Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Pilihan terbaik


__ADS_3

Lusy terlihat salah tingkah, hingga berdeham dan mengalihkan tatapan karena gugup.


“Pasti yang diceritakan hanya hal baik, Joya tidak bercerita jika aku pernah ingin membunuh Cheryl saat dalam kandungan?” Lusy tersenyum masam saat mengingat kejadian di mana dirinya begitu bodoh saat itu.


“Dia cerita semuanya, tanpa terkecuali. Bukan hanya hal baik saja, tapi semua hal buruk tentangmu pun diceritakan olehnya,” ujar Zayn masih memandang Lusy.


Lusy kembali menatap pemuda di hadapannya itu karena terkejut, sebab Zayn ternyata tahu banyak hal tentangnya. Ada rasa penasaran yang singgah di dada, kenapa pemuda itu harus mengetahui semua tentangnya.


“Tampaknya kamu sangat antusias ingin tahu tentang kehidupanku,” seloroh Lusy di akhiri tawa kecil.


“Ya, aku sangat antusias ingin tahu tentang kehidupanmu, entah itu saat di masa lalu, masa sekarang, atau masa mendatang,” balas Zayn dengan memasang wajah serius, bahkan tidak ada ekspresi yang memperlihatkan jika ucapannya hanya sebuah candaan semata.


Lusy langsung berhenti tertawa mendengar ucapan Zayn, ditatapnya pemuda yang dua tahun lebih tua darinya itu. Pertanyaan demi pertanyaan pun akhirnya kembali berputar di kepala.

__ADS_1


“Kenapa? Kita saja baru saling mengenal?” tanya Lusy merasa aneh, meski sebenarnya bisa menangkap maksud dari sikap dan cara bicara Zayn kepadanya.


Zayn menarik napas panjang kemudian mengembuskan perlahan, mungkin dirinya harus lebih berani mengungkap perasaannya. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Zayn tidak ingin jika orang yang dicintainya diambil pria lain lagi. Cukup dua kali Zayn merasakan bagaimana gagal akibat lambannya dia dalam bertindak, kini tidak ada kata ke tiga atau dia akan menjadi pemegang rekor pria paling lamban sedunia dalam mengutarakan isi hati ke wanita.


“Karena aku jatuh cinta kepadamu, pada pandangan pertama. Mungkin ini terlalu aneh bagimu, tapi jika boleh jujur, kedatanganku ke sini pun karena aku ingin sekali dekat dan mengenalmu lebih jauh.”


Lusy terkesiap hingga tidak bisa berkata-kata. Bahkan semakin salah tingkah karena ucapan Zayn yang dianggapnya hanya bercanda. Lusy tidak percaya jika Zayn berkata jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama.


“Jangan konyol,” sangkal Lusy karena merasa Zayn mengada-ada.


“Aku serius, Lu.” Zayn mencoba meyakinkan wanita itu jika dirinya tidak main-main.


Lusy tidak tahu seserius apa Zayn saat sudah menyukai seseorang. Bahkan patah hati saja bisa membuat Zayn hampir gila hingga mengalami kecelakaan.

__ADS_1


“Aku tahu kamu serius, tapi kamu tahu betul siapa aku. Bagaimana bisa kamu menyukai wanita buruk sepertiku?” tanya Lusy yang tak bisa mempercayai jika cinta Zayn benar adanya.


“Ada apa denganmu? Apa karena statusmu sebagai single mom serta mantan narapidana, lantas membuatmu terlihat buruk? Semua orang memiliki masa lalu masing-masing entah itu buruk atau tidak. Namun, bagiku itu tidak masalah karena pada kenyataannya aku benar-benar menyukaimu. Jika aku tidak serius dengan yang aku rasakan, aku takkan sampai mendatangimu ke sini,” ujar Zayn kembali meyakinkan. Dia mencoba berani meski jantungnya berdegup cepat karena takut Lusy akan menolaknya.


Lusy terdiam beberapa saat, mencerna apa yang terjadi, serta menilai keseriusan pada diri pemuda di hadapannya.


“Statusku tidak masalah untukmu, tapi bagiku ini menjadi masalah, Zayn. Aku tidak bisa menerima statusku, aku selalu berpikir jika semua orang pasti akan menganggap buruk. Aku tidak pernah percaya jika ada pria yang akan mencintaiku, termasuk dirimu. Masih banyak wanita di luar sana yang baik dengan status yang baik pula. Jangan membuatmu terjebak dalam cinta yang salah, yaitu cinta yang kamu harapkan untukku, karena jelas jika aku tidak pantas menerimanya,” ujar Lusy panjang lebar.


Lusy hanya takut jika Zayn menyukainya sesaat saja, kekhawatiran akan ketakutan ditinggal masih terus menghantui Lusy. Ingatan akan Max yang membuangnya begitu saja, masih melekat jelas diingatan. Satu kalimat pengakuan jika dirinya ternyata hanya seorang selingkuhan, membuat hati Lusy hancur kala itu. Dirinya sudah membangun dinding untuk membentengi diri selama tiga tahun lamanya, tak ingin masa lalu terulang, di mana dirinya dicintai tapi pada akhirnya dibuang begitu saja.


Zayn melihat keraguan di mata Lusy, tapi kemudian ingat ucapan Joya tentang Lusy yang mengalami trauma karena pria. Bagaimana wanita itu dibuang begitu saja setelah dimanfaatkan. Hal ini membuat Zayn harus memakluminya, serta mencoba bersabar dan terus meyakinkan jika dirinya berbeda.


“Tidak ada yang bisa menilai pantas atau tidak, aku menyukaimu karena memilihmu, bukan karena menilai kamu layak atau tidak. Aku tidak bisa berkata manis, atau membujukmu dengan beribu kata rayuan. Hanya saja satu yang aku yakini, aku menyukaimu karena hatiku benar-benar tertarik kepadamu,” ujar Zayn sambil menatap hangat Lusy.

__ADS_1


Lusy terdiam sambil memandang Zayn, pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan keraguan sama sekali.


“Aku tidak memintamu menerimaku sekarang, aku tahu kamu butuh waktu untuk berpikir. Aku hanya ingin kamu tahu, jika masih ada orang yang mau menerima masa lalumu, seburuk apa pun itu. Seperti Joya yang percaya jika kamu adalah wanita baik, begitu pula denganku jika sangat yakin kalau kamu adalah pilihan terbaik untukku.”


__ADS_2