Pesona Mama Muda

Pesona Mama Muda
Apa aku selirmu?


__ADS_3

“Apa kamu bisa mengantarkan makan siang ke kantorku? Hari ini aku ingin makan berdua denganmu.”


Zayn menghubungi Lusy, baru saja sehari keduanya mulai bekerja ke tempat mereka masing-masing, pria itu sudah rindu dan ingin melihat sang istri.


Di butik, Lusy menengok jam dinding, lantas memandang kertas sketsanya yang belum selesai.


“Baiklah, satu jam lagi aku akan datang ke sana. Kirim alamat perusahaan,” ujar Lusy mengiakan keinginan suaminya.


Lusy mengakhiri panggilan itu, tersenyum karena Zayn sangat manja sampai makan siang pun minta dibelikan langsung. Dia memilih berdiri dari duduk, lantas mengambil tas dan menyematkan talinya di pundak.


“Vir, aku akan keluar sebentar. Apa kamu mau nitip sesuatu?” tanya Lusy ke Vira.


“Nggak Mbak, makan siang juga aku sudah bawa bekal,” jawab Vira dengan senyum lebarnya.


Lusy mengangguk paham, kemudian pergi meninggalkan butik untuk membeli makan sebelum ke perusahaan Zayn.


**


“Silakan tinggalkan makanannya di sini, nanti saya akan menghubungi bagian lantai Pak Zayn untuk mengambilnya.”


Lusy menatap tidak percaya resepsionis itu malah memintanya meninggalkan makanan itu di bagian resepsionis, padahal Lusy hanya bertanya di mana ruangan Zayn karena ingin mengantar makanan sesuai keinginan suaminya.


“Saya harus mengantarkannya langsung,” kata Lusy menolak meninggalkan makanan itu di sana.

__ADS_1


“Tapi peraturan perusahaan. Anda tidak bisa masuk tanpa membuat janji dengan direktur kami. Di sini saya lihat, Anda tidak membuat janji dan hanya ingin mengantar makanan. Jadi saya sarankan agar makanannya dititipkan saja,” ujar resepsionis itu seolah tidak memercayai Lusy, bahkan terkesan menghina karena penampilan Lusy yang bisa dianggap biasa saja.


Celana jeans, kaus polos, dan kemeja motif yang tidak dikancingkan, memperlihatkan jika Lusy seolah seperti seorang kurir makanan.


“Saya istrinya, apa tetap harus meminta izin untuk bertemu suamiku?” tanya Lusy yang sedikit geram karena resepsionis itu mempersulitnya.


“Dan saya ratunya,” ketus resepsionis itu, tidak percaya jika ada yang mengaku-ngaku sebagai istri Zayn.


Lusy melongo mendengar ucapan resepsionis itu, bahkan sampai membuang kasar napas dari mulut. Lusy mengeluarkan ponsel, lantas menghubungi suaminya.


“Zayn, sejak kapan kamu punya ratu?”


Pertanyaan Lusy membuat resepsionis semakin yakin jika Lusy hanya datang karena mengagumi Zayn, lantas mengada-ada mengaku sebagai istri. Tentu saja akan berpikir demikian, mengingat kalau tidak ada yang tahu soal pernikahan Zayn dan Lusy.


“Ratu bagaimana maksudmu?” tanya Zayn kebingungan.


Di lobi, Lusy kini menatap resepsionis yang mengulas senyum palsu.


“Aku sudah sampai di lobi, bertanya dan meminta izin untuk naik, tapi aku dicegah dan diminta meletakkan makanan yang aku bawa di bagian resepsionis. Bahkan saat aku mengaku sebagai istrimu, karyawanmu malah berkata kalau dia ratumu. Apa aku ini selirmu? Apa aku perlu menitipkannya ke resepsionis dan langsung kembali ke butik?” Lusy bicara sambil menatap karyawan suaminya itu.


“Siapa yang berani melarangmu? Tunggu!” Suara Zayn terdengar meninggi dari seberang panggilan.


Panggilan itu masih terhubung, hingga telepon kabel resepsionis berdering dan karyawan Zayn langsung menjawab.

__ADS_1


“Halo.”


Lusy masih terhubung dengan Zayn, hingga mendengar suaminya itu bicara tapi bukan kepadanya.


“Apa maksudmu melarang istriku pergi ke ruanganku?”


“Istri Anda?” Resepsionis itu terlihat bingung, hingga tatapan tertuju ke Lusy masih memegang ponsel yang menempel di telinga.


Lusy hanya tersenyum ditatap resepsionis itu, lantas sedikit menggoyangkan ponselnya di samping telinga, memberitahu kalau panggilan itu juga terhubung dengan Zayn.


“Wanita yang membawa makanan untukku, dia adalah istriku. Biarkan dia naik!” perintah Zayn.


“Ba-baik, Pak.” Resepsionis itu terlihat kalang kabut, meletakkan gagang telepon ke tempatnya, lantas tersenyum canggung ke Lusy.


“Lu, aku sudah bicara ke bagian resepsionis, kamu tinggal naik saja,” kata Zayn dari seberang panggilan.


“Baiklah.” Lusy mengakhiri panggilan itu.


“Anda bisa langsung naik,” ucap resepsionis itu dengan kikuk.


“Tidak perlu membuat janji?” tanya Lusy seolah meledek.


Resepsionis itu menggelengkan kepala, sedikit menunduk karena malu telah begitu angkuh saat bicara dengan Lusy.

__ADS_1


__ADS_2