Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Menikah


__ADS_3

“Mas Zayn.”


Vira langsung menghampiri Zayn yang baru saja datang. Gadis itu membawa kantung berisi es, kemudian menoleh ke pintu ruangan Lusy.


Zayn memandang Vira yang terlihat cemas, kemudian ikut menoleh ke ruang kerja Lusy.


“Ada apa?” tanya Zayn penasaran.


“Kasihan Mbak Lusy, Mas,” jawab Vira.


“Ada apa?” tanya Zayn semakin penasaran, dalam hati menebak jika terjadi sesuatu.


“Ibunya Mas Zayn datang, lalu memukul bahkan menyeret Mbak Lusy keluar. Ibunya Mas Zayn memaki dan menghina Mbak Lusy di depan banyak orang.”


“Apa?”


Zayn sangat terkejut, lantas berlari ke ruangan Lusy untuk melihat kondisi kekasihnya itu.


“Lu.” Zayn langsung memanggil nama Lusy begitu melihat wanita itu hanya duduk diam.


Lusy menoleh, terlihat jelas bola matanya berkaca dan seperti ingin menangis tapi ditahan.


Zayn buru-buru mendekat, kemudian berlutut di hadapan Lusy. Dia menggenggam erat telapak tangan Lusy yang berada di pangkuan.


“Mama mendatangi dan memukulmu?” tanya Zayn sambil menatam dua bola mata Lusy.


Lusy tidak menjawab, menebak jika Zayn pasti tahu dari Vira. Dia mengulum bibir, air mata yang membendung di pelupuk mata tidak lagi bisa ditahan. Perlahan bulir kristal bening itu luruh dari kelopak mata.

__ADS_1


Zayn terkejut Lusy menangis, hingga menegakkan badan lantas memeluk Lusy.


Lusy menumpahkan rasa sedih dan sakitnya dalam pelukan Zayn. Sejak tadi dirinya mencoba terus menahan agar tidak menangis, tapi semua itu sia-sia.


“Aku sudah bilang jika aku tidak pantas, Zayn. Kenapa kamu masih memilihku!” Lusy bicara sambil mencengkram erat kemeja Zayn, menumpahkan semua rasa sedih yang menekan sesak di dada.


“Biarlah orang menganggapmu tidak pantas, Lu. Tapi bagiku kamu terbaik, tidak ada orang yang sempurna, begitu juga denganku. Meski orang lain tidak menerima masa lalumu, tapi aku menerimamu apa adanya. Maaf jika kamu harus terluka karenaku,” ucap Zayn penuh penyesalan.


Lusy masih menangis, meratapi nasib yang tidak pernah berpihak kepadanya. Dia hanya ingin ketenangan, tapi kenapa masalah selalu mengusik dan seolah tidak mau pergi dari hidupnya.


“Lusy, mari menikah sekarang? Aku sudah meminta Kenzo untuk membantu mengurus di kedutaan besar, tapi bisakah kita menikah secara agama? Aku tidak ingin menunda, tidak ingin jika ada yang menghina, atau bahkan memisahkan kita dengan berbagai alasan. Aku menerimamu apa adanya, begitu juga denganmu yang menerimaku apa adanya. Aku bersyukur memilikimu, Lu.”


Lusy terdiam mendengar ucapan Zayn, menerima lamaran pemuda itu, mungkinkah masalah dan cobaan hidupnya akan semakin panjang. Namun, jika dirinya menolak, bagaimana dengan pengorbanan Zayn untuknya.


Lusy bangun dari pelukan Zayn, ditatapnya wajah pria itu yang terlihat serius menatapnya.


“Kutanyakan ini sekali lagi, Zayn. Apa kamu tidak menyesal menikah denganku? Kamu tahu jika aku ini buruk, masa laluku kelam, ada sebuah label yang tidak bisa aku hilangkan dari diriku,” ucap Lusy mencoba memastikan sebelum dirinya melangkah lebih lanjut.


Lusy tersentuh mendengar ucapan Zayn, awalnya dia sempat ingin kabur dari tempat itu, pergi untuk pulang ke kampung halamannya yang bisa menerimanya apa adanya. Namun, saat Zayn meyakinkan hati untuk tinggal bersama, membuat Lusy membuang jauh pemikiran untuk meninggalkan pria itu.


Zayn mampu keluar dari semua kemewahan yang dimiliki untuk bisa hidup bersamanya, lantas bagaimana bisa Lusy berniat meninggalkan pria itu setelah semua usaha yang dilakukan Zayn.


Sore itu, Zayn mengajak Lusy menemui Kenzo dan Joya, mengutarakan maksud hingga membuat sepasang suami-istri itu sangat terkejut.


“Apa kalian yakin?” tanya Joya memastikan.


Zayn mengangguk sedangkan Lusy diam sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


Kenzo sendiri tidak terlalu terkejut karena Zayn sudah berkata jika akan menikahi Lusy.


“Kamu tidak menunggu proses di kedutaan selesai dulu?” tanya Kenzo kemudian.


“Aku tidak bisa menunggu, Ken. Mama tidak merestui hubunganku dengan Lusy, dia pasti akan terus mengganggunya jika hubungan kami tanpa status yang kuat,” jawab Zayn sambil menggenggam erat telapak tangan Lusy.


“Aku sudah sangat yakin dengan keputusan yang kubuat, aku mohon bantu kami,” ucap Zayn lagi.


Kenzo dan Joya saling tatap, sebelum kemudian mereka menatap sepasang kekasih yang kini duduk berhadapan dengan mereka.


“Baiklah, tentu kami akan membantu.”


Menikah secara hukum, memang tidak akan semudah yang dipikirkan. Zayn dan Lusy harus mengurus banyak hal karena perbedaan kewarganegaraan. Namun, Zayn pun tidak putus asa karena dia dan Lusy masih bisa menikah secara agama yang mereka yakini.


Hari itu, tanpa pesta dan dihadiri orangtua. Zayn mantap menikahi Lusy di depan saksi dan orang yang menikahkan mereka. Dia memiliki wanita itu, selagi menunggu proses hukum untuk pernikahan mereka selesai diurus.


“Berbahagialah, Lu. Aku sangat yakin jika Zayn akan bertanggung jawab kepadamu,” ucap Joya sambil memeluk Lusy yang kini sah secara agama menjadi istri Zayn.


“Terima kasih, Joy.” Lusy sendiri bingung, sedih, haru, bahagia kini bercampur aduk di dada.


Kenzo sendiri bicara dengan Zayn, memberikan temannya itu kabar buruk juga baik secara bersamaan.


“Perusahaan Papa juga sedang tidak melakukan penambahan, Zayn. Maaf.” Kenzo benar-benar menyesal tidak bisa memberikan pekerjaan kepada temannya itu.


“Tidak apa-apa, Ken. Aku akan mencoba melamar ke perusahaan lain,” ujar Zayn yang tidak berputus asa.


Kenzo kasihan, tapi dirinya juga tidak bisa memecat sembarang karyawan hanya untuk memasukkan Zayn, bukankah itu tidak akan adil untuk yang lain.

__ADS_1


“Untuk pengajuan pernikahanmu di pemerintah, sudah selesai dimasukkan. Kamu hanya tinggal menunggu proses berjalan hingga selesai,” ujar Kenzo lagi kini memberitahu kabar baik.


Zayn sekali lagi mengucapkan terima kasih, hingga menoleh Lusy yang sedang bicara dengan Joya, melihat wanita yang kini menjadi istrinya itu menangis. Entah apa yang ditangisi, rasa bahagiakah, ataukah rasa sedih atas semua yang menimpa wanita itu hari ini.


__ADS_2