
Semua akhirnya bisa dilewati bersama, Cheryl kini dibiarkan bersama Joya untuk bisa sedikit mengobati kesedihan wanita itu. Lusy terus berusaha membuat butik yang dikelolanya ramai, tidak ingin mengecewakan Joya yang sudah sangat memercayainya.
Zayn mulai menikmati pekerjaannya. Dia begitu rajin menjadi seorang waiters dan melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Tampan dan selalu tersenyum ramah, membuat beberapa pelanggan betah di kafe itu, terkadang juga para pelanggan itu datang berkali-kali hanya untuk bisa melihat senyum Zayn, mereka tentunya belum tahu kalau Zayn sudah ada yang memiliki.
“Apa ada yang kalian butuhkan lagi?” tanya Zayn saat mengantar minuman ke salah satu meja pelanggan.
“Satu senyummu saja, sudah cukup,” jawab seorang gadis sambil menatap lekat wajah tampan Zayn.
Zayn tersenyum menanggapi ucapan gadis itu, kemudian memilih permisi dan meninggalkan meja itu.
Sejak Zayn bekerja di sana, kafe itu tidak pernah sepi dengan pelanggan terutama wanita. Mereka hampir setiap hari datang, bahkan ada sampai datang dua hingga tiga kali dalam sehari.
__ADS_1
Suara lonceng yang terpasang di pintu terdengar, menandakan jika ada seorang pelanggan yang masuk ke kafe itu. Zayn menoleh untuk menyapa siapa yang datang, hingga dia tertegun saat melihat siapa yang datang.
**
“Silakan pesanannya, jika Anda butuh sesuatu, silakan panggil saya.” Zayn bicara dengan formal dan sopan setelah menyajikan pesanan di meja.
“Zayn, apa kamu akan terus bersikap seperti ini ke Mama?” Ternyata tamu itu adalah Farah, dia datang karena mendapatkan info kalau Zayn bekerja di sana. Dia rindu sehingga nekat mendatangi hanya untuk bisa melihat putranya itu.
Zayn sendiri enggan bicara karena tidak ingin berdebat dengan ibunya, tapi karena Farah datang sebagai pelanggan, membuatnya harus bersikap ramah dan sopan saat bicara ke wanita itu.
Zayn ingin pergi, tapi Farah menahan pergelangan tangannya. Tentu saja apa yang dilakukan Farah menarik perhatian pengunjung lain. Mereka bertanya-tanya kenapa Farah berani memegang tangan Zayn, hingga beberapa di antaranya berpikir kalau Zayn bisa saja simpanan wanita itu, atau wanita itu menyukai Zayn dan mengejar-ngejarnya.
__ADS_1
Zayn menghela napas kasar, hingga kemudian menarik kursi dan duduk di sana. Dia tidak ingin kalau dianggap buruk karena mengabaikan Farah.
“Mama sebenarnya mau bicara apa? Kenapa ke sini? Bukankah Mama sudah tidak peduli?”
Ucapan Zayn cukup menusuk di hati Farah, memang benar dia yang berkata tidak akan peduli dan kini dirinyalah yang mencari.
“Mama hanya ingin melihatmu, Zayn.” Farah mencoba bersikap lunak dan bicara dengan tenang.
“Mama sudah melihatku, jadi itu sudah cukup, ‘kan?” Zayn kini menatap Farah yang sejak tadi memandangnya.
Farah terkesiap mendengar ucapan Zayn, apakah putranya itu benar-benar membencinya sekarang karena hal yang telah dilakukannya. Namun, ego sudah terlanjur membuat hubungan antara anak dan ibu itu renggang, ego masing-masing membuat mereka seperti orang asing.
__ADS_1
“Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, aku harus kembali bekerja.” Tanpa izin sang mama, Zayn pun berdiri dan kembali ke meja barista untuk mengantarkan pesanan pelanggan lainnya.
Farah terus memperhatikan Zayn yang bekerja dan mengabaikan dirinya, rasa bersalah akan kehilangan putranya kini menghantui, tapi egonya juga masih menguasai untuk tidak menerima Lusy sebagai menantunya.