Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Resepsi pernikahan


__ADS_3

Hari resepsi pernikahan Lusy dan Zayn pun tiba. Farah tentunya tidak menuruti ucapan Zayn tentang pesta yang sederhana. Farah memilih sebuah ballroom hotel beserta fasilitasnya, dekorasi dan makanan yang disajikan pun disiapkan oleh sebuah wedding organizer.


“Ma, bukankah aku sudah bilang kalau pestanya kecil saja,” ucap Zayn yang terkejut dengan pesta yang disiapkan Farah.


“Mana bisa kecil, Zayn. Kamu ini anak pertama dari keluarga Adzriel, masa nikah pestanya kecil-kecilan, apa kata kolega dan juga teman Mama,” ujar Farah mengabaikan protes putranya.


Zayn memegangi keningnya, bisa-bisanya Farah mengadakan pesta semewah ini tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.


Di kamar ganti khusus pengantin. Lusy baru saja selesai dirias. Dia kini berdiri di depan cermin, memperlihatkan bayangan tubuhnya yang kini sudah berbalut gaun begitu indah, sesuai dengan pesanan Farah.


Lusy menatap bayangan dari pantulan cermin, tidak pernah membayangkan jika dirinya akan menjadi seorang pengantin. Ya, meski terlambat, setidaknya kini statusnya akan diakui oleh semua orang. Status sebagai istri seorang Zayn Adzriel.


“Kamu sangat cantik.” Joya datang ke pesta itu, dia masuk ke kamar itu untuk melihat Lusy.


Joya memperhatikan penampilan Lusy yang memakai gaun pengantin, sungguh cantik dan membuat Joya hampir tidak mengenali temannya itu.


Lusy menatap Joya dari pantulan cermin, lantas tersenyum saat mendengar temannya itu memuji.


“Tidak secantik kamu,” ujar Lusy.


Joya mencebik, bagaimana bisa Lusy membandingkan mereka.

__ADS_1


“Jelas kita beda, tapi satu hal yang aku tahu, kita sama-sama cantik saat mengenakan gaun pengantin,” ujar Joya.


Lusy mengangguk-angguk, terlihat jelas gurat kebahagiaan di wajah mama muda satu anak itu.


**


Acara formalitas pernikahan itu berjalan dengan lancar, Lusy sudah sah menjadi istri Zayn berdasarkan hukum dan pandangan masyarakat. Lusy sendiri kini tidak perlu mencemaskan apa pun lagi, terutama di mana dia akan menetap karena Zayn sudah mengurus kepindahan kewarganegaraan Lusy ke Indonesia.


“Selamat ya.” Sandra datang bersama Farzan, mereka tentunya hendak ikut berbagi kebahagiaan dengan adik sepupu mereka itu.


“Terima kasih,” ucap Lusy


“Terakhir kali bertemu saat kita makan malam, apa kamu baik-baik saja hari itu?” tanya Lusy karena ingat saat itu Sandra sakit dan malah dibully bibi suami mereka.


“Sebenarnya malam itu aku baik-baik saja, hanya karena sedang hamil muda, jadi kondisi tubuhku tidak stabil,” jawab Sandra yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Lusy terkejut tapi juga bahagia, hingga kemudian mengucapkan selamat kepada Sandra.


“Semoga kamu juga cepat nyusul,” kata Sandra ke Lusy.


“Nyusul apa?” tanya Lusy yang tidak bisa menangkap maksud ucapan Sandra.

__ADS_1


“Nyusul hamil, biar nanti kalau anak kita lahir bisa tumbuh bersama-sama,” jawab Sandra.


Senyum Lusy sejenak pudar, tapi sedetik kemudian mencoba tersenyum kembali.


“Iya semoga,” ucap Lusy pada akhirnya.


Farzan berbincang dengan Zayn, hingga Zayn mendengar percakapan Sandra dan Lusy tentang hamil. Dia pun melirik sang istri, melihat jika Lusy tampak kurang nyaman saat bicara tentang hamil.


Farah sangat senang karena acara pernikahan Zayn dan Lusy berjalan dengan baik. Untung saja kakak dan saudara-saudaranya tidak membuat masalah, meski mereka hadir di sana. Farah juga tidak bisa mencegah mereka untuk tidak datang, bukankah akan tidak sopan jika menolak saudaranya hadir di sana.


“Ternyata menantumu dari Paris, hebat sekali,” puji teman Farah saat menyapa.


“Iya, Zayn itu pinter milih istri. Meski dari luar negeri, tapi Lusy ini sangat sopan dan ramah.” Tentu saja Farah memuji Lusy.


“Aku tidak melihat orangtuanya,” kata teman Farah.


“Dia ini sudah yatim piatu, selama ini bekerja sebagai asisten desainer di Paris,” ujar Farah menjelaskan.


Semua teman Farah pun membentuk huruf O mendengar penjelasan wanita itu.


“Tante.”

__ADS_1


Farah terkejut saat mendengar ada yang memanggilnya, hingga menoleh dan syok melihat siapa yang datang.


“Untuk apa dia datang ke sini,” gumam Farah dalam hati.


__ADS_2