
“Ssttt ….”
Teman Zayn melirik temannya lain yang sedang menghitung uang, hingga kemudian melirik Zayn yang sedang fokus dengan ponsel.
Pemuda dengan rambut panjang setelinga dan diikat itu memberikan kode ke temannya yang memakai topi berwarna merah.
“Zayn.” Pemuda bertopi merah itu memanggil Zayn setelah diberi kode oleh temannya yang lain.
“Oh … sorry, aku baru saja membalas pesan. Bagaimana?” tanya Zayn karena merasa sejak tadi mengabaikan temannya, setelah acara balap selesai.
Zayn memang pergi ke tempat balap liar setelah mengantar Lusy pulang. Dia harus ikut mengurus balap liar itu agar mendapatkan sedikit pemasukan.
“Ini jatah punya loe,” kata pemuda bertopi merah itu.
Zayn menerima uang pemberian temannya itu, kemudian menghitung dan merasa jumlahnya terlalu banyak.
“Ini kebanyakan, bukankah seharusnya dibagi rata?” tanya Zayn sambil mengulurkan kembali uang itu ke temannya agar dihitung kembali.
“Itu jatah loe, sisanya dari kami buat hadiah menempuh hidup baru,” jawab pemuda yang rambutnya diikat.
“Bener, Zayn. Loe nikah ga kabar-kabar, jadi kita hanya bisa kasih sekarang,” timpal yang lain.
“Udah terima aja, kita tahu sekarang loe punya tanggung jawab dan pastinya butuh uang lebih juga,” balas yang lainnya.
Mereka sudah tahu soal Zayn yang diusir dari rumah, tapi tentunya mereka tidak akan membahasnya secara gamblang dengan pria itu karena menjaga perasaan Zayn.
Zayn terharu mendengar ucapan teman-temannya, tidak percaya jika solidaritas mereka benar-benar tinggi sebagai anak jalanan.
“Thanks ya, aku bersyukur punya temen seperti kalian,” ucap Zayn berterima kasih ke teman satu timnya.
__ADS_1
**
Di apartemen, Lusy merasa gelisah karena Zayn pergi lagi setelah mereka menikah, berpikir jika Zayn mungkin masih tertekan dan sedang menyesuaikan diri dengan kehidupannya sekarang.
Namun, Lusy percaya jika Zayn tidak akan kabur atau meninggalkannya. Dia tetap optimis jika mereka bisa menjalani hari bersama.
Lusy memilih menyiapkan makan malam karena sejak sore tadi Zayn belum makan. Dia hanya bisa membuat menu masakan biasa karena belum terbiasa dengan menu indonesia. Sebagai seorang istri meski belum sah secara hukum, Lusy mencoba memberikan yang terbaik untuk Zayn.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Zayn belum juga pulang.
“Apa dia akan pulang ke sini?”
Lusy tiba-tiba merasa canggung dan ragu, ini adalah hari pertama mereka sebagai suami istri, tapi Zayn malah pergi ke tempat balap liar.
Lusy sedikit putus asa, pikiran negatif mulai masuk ke pikiran, hingga dia mendengar suara pintu terbuka. Lusy berdiri dan duduknya dan buru-buru berjalan ke arah pintu.
“Kamu belum tidur?” tanya Zayn begitu melihat Lusy menantinya.
Dia tahu Zayn pasti sedang kalut dan banyak pikiran, karena itulah dia harus bisa membuat perasaan Zayn tenang dan tidak menambah beban pikiran pria yang kini jadi suaminya.
Zayn tersentuh mengetahui Lusy menunggunya pulang, lantas mendekat dan memberikan kecupan di kening istrinya itu.
Lusy terkejut dengan yang dilakukan Zayn, tapi dia cukup senang karena pria itu memperlakukannya dengan cara yang manis.
“Apa kamu sudah makan?” tanya Lusy untuk menutupi rasa kikuknya.
Zayn menggelengkan kepala dengan seulas senyum. Lusy mengajak Zayn ke dapur dan meminta suaminya duduk di sana. Dia membuka tudung saji dan memperlihatkan masakannya yang sudah tidak panas lagi.
“Aku memasaknya dari tadi, jadi sekarang sudah dingin. Apa mau aku panaskan?” tanya Lusy.
__ADS_1
Zayn menatap Lusy yang begitu perhatian, lantas menggelengkan kepala tanda tidak perlu. Dia pun meminta Lusy untuk ikut duduk dan makan bersamanya.
“Kamu pasti juga belum makan,” ucap Zayn dan langsung mendapatkan jawaban gelengan kepala dari Lusy.
Zayn tersenyum, kemudian mengambil sendok dan mulai mengambil makanan di piring. Dia menyodorkan suapan ke mulut Lusy.
“Ayo makan bersama,” kata Zayn.
Lusy membuka mulut, membiarkan suaminya itu menyuapi. Keduanya pun makan bersama, Zayn terus menyuapi istrinya itu.
“Uang ini gunakanlah untuk kebutuhan sehari-hari, aku akan mengusahakan setiap hari memberimu uang untuk belanja,” ucap Zayn sambil memberikan amplop coklat berukuran sedang ke Lusy.
Lusy menatap amplop itu, tapi tidak langsung menerimanya.
“Kamu sudah dapat pekerjaan?” tanya Lusy sambil menatap Zayn. Dia tidak tega karena Zayn kini harus hidup susah bersama dirinya.
“Belum, ini uang hasil mengurus balap liar. Ya, terkadang mendapatkan hasil, terkadang juga tidak,” jawab Zayn.
Lusy benar-benar semakin merasa bersalah karena Zayn kini harus bekerja keras. Andai pria itu tidak mencintainya, mungkin hidup Zayn masih akan terjamin.
“Zayn, maaf jika aku membuatmu harus bekerja keras menghidupiku,” ucap Lusy dengan tatapan sendu.
Zayn terkejut mendengar ucapan Lusy. “Kamu bicara apa? Kenapa harus meminta maaf? Kamu istriku sekarang, sudah sewajarnya aku memberikan apa yang menjadi hakmu.”
Lusy tidak ingin membahas tentang Zayn yang menderita karena mencintai dirinya, takut jika akan menjadi beban pria itu meski semuanya benar.
Zayn melihat kesedihan, keraguan, serta rasa bersalah dalam tatapan Lusy, hingga dirinya memilih menggenggam telapak tangan Lusy sambil mengulas senyum.
“Lu, jangan pernah merasa bersalah atau apa pun itu. Bukankah kamu bilang mau menemaniku dari nol? Aku siap memulai semuanya dari nol dan itu adalah pilihanku, bukan karena pengaruh siapapun. Paham?”
__ADS_1
Lusy menatap pria yang begitu sabar dan pekerja keras itu, hingga Lusy mengangguk-angguk paham dan akan berjuang bersama Zayn apa pun resikonya.