Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Masuk UGD


__ADS_3

Zayn berlari begitu cepat menyusuri koridor rumah sakit setelah mendapatkan panggilan dari Zahra. Wajahnya begitu panik dan cemas karena Zahra berkata jika Lusy terkena tusukan dan harus dilarikan ke rumah sakit.


“Za!” Zayn langsung memanggil sang adik saat melihat Zahra duduk sambil menunduk.


Zahra duduk sendirian dengan tubuh gemetar, menatap kedua tangan yang berlumuran darah karena tadi sempat memangku sang kakak ipar ketika dibawa ke rumah sakit. Zahra mengangkat kepala dan menoleh ke arah Zayn saat mendengar suara sang kakak, hingga dia pun lantas berdiri dan berlari menghampiri kakaknya.


“Kak Zayn!” Zahra langsung memeluk sang kakak, sebelum kemudian menangis histeris karena harus melihat kejadian di mana Lusy ditusuk.


“Apa yang terjadi, kenapa Lusy bisa ditusuk? Di mana dia sekarang?” tanya Zayn mencoba tenang meski dalam hatinya begitu panik.


Zahra masih menangis hingga terisak, kemudian melepas pelukannya dari sang kakak.


“Kak Lusy masih ditangani dokter karena harus mendapatkan jahitan. Dia ditusuk karena berusaha menolongku, Kak.” Zahra bicara sambil menunjuk ke pintu UGD.


Mengesampingkan alasan Lusy bisa menjadi korban penusukan, Zayn memilih melihat kondisi istrinya itu terlebih dahulu. Dia masuk ke UGD bersama Zahra, hingga melihat dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.


“Apa istri saya baik-baik saja?” tanya Zayn begitu bertemu dokter.

__ADS_1


“Anda suami pasien korban penusukan?” tanya balik dokter itu.


Zayn pun mengangguk-angguk menjawab pertanyaan dokter.


“Luka tusuknya lumayan dalam, tapi kami sudah menjahit lukanya dan menghentikan pendarahannya. Saat ini pasien dalam kondisi tidak sadarkan diri, setelah selesai ditangani akan dipindah ke ruang inap guna observasi lebih lanjut,” ujar dokter menjelaskan.


“Tapi tidak ada yang fatal ‘kan, Dok?” tanya Zayn yang cemas.


“Tidak, karena tidak sampai melukai organ vitalnya.”


Zayn pun berterima kasih kepada dokter yang sudah menangani Lusy, hingga kemudian menatap ke arah ruang perawatan dan melihat Lusy yang sedang dipindah ke ranjang pesakitan untuk kemudian dibawa ke ruang inap.


Farah masih memikirkan pertemuannya dengan Zayn. Melihat putranya kini begitu tak acuh, membuat Farah merasa sangat sedih.


Wanita itu berjalan menaiki anak tangga untuk pergi ke kamar Zayn, berpikir jika bisa sedikit membuat hatinya tenang saat melihat ruangan yang memiliki banyak barang yang bisa sedikit mengobati rindunya terhadap sang putra.


Namun, langkahnya terhenti saat melihat lampu kamar Zahra menyala, Farah mendorong pintu kamar Zahra agar terbuka lebar untuk tahu siapa yang kini sedang berada di kamar putrinya. Tidak ada siapapun di sana, hingga Farah berjalan menuju pintu kamar ganti Zahra yang juga terbuka.

__ADS_1


“Kamu ngapain buka-buka lemari Zahra?” tanya Farah saat melihat pembantunya membuka lemari Zahra dan memegang pakaian putrinya. Tidak biasanya pembantu rumah masuk ke kamar saat malam hari.


Pembantu itu sangat terkejut, hingga tanpa sengaja menjatuhkan pakaian yang dipegang.


“Kamu mau maling?” Tuduh Farah murka.


“Bukan, Nyonya!” Pembantu itu membela diri.


“Terus?” Farah tidak percaya begitu saja.


“Mbak Zahra minta saya ambilin baju, terus nganterin ke ….” Pembantu itu menjeda ucapannya, dia sadar jika keceplosan bicara, padahal Zahra sudah mewanti-wanti agar sang mama tidak tahu.


“Nganterin ke mana?” tanya Farah dengan kedua tangan berkacak pinggang.


“Mbak Zahra bilang, kalau Nyonya ga boleh tahu,” jawab pembantu itu takut.


“Kalau kamu ga jawab, berarti kamu bohong! Aslinya kamu mau nyuri, ‘kan!” Farah kembali menuduh karena pembantunya tidak bisa meyakinkan dirinya.

__ADS_1


“Sumpah, Nyah. Buat apa saya nyuri. Mbak Zahra minta saya bawakan baju ini ke rumah sakit, Nyah. Mbak Zahra di UGD sekarang.” Akhirnya pembantu itu jujur daripada dituduh mencuri.


“Apa?” Farah sangat syok dan terkejut mendengar Zahra masuk UGD.


__ADS_2