Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Standar kualitas


__ADS_3

“Biar aku bantu kompres.”


Zayn ingin membantu mengompres lebam di pipi Lusy, tapi wanita itu memilih untuk mengambil kain yang membungkus es batu dan menempelkan sendiri ke pipinya.


“Aku baik-baik saja, ini hanya sebuah tamparan kecil, kamu jangan begitu mencemaskanku,” ucap Lusy dengan senyum canggung di bibir.


Sejak Zayn mengatakan jika dia adalah wanitanya juga kekasihnya, entah kenapa membuat Lusy jadi salah tingkah.


Teman-teman Zayn berdiri tidak jauh dari tempat Zayn dan Lusy duduk. Mereka mengamati dua orang yang mengaku sebagai pasangan kekasih itu.


“Gue kira Zayn benar-benar memiliki kelainan karena tidak pernah tertarik dengan wanita sama sekali, ternyata gue salah,” ucap salah satu teman Zayn.


Sebuah pukulan mendarat di belakang kepala teman lain, gemas karena bisa-bisanya temannya itu beranggapan demikian.


“Mana mungkin Zayn seperti itu, jangan mengada-ada!”


Pemuda yang terkena pukul, lantas mengusap belakang kepala dan menoleh temannya dengan rasa kesal.


“Gue hanya menduga, karena selama ini Zayn tidak pernah melirik wanita mana pun. Bahkan banyaknya gadis cantik dan seksi di sini, tidak mampu memikatnya.”


“Mungkin Zayn memiliki standar kualitas wanita yang layak menjadi kekasihnya, jadi jangan berpikiran macam-macam lagi!”

__ADS_1


“Sepertinya standar kualitasnya adalah bule. Wanita dari luar negeri.”


Zayn terus menatap Lusy, membuat wanita itu semakin salah tingkah.


“Maaf, seharusnya aku tidak membawamu ke tempat seperti ini,” ucap Zayn penuh penyesalan.


Lusy berhenti menggerakkan tangan yang mengompres, hingga membuat kain yang membalut es batu itu menempel di pipi. Ditatapnya Zayn karena ucapan maaf pemuda itu.


“Kenapa kamu meminta maaf?” tanya Lusy.


Zayn mengulurkan tangan, meraih pergelangan tangan Lusy agar menurunkan kompres di pipi, terlalu lama mengompres akan membuat darah membeku.


Lusy terdiam sesaat, sebelum kemudian tersenyum dan berkata, “Aku pernah datang ke tempat yang lebih berbahaya dari ini. Bar, tempat-tempat orang dengan ucapan kasar, orang mabuk yang suka saling hantam saat tak sengaja bersenggolan. Hal ini bagiku hanya masalah sepele, Zayn.”


Zayn tidak mengalihkan tatapan dari Lusy, hingga dirinya tiba-tiba teringat akan permintaan Farah. Meski dirinya tidak akan langsung memperkenalkan Lusy ke keluarganya, setidaknya dia harus memiliki kejelasan hubungan dengan wanita itu.


“Lusy, mungkin aku terkesan terburu-buru. Tapi bolehkah kita memperjelas status di antara kita?” tanya Zayn dengan tatapan lembut.


Jantung Lusy berdegup dengan cepat mendengar pertanyaan Zayn, mereka dekat tapi memang belum ada status karena permintaan Lusy. Namun, melihat betapa seriusnya Zayn tadi saat menghajar pemuda yang menampar dirinya, kemudian menyebutnya kekasihnya, membuat Lusy harus mempertimbangkan permintaan pemuda itu.


“Apa kamu benar-benar sudah memikirkannya? Apa kamu juga tidak akan menyesal jika bersamaku?” tanya Lusy balik untuk memastikan. “Kamu tahu jika aku memiliki banyak kekurangan, Zayn. Sangat banyak, bahkan aku tidak akan setara denganmu,” imbuh Lusy.

__ADS_1


Zayn meraih telapak tangan Lusy, kemudian menggenggamnya erat.


“Aku benar-benar sudah sangat yakin dengan keputusanku. Aku tidak akan pernah menyesalinya sama sekali. Sejak melihatmu pertama kali, semenjak itu pula aku bertekad untuk bersamamu,” jawab Zayn mencoba meyakinkan Lusy jika dirinya tidak pernah main-main dengan keputusan yang dibuatnya.


Lusy terdiam sejenak menatap Zayn, melihat keseriusan dalam tatapan mata pemuda itu. Hingga akhirnya Lusy mengangguk, tanda jika dirinya setuju jika mereka memiliki status.


Zayn tidak percaya jika Lusy akan setuju, dirinya seperti anak SMA yang baru saja jatuh cinta dan mendapatkan balasan. Rasanya ada yang berbunga-bunga di dalam dada, bahkan terasa sesuatu menggelitik hatinya.


Zayn menggenggam kedua telapak tangan Lusy, seolah tidak tahu tempat kemudian mendekatkan punggung tangan Lusy dan mengecupnya lembut.


“Aku tidak akan pernah mengecewakanmu,” ucap Zayn meyakinkan jika dirinya serius dengan hubungan yang ingin dijalani bersama Lusy.


Lusy tersenyum malu, bahkan semburat merah terlihat di kedua pipinya. Dia mengangguk-angguk sebagai tanda percaya akan ucapan Zayn.


Teman-teman Zayn terkejut melihat sikap manis temannya yang biasanya kaku dan tak acuh dengan wanita.


“Wah, definisi dunia hanya milik berdua.”


“Hm … yang lain ngontrak, termasuk kita.”


“Dahlah, kita pergi saja. Lama-lama gue ngiri juga lihat Zayn bersikap manis ke wanita.”

__ADS_1


__ADS_2