Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Nggak gercep


__ADS_3

Setelah Lusy setuju serta mengurus visa dan semua keperluan untuk pergi ke Indonesia, akhirnya Lusy dan yang lainnya hari itu pulang ke Indonesia.


Lusy sendiri memiliki banyak pertimbangan menerima tawaran Joya, di antaranya karena tidak ingin lagi diganggu Max. Sudah cukup hidupnya dibuat kacau oleh pria itu, kini tidak ada dua kali kehidupannya hancur karena pria bernama Max itu.


Zayn yang paling bahagia di antara semuanya. Kini dirinya bisa melakukan pendekatan dan pembuktian ke Lusy kalau dirinya benar-benar serius dengan mudah.


“Nanti kamu bisa tinggal di apartemenku dulu, Lu. Di sana ada Sasa sepupuku. Apa kamu keberatan?” tanya Joya saat mereka sudah sampai di bandara Indonesia.


“Tidak masalah, di mana pun aku mau,” jawab Lusy.


“Atau mau tinggal di apartemen milikku, tempatku kosong,” ucap Zayn juga menawari.


Lusy menatap Zayn kemudian terlihat berpikir. Dirinya kurang bisa bersosialisasi sejak keluar dari penjara, mungkin hanya ke beberapa orang yang memang sudah dikenal sebelumnya.


“Joy, mungkin aku tinggal di apartemen milik Zayn saja,” ucap Lusy hati-hati, takut menyinggung Joya.


Joya sedikit terkejut, tapi kemudian memilih menghormati keputusan Lusy.


“Baiklah, tapi mungkin sementara itu kamu belum bisa langsung mengurus butik, aku sedang memikirkan konsepnya,” kata Joya lagi.


Joya sendiri merencanakan itu secara mendadak, tentu saja belum tahu bagaimana konsep butik yang ingin dibukanya.


“Tidak apa-apa,” balas Lusy dengan senyum canggung di wajah. Lusy sadar jika Joya melakukan itu sebenarnya hanya untuk membujuknya saja.

__ADS_1


Zayn senang karena Lusy menerima tawarannya.


Mereka naik taksi menuju apartemen Zayn, sesampainya di sana tempat itu memang tidak ada berpenghuni.


“Aku akan membelikanmu beberapa perabot dapur yang kamu butuhkan besok,” ucap Zayn saat mereka sampai di apartemennya.


Kenzo dan Joya langsung melirik Zayn, melihat temannya itu benar-benar menunjukkan perhatian ke Lusy.


Lusy tersenyum dan menganggukkan kepala.


“Sepertinya semua sudah beres karena ada yang mengurus,” ucap Joya dengan sedikit nada sindiran, bahkan melirik Zayn.


Lusy mengatupkan bibir karena malu, sedangkan Zayn terlihat mengedarkan pandangan seolah tidak mendengar.


“Ya sudah, kami akan pulang dulu. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, hubungi aku,” kata Joya.


Kenzo tiba-tiba melingkarkan lengan ke leher Zayn, kemudian mengapit temannya itu dan akan diajak pulang.


“Kamu juga pulang, bahaya kalau di sini.”


“Bentar!” Zayn ingin memberontak tapi langsung ditarik keluar oleh Kenzo.


Lusy melongo melihat tingkah dua pria itu. Joya tertawa, kemudian berpamitan ke Lusy.

__ADS_1


“Aku pulang dulu,” ucap Joya.


“Iya, terima kasih, Joy.” Lusy terharu karena memiliki orang-orang yang baik di sekitarnya.


Kenzo menyeret Zayn keluar dari apartemen dan menunggu Joya di depan lift.


“Kamu seharusnya keluar menggandeng Joya, bukan menyeretku!” Zayn kesal sendiri karena dipaksa keluar, akhirnya Kenzo melepas lengannya dari leher Zayn.


“Bahaya kalau kamu ditinggal berdua di sana bersama Lucy,” ucap Kenzo sambil menatap Zayn yang kesal.


“Bahaya apanya? Memangnya aku kamu yang suka main hap!” gerutu Zayn.


“Siapa yang main hap? Tanya Joya, pernah aku kek gitu. Palingan hanya nyuri ciuman,” balas Kenzo kemudian terkekeh geli jika ingat betapa dulu jahilnya dia kepada sang istri saat mengambil kesempatan.


“Sama aja itu main hap! Aku mana ada, aku sopan dan nggak kayak kamu yang suka seenak jidat!” Zayn masih kesal hingga mengungkit sifat buruk Kenzo saat muda.


“Kalian ini kalau tidak berantem memangnya tidak bisa?” Suara Joya membuat kedua pria itu menoleh, melihat Joya yang berjalan dengan satu tangan memegangi perut.


Zayn melirik Kenzo, kemudian kembali menatap Joya.


“Katakan ke suamimu, aku bukan seperti dia saat muda.” Zayn masih tidak terima jika Kenzo berpikir dirinya akan mencari kesempatan dalam kesempitan kepada Lusy.


“Iya nggak kayak aku, nggak gercep sampai kena tikung dua kali!” balas Kenzo kemudian menjulurkan lidah.

__ADS_1


Joya tertawa mendengar ledekan suaminya ke Zayn, tidak ada lagi kini rasa canggung ke Zayn karena pemuda itu sudah mencintai wanita lain.


“Sialan kamu, Ken!”


__ADS_2