
“Aku ingin bicara dengan Mama sebentar.” Sepulang bekerja, Zayn langsung menemui Farah.
Farah sendiri berada di ruang keluarga, hingga meminta Zayn untuk duduk.
“Kita bicara di luar saja,” ajak Zayn.
Farah merasa sikap Zayn memang masih sangat dingin kepadanya, tapi dia pun harus berusaha tenang dalam menghadapi perubahan sikap putranya itu.
Mereka keluar rumah, kini berjalan santai di halaman samping.
“Kamu mau bicara apa?” tanya Farah.
Zayn menghentikan langkah, kemudian berdiri saling berhadapan dengan sang mama. Ditatapnya wajah wanita yang terus mengulas senyum meski terlihat jelas jika Farah sedang tegang.
“Mama tahu alasanku mau pulang, ‘kan?”
Farah diam menanggapi ucapan putranya itu.
__ADS_1
“Aku pulang karena bujukan Lusy. Aku berharap jika pilihanku tidak salah saat menginjakkan kaki lagi di rumah ini. Aku hanya tidak ingin Mama memanfaatkan Lusy hanya demi agar aku pulang. Lusy terlalu baik untuk menolak keinginan Mama,” ujar Zayn yang secara tidak langsung hendak mempertegas jika semua keputusannya diambil atas dasar keinginan Lusy.
“Mama tidak bermaksud memanfaatkan Lusy, Zayn. Mama benar-benar ingin kalian pulang dan berkumpul bersama lagi. Mama rindu kebersamaan kita, sebab itu Mama meminta tolong Lusy tapi tentunya bukan semata-mata ingin memanfaatkannya,” balas Farah panjang lebar menjelaskan agar putranya percaya.
Zayn menghela napas kasar, hingga kemudian berkata, “Jujur saja, aku sebenarnya belum sepenuhnya yakin kepada Mama. Sikap Mama yang berubah mendadak, membuatku ragu apakah Mama benar-benar tulus meminta kami pulang. Meski ini menyakitkan, tapi aku harus mengatakan jika takut Mama sebenarnya hanya ingin menyakiti Lusy lagi.”
Farah memejamkan mata saat mendengar ucapan Zayn, sadar jika sikap putranya karena berawal dari perbuatannya juga. Farah yang bertindak gegabah juga egois, membuat putranya meragukan tindakannya sekarang.
“Mama tahu jika pernah salah, menyakiti Lusy hingga akhirnya membuatmu meragukan keseriusan Mama. Perubahan Mama pun bukan tanpa alasan, Zayn. Mama sadar jika selama ini salah, terlebih salah telah menjodohkanmu dengan wanita yang ternyata tidak baik sama sekali,” ujar Farah panjang lebar, tampak raut penyesalan di wajah wanita itu.
“Mama tanpa sengaja mengetahui jika Meghan ternyata sangat buruk. Dia mau menikah denganmu, hanya karena ingin memanfaatkanmu. Tentu Mama tidak bisa menerima itu, setelahnya Mama memilih menghindarinya karena tidak mau kamu terjebak dengan wanita jahat itu.” Farah menceritakan apa yang diketahuinya.
Zayn memalingkan wajah mendengar cerita Farah, dalam hatinya bersyukur karena akhirnya Farah mengetahui kebusukan Meghan.
“Setelah itu, Mama menyadari satu hal, Zayn.” Farah menatap begitu lembut ke Zayn.
Zayn mengalihkan pandangan ke sang mama, saat wanita itu berkata telah menyadari sesuatu.
__ADS_1
“Ternyata pilihanmu lebih baik dari pilihan Mama, Mama merasa malu karena telah menekan dan memaksamu, maafkan Mama, Zayn.” Farah bicara penuh dengan ketulusan, dia benar-benar ingin meminta maaf dan kembali bersama putranya seperti dulu.
Zayn menatap Farah, melihat kedua bola mata sang mama yang kini berkaca-kaca.
“Mama benar-benar menyesal, Zayn. Beri Mama kesempatan untuk membuktikan jika sudah berubah.” Tanpa terasa, bulir kristal bening luruh dari kelopak mata. Farah menangis karena tidak bisa memendam kesedihannya.
Zayn menghela napas, lantas memilih memeluk sang mama dengan erat dan meletakkan dagu di pucuk kepala Farah.
“Sudah jangan menangis, aku hanya ingin kepastian karena takut apa yang sudah terjadi kembali terulang, Ma. Jika Mama benar-benar sudah menerima, aku juga akan menerima.”
Zayn tidak kuasa melihat sang mama menangis karenanya, sebab itu memilih memaafkan dan percaya ke sang mama.
"Kamu maafin Mama 'kan, Zayn?"
"Iya, aku maafin."
Zayn mengajak Farah bicara, setelah siang tadi mendapatkan pesan dari Lusy. Tanpa Farah duga, Lusy merekam pembicaraan mereka, kemudian mengirimkannya ke Zayn. Lusy hanya ingin agar suaminya tahu kalau Farah benar-benar sudah menyesal dan tidak memiliki maksud terselubung, seperti yang Zayn takutkan.
__ADS_1