Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Jatuh cinta pada pandangan pertama


__ADS_3

Zayn dan Meghan sudah selesai menghadiri acara fashion show. Keduanya tampak keluar dari sebuah ballroom hotel dan kini berjalan menuju parkiran.


“Mau lanjut pesta?” tanya Meghan sebelum Zayn pergi ke mobilnya.


Zayn berhenti melangkah, kemudian tersenyum tipis ke wanita yang bersamanya.


“Sepertinya tidak, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” tolak Zayn halus, karena sebenarnya itu hanya alasan dia saja agar tidak pergi.


“Ah … Anda ini ternyata pria yang gila kerja. Pergi menghadiri acara ini pun, Anda juga membawa pekerjaan?” Meghan tampak terkagum-kagum dengan Zayn.


“Aku selalu membawa pekerjaanku ke mana pun aku pergi,” balas Zayn.


“Wah, Anda sangat perhatian ke pekerjaan. Wanita yang jadi istri Anda, pasti akan merasakan diduakan karena pekerjaan, hm?” Meghan melontarkan candaan untuk menggoda Zayn.


Zayn tersenyum tipis, sebelum kemudian membalas, “Kalau begitu aku akan mencari istri yang bisa menerimaku apa adanya, serta tidak mempermasalahkan pekerjaanku. Apalagi yang mudah cemburu.”


Meghan tertawa kecil, memandang Zayn yang tampak menarik untuknya.


“Sudah malam, Nona Meghan. Saya permisi.” Zayn berpamitan kemudian berjalan menuju mobil miliknya.


“Pak Zayn, apa aku boleh mendaftar sebagai calon istrimu?” Meghan berteriak, tapi entah didengar oleh Zayn atau tidak.


Wanita itu memandang ke arah mobil Zayn yang meninggalkan parkiran, hingga kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Pria menarik.”


Zayn tentu saja mendengar yang diteriakan Meghan, tapi sayangnya pria itu memilih tidak acuh. Dia tidak akan pernah melirik atau peduli dengan wanita yang tidak bisa menggetarkan hatinya. Dia hanya peduli dengan orang-orang yang mampu membuatnya tersenyum.


**


Setelah beberapa hari berada di Singapore, akhirnya Zayn pun memutuskan untuk pulang, meski sebenarnya pekerjaannya sudah selesai sejak dua hari lalu.


Di Bandara Singapore. Zayn tampak berjalan dengan menentang tas kerja dan jas di tangan kiri, sedangkan tangan kanan tampak memegang ponsel. Dia berjalan sambil terfokus pada ponsel yang ada di tangan.


“Aku tidak bisa hadir di pernikahan Kenzo, sekarang juga masih belum bisa bertemu mereka,” gumam Zayn yang saat itu sedang berjalan untuk menuju gerbang keberangkatan pesawat.

__ADS_1


“Hadiah apa yang seharusnya kuberikan pada mereka? Aku belum memberikan apa pun pada mereka.” Pemuda itu terus bicara sendiri sambil berjalan.


Hingga Zayn tanpa sengaja menyenggol lengan seorang wanita, membuat ponselnya juga ponsel wanita itu terjatuh.


“Oh … maaf,” ucap Zayn cepat seraya mengambil ponsel miliknya dan wanita itu.


“No problem,” balas wanita itu menggunakan bahasa Inggris.


Zayn berdiri dengan tegap begitu telah mengambil ponsel di lantai, hingga saat mengulurkan ponsel ke wanita yang disenggolnya, Zayn termangu menatap wanita itu.


Zayn melihat wanita muda berumur lebih muda darinya, memiliki wajah tirus dan rambut ikal berwarna pirang kecoklatan, matanya biru seperti lautan yang begitu indah, membuat pemuda itu sampai terpesona.


“Ponselku, terima kasih,” ucap wanita itu menggunakan bahasa Inggris, sebelum kemudian mengambil ponsel dari tangan Zayn.


Zayn tersadar dari lamunan, sebelum kemudian membalas ucapan wanita itu. “Sama-sama.”


“Apa kamu turis?” tanya Zayn tiba-tiba, tak mengenal tapi berani bertanya. Pemuda itu menggunakan bahasa Inggris untuk bicara dengan wanita itu.


Wanita itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan Zayn, sebelum kemudian terlihat gelapan sedikit canggung.


Wanita itu mengangguk tanda berpamitan, lantas berjalan meninggalkan Zayn begitu saja. Wanita itu berjalan sambil menekan ponselnya, sebelum kemudian memasukkan ke saku celana.


Zayn masih menatap wanita itu, bahkan menatap tanpa berkedip. Mungkinkah pemuda itu jatuh cinta pada pandangan pertama, setelah sebelumnya tak bisa move on dari Joya selama bertahun-tahun.


“Ah … apa yang aku pikirkan?”


**


Zayn sudah masuk ke pesawat karena tidak ingin ketinggalan penerbangan. Dia sudah mendapatkan kursinya, tapi sayang tidak bisa di dekat jendela. Pemuda itu memasukkan tas ke bagasi, kemudian duduk dengan nyaman sambil menunggu pesawat lepas landas.


Wanita yang tadi ditabrak Zayn, tampak berjalan sambil mencari nomor kursi yang disediakan pihak maskapai sebagai ganti atas penerbangan yang tertunda. Ia mengecek nomor kursi, hingga akhirnya menemukan tempat duduknya. Namun, wanita itu tampak terkejut ketika melihat siapa teman duduknya.


Zayn duduk sambil memandang ke arah luar, hingga menoleh saat ada bayangan di sampingnya. Pemuda itu sedikit mendongakkan kepala, hingga melihat siapa yang berdiri dengan wajah sedikit terkejut.

__ADS_1


“Hai, kita bertemu lagi!” sapa Zayn yang tampak begitu senang.


Wanita itu tak menanggapi sapaan Zayn, memilih membuka bagasi atas untuk memasukkan tasnya. Namun, karena tinggi badan wanita itu yang bisa dibilang tidak terlalu tinggi, membuatnya sedikit kesusahan saat akan memasukkan tas.


Zayn melihat wanita yang bisa membuatnya terkesima itu kesusahan. Ia lantas berdiri dan membantu wanita itu memasukkan tas ke bagasi.


“Biar aku bantu,” ucap Zayn, mengambil tas dari tangan wanita itu meski belum mendapat persetujuan, lantas memasukkan ke bagasi.


“Terima kasih,” balas wanita itu tanpa sengaja bicara menggunakan bahasa Indonesia meski belum terlalu fasih.


Zayn terkejut mendengar wanita itu bicara bahasa Indonesia, awalnya mengira jika wanita itu hanya bicara menggunakan bahasa Inggris.


“Ternyata kamu bisa berbahasa Indonesia?” tanya Zayn sedikit kagum.


“Sedikit,” jawab wanita itu singkat dengan ekspresi wajah datar, lantas memilih langsung duduk ke kursinya.


Zayn ikut duduk, tapi perhatian pemuda itu terus tertuju ke wanita yang baru ditemuinya.


“Kamu akan ke Jakarta?” tanya Zayn seolah tak lelah bertanya meski wanita itu menjawab dengan singkat dan tampak tak acuh.


“Ya,” jawab sang wanita singkat.


Zayn mengangguk-angguk, memutar bola mata seolah sedang mencari topik agar bisa mengobrol dengan wanita di sebelahnya itu.


“Jadi tujuan sama dan kita bertemu untuk kedua kalinya tanpa disengaja. Bolehkan aku tahu namamu? Aku Zayn.” Zayn memperkenalkan diri, hendak mencari tahu nama wanita yang sempat membuatnya terkesima.


Wanita itu menatap tangan Zayn yang terulur padanya, sebelum kemudian mengatupkan bibir dan terlihat ragu untuk membalas jabat tangan pemuda itu.


“Maaf, saya tidak biasa berkenalan dengan orang asing. Pertemuan kita pun tak disengaja karena kita berada di tujuan yang sama, jadi maaf jika saya tidak bisa menyebutkan nama begitu saja,” tolak wanita itu halus.


Zayn langsung mengepalkan telapak tangan dan menarik dari wanita di sampingnya. Sepertinya mendekati wanita itu tidak mudah, jangankan alamat tinggal atau nomor ponsel, nama saja susah sekali didapatkan.


Wanita itu tampak memasang earphone di telinga, lantas menatap ke luar jendela dan menunggu pesawat itu lepas landas. Wanita itu sangat tak acuh dengan pria, entah ada apa atau ada masalah apa, membuat wanita itu memang tak ingin dekat atau mengenal pria yang baru saja ditemuinya, meski pria itu tampak baik.

__ADS_1


Zayn sendiri merasa sedikit kecewa, tapi tentu saja ia bukanlah pemuda yang mudah menyerah. Zayn selalu memiliki sebuah keyakinan, asal bisa bertemu lagi dalam waktu dan tempat yang berbeda, maka mungkin saja mereka masih ditakdirkan untuk saling mengenal.


__ADS_2