
“Apa aku harus ikut?” tanya Lusy sedikit ragu saat Zayn datang menjemputnya dan berkata jika ingin mengajaknya ke sebuah pesta.
“Tentu, agar semua orang tahu kalau kamu kekasihku,” jawab Zayn dengan sebuah rasa bangga.
Lusy terdiam mendengar jawaban Zayn, ditatapnya pemuda itu dengan sebuah rasa berat di dada. Dia masih memikirkan tentang ucapan Farah siang tadi, berpikir kenapa Zayn masih ingin bersamanya jika sebentar lagi akan menikah.
Lusy sendiri meminta Vira untuk tidak memberitahukan masalah kedatangan Farah ke butik. Dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Zayn sendiri, agar dirinya tidak terlalu berharap kepada pemuda itu di kemudian hari.
“Zayn, sebenarnya ada yang ingin aku katakan,” ucap Lusy, menatap Zayn yang terlihat tampan malam itu. Setelan jas yang dikenakan sangat cocok dengan pemuda itu, atau sebenarnya Zayn memang cocok mengenakan apa pun.
“Bicara apa? Kita bahas nanti. Sekarang kamu ganti baju dengan cepat, atau kita akan terlambat,” ujar Zayn yang tidak ingin mendengar cerita Lusy saat ini.
“Tapi--” Lusy ingin bicara tetapi terjeda karena dipotong cepat oleh Zayn.
“Tidak ada tapi-tapi, aku mohon ikutlah dan agar orang-orang tidak berpikir jika aku jomblo,” pinta Zayn memotong ucapan Lusy.
Lusy terlihat bingung, dirinya bimbang akan hubungannya dengan Zayn. Namun, entah kenapa dia juga tidak bisa mengecewakan Zayn begitu saja, membuatnya akhirnya menuruti keinginan pemuda itu, lantas membicarakan apa yang ingin disampaikan selepas pesta nanti.
Lusy mengenakan dress sederhana yang tidak terlalu mencolok, bahkan terkesan sedikit tertutup. Dia dan Zayn sudah sampai di hotel tempat pesta diadakan.
“Apa banyak yang hadir?” tanya Lusy tiba-tiba merasa ragu. Dia melihat berbagai jenis mobil mewah dan berkelas terparkir di area hotel.
“Namanya pesta pasti banyak yang datang, Lu. Kamu hanya cukup berdiri denganku dan tidak perlu memedulikan yang lainnya jika merasa tidak nyaman,” jawab Zayn menatap Lusy yang terlihat gugup.
Lusy benar-benar ragu, tapi sudah terlanjur datang dan tidak mungkin meminta pulang. Dia akhirnya ikut Zayn masuk, Lusy berjalan sambil merangkul lengan Zayn.
__ADS_1
Keduanya disambut hangat di pesta itu, Lusy sesekali melempar senyum kepada rekan bisnis Zayn saat mereka menyapa.
“Wah, apa ini kekasihmu?” tanya salah satu rekan bisnis Zayn ketika melihat Lusy. Pria itu menatap Lusy dari ujung kaki hingga kepala, memindai penampilan Lusy yang berbeda dari lainnya.
“Ya, ini Lusy. Dia kekasihku,” jawab Zayn sekaligus memperkenalkan.
Lusy sendiri merasa tidak nyaman dengan tatapan rekan bisnis Zayn, mungkin karena dirinya sudah paham akan arti tatapan pria karena sudah banyak menghadapi pria yang seperti itu.
Rekan bisnis Zayn memperkenalkan diri, mengulurkan tangan sehingga mau tidak mau Lusy pun membalasnya agar tidak dikira sombong, serta menjaga nama baik Lusy.
Saat mereka berbincang, seorang pria paruh baya mendekat dan langsung menyapa Zayn.
“Zayn, apa bisa bicara empat mata?” tanya pria paruh baya itu.
“Lusy, aku akan bicara dengannya sebentar, kamu tidak apa-apa jika aku tinggal?” tanya Zayn meminta izin.
Meski Lusy sebenarnya keberatan karena takut ditinggal sendirian, tapi akhirnya dia mengangguk mengizinkan karena tidak ingin dianggap egois.
Zayn tersenyum, kemudian pergi bersama pria paruh baya itu.
Rekan bisnis Zayn masih mengamati Lusy, membuat wanita itu merasa tidak nyaman.
“Jika aku lihat dari postur tubuhmu, kamu sepertinya sudah tidak perawan,” ucap pria itu asal bicara. “Apa kamu dan Zayn, sudah ….” Pria itu sengaja menjeda ucapannya, kemudian menatap Lusy dengan smirk di wajah.
Lusy membulatkan bola mata lebar mendengar ucapan pria itu, hingga kemudian dia murka karena rekan bisnis Zayn bicara sembarangan.
__ADS_1
“Sebagai pria terhormat, Anda seharusnya bisa menjaga lisan Anda. Jangan menuduh sembarangan tanpa bukti!”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Lusy lantas memilih meninggalkan tempat itu.
Rekan bisnis Zayn yang berumur sekitar tiga puluh tahunan itu menyeringai, memandang punggung Lusy yang semakin menjauh.
Di luar ruangan pesta, seseorang terlihat memasukkan bubuk ke dua gelas minuman yang berbeda, satu berisi jus dan satunya berisi wine.
“Pastikan dia meminum salah satu isi gelas ini. Jika satunya sudah dia ambil, maka cepat-cepatlah buang yang satunya.”
“Baik, saya mengerti.”
Seorang pelayan membawa nampan berisi dua gelas minuman. Dia berjalan mendekat ke arah Lusy yang berdiri sendiri menunggu Zayn selesai bicara dengan pria paruh baya tadi.
“Minum, Nona.” Pelayan yang membawa dua jenis minuman itu menawari Lusy.
Lusy sejak datang memang belum minum atau makan sesuatu, hingga akhirnya menerima tawaran pelayan tadi, mengambil segelas jus untuk sekadar membasahi tenggorokannya.
“Terima kasih,” ucap Lusy sopan.
Pelayan itu tersenyum, lantas berjalan pelan meninggalkan Lusy. Pelayan pria itu melirik Lusy yang meminum jus, tersenyum karena selesai melakukan tugas yang diterimanya.
Lusy menenggak jus itu hingga habis setengah. Baru beberapa menit air jus itu membahasi kerongkongan, Lusy tiba-tiba merasa tubuhnya tidak nyaman.
“Kenapa tiba-tiba aku merasa panas,” keluh Lusy sambil mengusap pelan bagian bawah leher.
__ADS_1