
Indah sinar mentari di pagi hari mulai menyapa, tipis-tipis sinarnya menyelinap masuk melalui ventilasi udara, menggoda dua insan yang masih terlelap dalam buaian mimpi.
Lusy mengerutkan kelopak mata, kepala terasa berat dan mata pun seolah enggan terbuka. Dia merasa tubuhnya berat, seperti ada yang menahan hingga dirinya susah untuk bergerak. Lusy berusaha membuka kelopak mata perlahan, menyadarkan diri dari lelapnya setelah merasakan tubuh yang begitu lelah. Hingga samar-samar dia melihat wajah yang berada tepat di hadapannya. Mimpi, itulah yang ada di dalam pikiran Lusy karena belum tersadar sepenuhnya.
Hingga tiba-tiba Lusy membuka kelopak mata dengan cepat, baru menyadari jika wajah yang ada di hadapannya bukanlah sebuah mimpi, itu adalah nyata. Lusy melihat Zayn yang masih memejamkan mata, terlihat begitu damai dan tenang.
“Apa yang terjadi?” Lusy bertanya-tanya dalam hati.
Hingga dia menyadari jika tubuhnya dalam kondisi polos. Lusy langsung membungkam mulut karena hampir berteriak.
Di saat Lusy panik, Zayn bangun dan melihat Lusy yang terlihat menutup permukaan bibir.
“Kamu sudah bangun.” Zayn tersenyum hangat, bahkan menyingkirkan helaian rambut Lusy dari wajah karena sedikit berantakan.
Lusy merasa jantungnya berdegup dengan cepat, tapi dia berusaha tenang dan menstabilkan desiran aliran darah yang dipompa begitu cepat.
__ADS_1
“Zayn, apa yang terjadi?” tanya Lusy yang tidak mengingat kejadian semalam.
Zayn sudah menduga jika Lusy pasti tidak ingat. Dia cemas jika kejadian semalam kembali menorehkan trauma untuk Lusy.
“Maaf, bukannya aku ingin memanfaatkan. Hanya saja aku benar-benar terpaksa karena kondisimu,” ucap Zayn yang tidak langsung jujur.
Lusy terdiam, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam. Tidur dengan seorang pria bukan pertama kali dilakukan, tapi kali ini berbeda karena Lusy sudah berjanji akan mengubah hidupnya, agar masa lalu yang buruk tidak terulang lagi.
“Semalam ada yang berniat jahat kepadamu, Lu. Seseorang mencampur obat ke minumanmu,” ucap Zayn lagi karena Lusy hanya diam.
“Lu, kamu marah kepadaku?” tanya Zayn yang takut jika Lusy menyalahkan dirinya dan menganggap jika dia hanya memanfaatkan.
Lusy menggelengkan kepala, dia tidak marah karena Lusy tidak kehilangan apa pun, tapi hanya merasa malu karena di hubungan asmara mereka yang baru saja dimulai, kenapa harus ada kejadian seperti ini.
“Aku akan bangun dan membuat sarapan,” ucap Lusy kemudian untuk menutupi rasa malu dan canggungnya.
__ADS_1
Zayn mengangguk, memalingkan wajah saat Lusy membalut tubuh dengan selimut dan berjalan ke kamar mandi.
“Jangan salah sangka kepadaku, Lu.” Zayn menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup.
**
Zayn membersihkan diri setelah Lusy selesai dan keluar dari kamar. Dia mengenakan kembali pakaian semalam, karena tentunya tidak memiliki pakaian ganti.
Zayn keluar dari kamar, mencari keberadaan Lusy dan ternyata masih di dapur.
Dia hendak menyapa wanita itu, hingga memperhatikan apa yang sedang dilakukan Lusy.
Lusy terdiam menatap sebutir pil di tangannya. Dia sempat keluar dan membeli obat pencegah kehamilan karena sejujurnya dia takut. Lusy takut jika sampai dia hamil, belum lagi soal Zayn yang dijodohkan dan hendak menikah, membuat Lusy sebenarnya sedang frustasi. Lusy takut jika sampai hamil ketika Zayn meninggalkannya, lalu bagaimana lagi dia bisa menjalani hidupnya. Haruskah rasa malu terus mengiringi langkah yang dijalani.
Lusy siap memasukkan pil itu ke mulut, hingga Zayn langsung mencekal pergelangan tangan Lusy.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan? Obat apa ini?”