
“Kebetulan kamu sudah pulang.” Lusy terlihat senang melihat Zayn yang baru saja masuk ke ruangannya.
“Aku punya kabar baik,” ucap Zayn bersamaan dengan Lusy bicara.
“Kabar baik apa?” tanya Lusy penasaran.
Zayn mengulas senyum, lantas mendekat dan menggenggam kedua tangan Lusy.
“Aku sudah dapat pekerjaan,” jawab Zayn dengan senyum yang terus merekah di wajah.
“Benarkah?” Lusy terlihat begitu senang tapi juga masih belum percaya jika akhirnya Zayn mendapatkan pekerjaan.
“Aku jadi waiters di kafe temanku, di sana sedang membutuhkan tambahan karyawan, jadinya aku ditawari masuk,” ujar Zayn menceritakan dengan wajah berseri-seri.
Lusy begitu lega mengetahui Zayn sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, jangan sampai suaminya kembali kerja berat menjadi kuli panggul.
“Akhirnya, aku senang kamu dapat pekerjaan baru,” ucap Lusy sambil menatap lekat wajah suaminya.
Zayn bahagia karena memiliki Lusy yang terus memberi semangat dan mendukung dirinya. Dia lantas mendekatkan wajah dan mengecup kening istrinya itu.
“Tadi kamu mau bicara apa?” tanya Zayn.
__ADS_1
“Oh … Joya mau melahirkan, aku diminta jemput Cheryl di apartemen waktu jam pengasuhnya habis,” jawab Lusy.
“Baiklah, nanti kita ke sana jemput Cheryl.”
**
Farah baru saja menemui Zahra, wanita itu hanya sekadar berbincang dan menanyakan kegiatan Zahra. Tidak ada pembahasan tentang keinginan agar putrinya pulang ke rumah.
Farah termenung di mobil yang kini melaju menuju rumah, dia terbiasa diantar oleh sopir jika bepergian.
Farah memandang jalanan yang dilewati, hingga ponsel berdering dan nama Meghan terpampang di sana. Wanita itu hanya memandangnya, tapi kemudian memilih mengabaikan dan memasukkan ponsel ke tas.
“Dia benar-benar tidak punya muka,” gumam Farah.
Di sisi lain. Meghan keheranan karena Farah tidak menjawab panggilannya, bahkan saat dia mengirim pesan pun hanya dijawab alakadarnya.
“Apa ada masalah?” Meghan bertanya-tanya. Dia berdiri di kamarnya, memandang keluar jendela dan menatap ke halaman belakang yang terdapat taman kecil di sana.
**
Zahra mampir ke minimarket setelah bertemu Farah. Dia berbelanja untuk membantu kebutuhan rumah keluarga kakaknya. Gadis itu sedang memilih sabun dan yang lainnya, hingga saat dirinya sedang mengamati barang yang akan dibeli, keranjang yang pegangnya menyenggol seseorang.
__ADS_1
“Ma ….” Zahra ingin meminta maaf, tapi urung saat melihat siapa yang berdiri menatap dirinya.
Wajah Zahra berubah masam, hingga gadis itu buru-buru memutar badan untuk pergi.
“Za, tunggu!” Julian menahan lengan Zahra agar tidak menghindar darinya.
“Apaan, sih? Lepas!” Zahra mencoba menepis tangan Julian.
Julian melepas lengan Zahra karena dilihat beberapa pengunjung yang ada di minimarket itu, kemudian memandang Zahra yang tampak kesal bertemu dengannya.
“Za, kamu beneran masih marah sama aku?” tanya Julian mencoba bicara dengan lembut kepada Zahra.
“Aku ga mau bahas itu lagi!” Zahra masih marah karena kelakuan Julian yang hendak memberinya obat.
“Za, aku minta maaf. Aku beneran khilaf.” Julian mencoba menghentikan Zahra pergi.
Zahra tersenyum getir, bisa-bisanya Julian berkata jika khilaf. Dia kembali memandang Julian, sebelum kemudian berkata, “Itu bukan khilaf, itu kesengajaan! Jangan pernah menemuiku lagi!”
Zahra buru-buru menghindar dari Julian karena tidak mau berurusan dengan pria itu lagi. Cukup dia mengikuti ucapan kakaknya agar selamat dari manusia seperti Julian yang dulu sangat dipercayainya.
Julian mengepalkan telapak tangan karena Zahra mengabaikan dirinya, ditatapnya punggung Zahra yang pergi berjalan menuju meja kasir.
__ADS_1
“Suatu saat aku pasti mendapatkanmu, Za!”