
Lusy baru saja bersiap untuk pulang, sedangkan Zayn berada di depan kafe bersama Cheryl dan tampak sedang bercanda dengan gadis kecil itu.
“Cheryl!”
Suara yang dikenal Zayn membuat pemuda itu menoleh. Zayn melihat Joya tersenyum memandang Cheryl, wanita itu datang bersama sang suami.
“Cheryl, mimimu datang,” bisik Zayn.
Cheryl menoleh dan melihat wanita yang sudah merawatnya. Gadis kecil itu tertawa renyah, sebelum berlari begitu cepat ke arah Joya.
Zayn sendiri memandang dengan seulas senyum, tampak kebahagiaan di wajah Cheryl saat melihat Joya.
Joya langsung berjongkok, menangkap tubuh mungil yang sangat dirindukan kemudian memeluknya. Joya sedikit kesusahan memeluk Cheryl karena perutnya yang besar.
“Mimi kangen kamu sayang,” ucap Joya sambil memeluk kemudian mencium Cheryl.
Cheryl tidak bicara, hanya sesekali terdengar suara tawa dari bibir mungilnya.
Kenzo menyapa Zayn, menanyakan kabar temannya itu. Lusy yang baru saja selesai bekerja, keluar dan terkejut saat melihat Joya sedang memeluk Cheryl, kemudian memandang Kenzo dan Zayn yang sudah menatapnya.
“Lu.” Joya menatap Lusy yang sudah memandangnya.
Lusy mengulas senyum, sebelum mendekat dan memeluk teman yang kini sedang hamil besar.
__ADS_1
Lusy mengajak Joya dan yang lainnya ke rumah, mereka kini berada di teras rumah, duduk seraya menikmati malam yang begitu indah dengan taburan bintang.
Joya membawakan makanan kesukaan Cheryl, membuat gadis kecil itu sibuk duduk dipangkuan Zayn sambil makan. Lusy terlihat senang melihat Cheryl yang begitu bahagia, sebelum kemudian menoleh Joya.
“Kenapa datang tidak memberi kabar?” tanya Lusy sekadar berbasa-basi.
“Nomormu saja tidak bisa dihubungi, Lu. Untung kamu tidak pindah,” jawab Joya menyindir temannya yang seperti sengaja memutus hubungan, tapi masih bertanya kenapa dirinya tak memberi kabar.
Lusy merasa bersalah mendengar ucapan Joya, hingga menunduk sejenak sebelum kemudian kembali memandang temannya itu.
“Maaf, aku hanya tidak ingin merepotkanmu lagi,” ucap Lusy penuh penyesalan.
Joya menghela napas panjang, kemudian menggenggam telapak tangan Lusy.
Kenzo sendiri memilih diam dan membiarkan sang istri mengutarakan maksud kedatangan mereka ke sana, sedangkan Zayn masih fokus dengan Cheryl dan sesekali melirik Lusy.
Lusy tidak menjawab, menunduk dan memandang telapak tangan yang digenggam Joya.
Joya menatap Zayn, tak mungkin bicara ke Lusy jika Zayn menghubungi dan berkata jika Lusy tak baik-baik saja di tempat itu. Joya tak ingin Lusy menyalahkan Zayn.
“Lu, sebenarnya aku datang karena ingin meminta bantuanmu,” kata Joya kemudian.
Lusy dan yang lainnya langsung memandang Joya, termasuk Kenzo karena tak paham dengan maksud istrinya.
__ADS_1
“Bantuan apa?” tanya Lusy bingung, sampai memandang Joya dan yang lainnya secara bergantian.
“Aku sebenarnya ingin membuka butik, kamu tahu kalau aku sebentar lagi harus mempersiapkan persalinan. Aku tidak bisa terus menerus bekerja, jadi ingin membuka sebuah butik. Namun, aku pun tidak bisa mengurusnya sendiri, jadi aku ingin kamu ikut ke Indonesia dan membantuku sebagai asisten, apa kamu mau?” tanya Joya penuh harap.
Joya berharap alasannya ini masuk akal untuk Lusy, agar temannya itu mau ikut dengannya. Joya sendiri tidak memikirkan hal itu sebelumnya, ide itu tiba-tiba saja muncul di kepala saat memikirkan cara untuk membujuk Lusy.
Kenzo cukup terkejut mendengar ucapan sang istri, tapi juga senang karena dengan demikian istrinya itu secara tidak langsung akan segera resign dari pekerjaan.
Zayn sendiri merasa lega, untung Joya sangat tahu dan pengertian dengan tidak langsung berkata jika dirinyalah yang mengadu tentang kondisi Lusy di sana.
Lusy kebingungan mendengar pertanyaan Joya, hingga menatap Zayn seolah meminta pendapat pemuda itu. Lusy terdiam beberapa saat, hingga memikirkan tawaran Zayn juga yang memintanya ikut ke Indonesia.
“Bagaimana? Kamu mau membantuku, ‘kan? Nanti selagi kamu mengurus butik, aku bisa bantu kamu jaga Cheryl,” kata Joya membujuk karena Lusy belum mengambil keputusan.
Lusy mengulum bibirnya, kemudian menganggukkan kepala.
“Baiklah, aku akan ikut bersamamu,” jawab Lusy memandang Joya, sebelum kemudian menoleh Zayn.
Zayn senang karena Lusy akhirnya mau ikut ke Indonesia, dengan begitu dirinya bisa semakin erat menjalin hubungan dengan wanita itu. Joya sendiri merasa lega bisa membujuk Lusy, dengan begini bisa sedikit tenang karena Cheryl takkan diganggu Max lagi.
“Omong-omong, kamu tampaknya begitu dekat dengan Cheryl, sampai dia sejak tadi berada di pangkuanmu,” ucap Kenzo untuk menggoda Zayn.
“Aku ‘kan calon ayah yang baik, sebab itu Cheryl sangat suka kepadaku,” balas Zayn tanpa menoleh Kenzo.
__ADS_1
Kenzo langsung tersedak mendengar balasan Zayn, Joya melotot ke pemuda yang pernah menyukainya itu, sedangkan Lusy langsung berdeham dengan kedua pipi memerah.
“Narsismu ternyata masih berada di level akut,” gerutu Kenzo dengan nada candaan.