
Zayn pulang dengan rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia terus mengulas senyum semenjak di taksi hingga kini berjalan menuju rumah. Sungguh Zayn tidak menyangka jika jatuh cinta lagi akan semenyenangkan ini, setelah sebelumnya patah hati dan sempat takut melabuhkan hati ke wanita lagi.
“Kak Zayn!” Zahra yang baru saja menuruni anak tangga, terlihat begitu senang melihat sang kakak yang baru saja pulang.
Hampir dua minggu Zayn pergi dan itu membuat Zahra merasa kesepian.
Zahra langsung merangkul lengan Zayn, bergelayut manja di lengan kakaknya itu.
“Kakak bawa oleh-oleh apa? Kenapa perginya lama? Di perusahaan aku jadi papan informasi, semua orang bertanya kapan Kakak balik perusahaan. Semua itu membuatku pening,” cerocos Zahra menceritakan yang terjadi di perusahaan saat sang kakak tidak di sana.
“Kalau begitu hindari mereka, jangan terlalu lama di sana jika memang itu tidak membuatmu nyaman,” balas Zayn dengan santainya.
Zahra mengerucutkan bibir, bagaimana bisa sang kakak bicara dengan mudah tanpa tahu bagaimana posisinya di sana. Dia ingin kembali berucap, tapi urung saat mendengar suara sang mama.
“Kamu sudah pulang, bagaimana liburannya?” tanya Farah menyambut putranya.
Zayn tersenyum melihat sang mama yang berjalan menghampirinya.
“Sangat menyenangkan,” jawab Zayn.
“Baguslah kalau kamu senang,” ucap Farah, “oh ya, sangat kebetulan kamu sudah pulang, nanti malam keluarga teman Mama akan ke sini untuk makan malam, kamu ikut ya!” ajak Farah.
Zayn menaikkan satu sudut alis, kemudian menghela napas kasar.
__ADS_1
“Aku capek, Ma. Sebenarnya ingin istirahat biar besok bisa ke kantor,” ujar Zayn, sebenarnya besok ingin menemui Lusy karena sudah berjanji akan menemani wanita itu berbelanja.
“Hanya sebentar dan biar sopan, Zayn. Masa kamu di rumah tapi tidak mau ikut makan malam dan menemani tamu Mama.” Farah mencoba membujuk agar putranya mau ikut.
Zayn kembali menghela napas kasar, hingga akhirnya setuju untuk bergabung saat makan malam.
**
Saat makan malam tiba, pembantu rumah Farah sudah menyiapkan banyak menu makanan di meja untuk makan malam.
“Semua sudah, Bi?” tanya Farah ke pembantunya.
“Sudah semua, Bu.”
“Di mana kakakmu?” tanya Farah ke Zahra yang baru saja turun.
“Masih di kamar,” jawab Zahra sambil menunjuk ke lantai atas.
“Sana panggil! Bilang untuk segera turun,” perintah Farah.
Zahra hanya mengangguk, kemudian menaiki anak tangga lagi untuk menyusul sang kakak.
Zahra sudah berada di depan pintu, kemudian mengetuk pintu kamar kakaknya itu.
__ADS_1
“Masuk!” perintah Zayn dari dalam.
Zahra membuka pintu dan melongok ke dalam, melihat sang kakak yang sedang merapikan kemeja.
“Ada apa?” tanya Zayn saat melihat Zahra di pintu.
“Mama minta Kakak agar segera turun,” jawab Zahra.
“Hm … sebentar lagi,” ucap Zayn tanpa menoleh ke sang adik.
Zahra menengok ke kanan dan kiri seolah memastikan sesuatu, sebelum kemudian gadis itu malah masuk kamar sang kakak.
Zayn merasa heran, menatap Zahra yang mengendap seperti maling.
“Kamu kenapa?” tanya Zayn dengan satu sudut alis tertarik ke atas.
“Kak, mau tahu soal rahasia?” tanya Zahra saat berdiri di hadapan sang kakak.
“Rahasia apa? Masih kecil main rahasia-rahasia.” Zayn tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Zahra.
Zahra mencebik karena Zayn malah bercanda.
“Ini soal makan malam ini, Kak.”
__ADS_1
Zayn langsung menatap Zahra saat mendengar ucapan adiknya itu.