Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Permintaan membujuk lagi


__ADS_3

Semua orang terlihat canggung saat Farah menyebut dirinya sebagai oma Cheryl. Lusy sampai tidak bisa berkata-kata karena bingung dengan maksud wanita itu. Apakah pengakuan itu karena memang Farah benar-benar sudah menerima Lusy dan Cheryl, ataukah hanya sebuah pencitraan karena ada Joya di sana.


Cheryl tampak malu-malu menatap Farah, melihat wanita itu tersenyum sambil mengulurkan tangan ke arahnya.


“Kemarilah!” Farah mencoba membujuk Cheryl agar mendekat.


Lusy memandang putrinya yang masih bersembunyi di belakang kaki Joya, Joya dan Kenzo sendiri juga memperhatikan Cheryl yang terlihat malu.


Hingga bola mata Cheryl melihat gantungan tas berbentuk hati di tas Farah, membuat gadis kecil itu perlahan berpindah posisi karena ingin menyentuh benda berkilau itu.


Farah memperhatikan ke mana arah tatapan Cheryl melihat, hingga kemudian menunduk dan memperhatikan tasnya.


“Kamu mau ini?” tanya Farah sambil menunjukkan gantungan berbentuk hati itu.


Cheryl mengangguk-angguk, gadis kecil itu memang belum lancar berbicara sehingga lebih banyak diam.


Farah tersenyum hangat, lantas melepas gantungan tas itu untuk diberikan ke Cheryl.

__ADS_1


“Kemarilah, nanti Oma beri ini,” kata Farah sambil menunjukkan gantungan itu.


Lusy memperhatikan putrinya yang tertarik untuk mendekat, hingga kemudian memandang Farah yang tampak tersenyum tulus ke putrinya itu.


Cheryl mendekat lantas mengulurkan tangan untuk meminta gantungan itu, Farah pun dengan senang hati memberikannya sambil berjongkok di hadapan gadis kecil dengan rambut sedikit ikal di bagian bawah dan diikat ke atas, sungguh lucu dan menggemaskan.


“Kamu suka?” tanya Farah.


Cheryl mengangguk-angguk dengan senyum lebar, hingga menoleh ke Lusy dan Joya secara bergantian, menunjukkan kalau dia senang.


Merasa jika Farah membutuhkan waktu untuk bicara berdua dengan Lusy, Joya dan Kenzo pun akhirnya pamit untuk keluar dulu.


Saat Joya dan Kenzo baru saja membuka pintu, mereka terkejut karena Zayn sudah datang.


“Ada siapa di dalam?” tanya Zayn dengan suara lirih, dia mendengar suara tapi tidak terlalu jelas.


“Mamamu,” jawab Kenzo.

__ADS_1


Zayn terdiam mengetahui jika Farah kembali datang dan menemui Lusy, hingga akhirnya membuat Zayn memilih menunggu dan mendengarkan dari luar apa yang dibicarakan oleh ibunya.


Farah terlihat senang karena Cheryl mau duduk di pangkuannya, gadis kecil itu memainkan gantungan berbentuk hati yang didapatkannya.


“Apa kamu sudah bicara dengan Zayn?” tanya Farah.


“Sudah, aku sudah membujuknya. Hanya saja Zayn masih terlihat ragu,” jawab Lusy, menepati janji jika akan membujuk suaminya untuk pulang.


Farah menghela napas kasar, lantas mengalihkan tatapan ke Cheryl yang terlihat begitu senang dan anteng di pangkuannya.


“Aku tahu kalau sudah menyakiti perasaannya, tapi kamu juga harusnya paham jika aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Meski sadar jika pilihanku juga tidak benar,” ujar Farah tapi masih terdengar kesan angkuh dan ego yang tinggi.


Lusy terdiam mendengar ucapan Farah, tidak membalas karena apa yang dikatakan Farah benar tentang kebahagiaan anak, meski tidak semuanya baik.


“Aku harap kamu bisa membujuknya lagi. Aku benar-benar akan menerima kalian di rumah,” ujar Farah lagi meyakinkan Lusy agar mau membujuk Zayn.


“Aku akan berusaha membujuknya lagi, tapi bagaimana nanti keputusan yang Zayn ambil, aku pun tidak bisa memaksanya,” balas Lusy.

__ADS_1


Di luar ruangan Joya dan Kenzo saling tatap setelah melihat Zayn yang hanya bergeming di depan pintu, satu tangan memegang gagang pintu untuk menahan agar tidak tertutup sempurna.


Zayn mendengar Farah bicara dengan Lusy, menilai bagaimana sebenarnya sikap sang mama hanya dari nada suara wanita itu.


__ADS_2