
“Apa kamu sebenarnya sedang takut? Takut jika pria itu datang lagi dan mengganggumu, kemudian tidak ada yang membelamu?” tanya Zayn langsung.
Lusy gelagapan mendengar pertanyaan Zayn, hingga mengulum bibir dan sedikit menundukkan kepala. Bahasa tubuhnya sudah menunjukkan jika memang itu yang mengganggu pikiran, hingga merasa takut jika Zayn pergi.
“Kamu tidak ada yang melindungikan di sini?” tanya Zayn saat melihat Lusy hanya menunduk.
Lusy menarik napas panjang dan menghela perlahan, kemudian mengangkat pandangan dan mengulas senyum di wajah.
“Ya, karena memilih untuk tinggal di sini sendiri, sudah menjadi resiko jika tak ada yang melindungi. Lagi pula, wanita sepertiku sudah dicap buruk di luar sana. Hamil di luar nikah, mantan narapidana, hal buruk apa yang tak tersemat dalam diriku? Semua orang perlahan menjauhiku, teman dekat bahkan saudara. Mungkin hanya Joya yang selalu ada untukku,” jawab Lusy yang tiba-tiba merasa perlu memberitahu Zayn.
Lusy hanya tak ingin Zayn memandang baik dirinya, sedangkan pria itu tak tahu masa lalunya. Dia tidak ingin membohongi siapapun tentang siapa dirinya yang sebenarnya, hanya ingin agar orang yang ada di sekitarnya tahu siapa dirinya, agar yang ingin dekat biar dekat begitu juga sebaliknya.
Namun, Lusy tidak tahu jika Zayn sudah mengetahui semua kisah hidupnya.
“Aku ada untukmu.” Kalimat itu lolos dari bibir Zayn.
Lusy cukup terkejut mendengar ucapan Zayn, hingga memandang pemuda itu tanpa berkedip.
“Aku sudah tahu semua tentang kehidupanmu, siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu bisa terjebak, bagaimana bisa kamu jadi narapidana, bahkan perjuanganmu mempertahankan Cheryl,” ujar Zayn menatap lekat wajah Lusy.
__ADS_1
Pandangan mereka mengunci satu sama lain. Hening hingga hanya terdengar suara ranting dan dedaunan yang bergesakkan satu sama lain karena terpaan angin.