
Zayn menatap Farah dengan perasaan cemas, takut jika sampai ibunya berubah pikiran tentang pernikahannya dengan Lusy.
Lusy sebenarnya mendengarkan percakapan antara Farah dan Zayn, tapi memilih diam dan tidak ingin ikut campur.
“Ma, ada apa?” tanya Zayn cemas.
Farah menoleh Lusy, kemudian kembali menatap Zayn.
“Gini, Zayn. Tapi kamu jangan berpikiran macam-macam dulu. Kamu tahu kalau pernikahanmu sangat Mama dan Papa harapkan, jadi maukah kalian mengadakan pesta untuk merayakan dan memberitahukan ke semua orang tentang pernikahan kalian? Mama ‘kan juga mau mengadakan pesta pernikahan untukmu,” ujar Farah menjelaskan. Dia bicara dengan hati-hati karena takut kalau Zayn tidak setuju.
Ketakutan akan Zayn yang mungkin tidak setuju, diakibatkan oleh Zayn yang menjaga status lama Lusy agar tidak diketahui banyak orang.
Zayn tersenyum, merasa lega mendengar ucapan ibunya. Pikiran negatif yang sempat singgah pun akhirnya menguar entah ke mana. Dia senang karena Farah membahas masalah itu.
“Sebenarnya aku juga mau membahas ini dengan Mama. Aku memang berencana membuat pesta untuk memberitahu orang-orang kalau aku sudah menikah dan Lusy adalah istriku. Aku tidak mau kejadian salah paham tadi siang, kembali terjadi,” ujar Zayn menjelaskan.
Farah lega karena Zayn juga hendak mengadakan pesta, satu pemikiran dengannya, tapi dia juga penasaran dengan salah paham yang dimaksud Zayn.
“Memangnya salah paham kenapa?” tanya Farah.
Zayn menoleh Lusy sekilas sebelum kembali memandang ibunya, lantas dia pun menjawab, “Staf perusahaan mengira kalau Lusy adalah kurir makanan. Aku sedikit tersinggung akan hal itu.”
Farah sangat terkejut, merasa jika staf perusahaan sangat kurang ajar menganggap menantunya kurir makanan. Hingga Farah menyadari jika anggapan itu dikarenakan oleh penampilan Lusy yang memang biasa saja.
“Kalau kamu setuju mengadakan pesta, Mama yang akan menyiapkan semuanya. Apa boleh?” tanya Farah penuh semangat.
__ADS_1
“Boleh,” jawab Zayn memasrahkan semua ke ibunya.
“Tapi jangan terlalu mewah, Ma. Sederhana saja,” pinta Zayn.
“Kamu tenang saja, serahkan semua ke Mama.” Farah sudah merancang keinginan membuat pesta sejak lama, kini akhirnya keinginan itu bisa direalisasikan setelah mendapat izin dari Zayn.
**
“Apa kamu yakin akan mengadakan pesta pernikahan kita?” tanya Lusy sambil mengusap rambutnya yang basah.
Lusy baru saja selesai mandi, lantas menghampiri Zayn yang sedang duduk di sofa.
“Yakin, sekalian memberitahukan ke semua orang akan hubungan kita. Memangnya kamu mau kalau dikira kurir makanan lagi?” Dengan gemas Zayn menyolek hidung Lusy.
“Ada apa?” tanya Zayn saat melihat Lusy diam.
Lusy menatap sang suami, kemudian menggelengkan kepala pelan.
“Tidak ada,” jawab Lusy dengan seulas senyum.
“Kamu yakin? Kenapa aku merasa ada yang kamu sembunyikan?” tanya Zayn tidak percaya.
Lusy menatap Zayn, kemudian menarik napas panjang dan menghela perlahan.
“Aku hanya cemas saja,” kata Lusy.
__ADS_1
“Apa lagi yang kamu cemaskan?” tanya Zayn sambil mengusap rambut Lusy yang setengah basah.
“Bagaimana kalau saudaramu tahu masalahku, lalu mereka membahasnya,” jawab Lusy.
Zayn menghela napas kasar mendengar jawaban Lusy, memang benar jika keluarga besarnya suka sekali bergunjing tentang banyak hal, bahkan saudara sendiri. Contohnya Farzan—sepupu Zayn yang menikah dengan janda ditinggal mati, meski status sudah jelas pun masih saja menjadi bahan perbincangan para bibi Zayn. Jika Lusy tahu akan hal itu, pasti istrinya akan merasa berkecil hati.
“Semua kejadian yang menimpamu, terjadi jauh di belahan dunia sana. Kamu jangan banyak berpikir, jika sampai mereka menjelekkan dirimu, aku yang akan pertama kali maju untuk melawan mereka,” ucap Zayn berusaha menenangkan hati Lusy.
Zayn mengusap-usap lembut rambut Lusy, lantas menatap lembut ke istrinya.
Lusy tersenyum mendengar ucapan Zayn, lantas dengan manja menyandarkan kepala di dada pria itu.
“Kamu pria terbaik yang aku kenal,” ucap Lusy memuji suaminya.
“Aku memang tiada duanya, jadi jangan pernah dilepas,” seloroh Zayn menggoda istrinya.
Lusy gemas dengan candaan suaminya, hingga memukul pelan dada bidang suaminya.
“Awas, Lu. Jangan bersikap agresif, nanti adik kecil bangun minta main,” seloroh Zayn lagi sambil melirik ke sang istri.
Lusy membulatkan bola mata lebar, kemudian memukul lengan suaminya itu.
“Ish … jangan mengada-ada, tadi ‘kan sudah.” Lusy buru-buru bangun, lantas menjulurkan lidah untuk mengejek suaminya, sebelum kemudian kabur dari kamar untuk menghindari suaminya.
Zayn terkekeh geli, menggoda Lusy yang mudah malu, sudah menjadi hiburan tersendiri untuknya.
__ADS_1