Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Dijodohkan


__ADS_3

“Zayn, kemarilah!” Farah langsung meminta putranya yang baru saja menuruni anak tangga untuk mendekat.


Langkah Zayn melambat saat melihat siapa yang kini bersama orangtuanya. Zahra yang berjalan di samping sang kakak, bisa melihat jelas jika kakaknya terkejut.


“Kenalin, ini teman Mama. Ini Bibi Caroline dan ini suaminya Adam,” ucap Farah memperkenalkan temannya.


Namun, tatapan Zayn bukan ke kedua teman sang mama, melainkan pada gadis yang kini tersenyum kepadanya.


Farah menyadari ke mana arah tatapan Zayn, hingga menatap putri dari temannya.


“Ini Meghan, dia putri teman Mama,” ucap Farah memperkenalkan Meghan.


Zayn mengalihkan pandangan, berpikir kenapa serba kebetulan jika kliennya adalah anak teman sang mama.


“Kalian sudah saling kenal? Kenapa tatapan kalian menunjukkan jika saling kenal?” tanya Farah penasaran.


“Saya dan Zayn bekerjasama, Tan. Saya menggunakan model dari agency keluarga Tante atas rekomendasi Papa,” jawab gadis berumur dua puluh sembilan tahun itu.


Farah mengangguk-angguk paham, merasa senang karena Zayn dan Meghan ternyata sudah saling kenal sebelumnya.


Akhirnya mereka pun makan malam bersama, makan sambil membahas masalah pertemanan antara Farah dan Caroline yang memang berkebangsaan asing, serta sesekali membahas bisnis.


“Bukankah bagus, kalau kita mempererat hubungan ini?” tanya Farah ke Caroline.

__ADS_1


“Mempererat bagaimana?” tanya balik Caroline tapi dengan senyum merekah karena sudah tahu maksud Farah, tapi berpura tidak tahu.


“Anak-anak kita sudah sama-sama dewasa, mereka juga belum menikah karena terlalu sibuk bekerja, lalu kenapa tidak kita--”


Ucapan Farah terjeda saat melihat Zayn tiba-tiba meletakkan serbet di meja.


“Maaf, aku harus ke kamar mandi,” ucap Zayn kemudian memilih pergi dari sana.


Meghan menatap Zayn yang pergi, jelas sikap Zayn yang seperti ini bukan pertama kali dilihatnya.


“Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan?” tanya Ikram.


“Sebenarnya, Mama berencana menjodohkan Meghan dengan Zayn. Ya, mereka sama-sama lajang, meski mereka belum kenal dekat, tapi bisa ‘kan jika mereka saling mengenal dulu, siapa tahu cocok dan akhirnya mereka mau menikah,” jawab Farah menjelaskan ke sang suami. “Bukankah begitu, Meghan?” tanya Farah ke Meghan.


Meghan hanya mengangguk-angguk, dirinya sudah menyukai Zayn dari semenjak bertemu pertama kali, bagaimana bisa menolak jika memang akan dijodohkan.


Selain seorang desainer ternama, Meghan juga lahir di keluarga kaya yang sudah jelas bibit, bebet, dan bobotnya, belum lagi dia adalah anak dari teman Farah. Hingga semakin membuat Farah yakin jika Meghan adalah pilihan terbaik untuk putranya.


Zahra mendengarkan semua ucapan sang mama, jadi apa yang disampaikannya ke sang kakak tadi memanglah benar. Zahra berkata jika mendengar Farah bicara di telepon meminta temannya datang untuk memperkenalkan Zayn ke teman sang mama. Bahkan Zahra mendengar jika Farah ingin menjodohkan mereka.


Sebagai adik yang begitu menyayangi sang kakak, tentunya Zahra tidak akan merahasiakan hal itu dari Zayn. Dia ingin apa yang diketahuinya, maka harus diketahui oleh sang kakak juga.


Zayn tidak kembali sampai makan malam selesai, membuat Farah sedikit tidak enak hati karena putranya meninggalkan Meghan dan yang lainnya begitu saja.

__ADS_1


“Za, coba lihat kakakmu. Apa dia sakit, kenapa di kamar mandi sangat lama?” Farah meminta putrinya untuk menyusul Zayn.


Zahra mengangguk, ini kesempatan untuknya pergi dari perkumpulan para orangtua itu. Gadis itu pergi ke kamar sang kakak, mengetuk pintu tapi tidak direspon Zayn.


“Kak, ini Zahra.” Zahra kembali mengetuk pintu.


“Masuklah!” perintah Zayn.


Zahra memutar gagang pintu, kemudian melongok ke kamar sang kakak dan melihat jika sang kakak terlihat duduk di tepian ranjang.


“Kakak baik-baik saja?” tanya Zahra sambil berjalan masuk. Tidak lupa dia menutup kembali pintu kamar kakaknya.


Zayn memandang sang adik, kemudian mengangguk dan meminta Zahra duduk di sampingnya.


“Kenapa menyusul? Mama yang menyuruhmu?” tanya Zayn saat Zahra duduk di sampingnya.


Zahra mengangguk sambil menatap ekspresi wajah Zayn yang tidak senang.


“Kakak, tidak mau dijodohkan?” tanya Zahra hati-hati.


Zayn tersenyum getir mendengar pertanyaan Zahra, sejak awal dirinya sudah berkata jika tidak mau dijodohkan, tapi kenapa sang mama malah sekarang berniat demikian.


“Mama tetap akan menjodohkan Kakak karena masih lajang di usia sekarang. Kalau Kakak tidak mau dijodohkan, harusnya Kakak punya pacar,” cerocos Zahra, dia ikut sedih jika Zayn sedikit berubah sikap karena tidak menyukai sesuatu.

__ADS_1


“Aku sudah menyukai wanita lain, Za.” Zayn kelepasan bicara karena ucapan adiknya.


“Benarkah? Siapa? Apa aku kenal?”


__ADS_2